Jumat, 17 Desember 2010

Konser Akbar OSUI Mahawaditra "Dekapan Asa Untuk Nusantara": The Show

This is us!
 
Baiklah, setelah sekian lama tertunda, akhirnya saya memutuskan untuk menulis! Menulis tentang hari H Konser DAUN Mahawaditra pada 27 November 2010 lalu.

Selasa, 30 November 2010

The Making of Konser Akbar OSUI Mahawaditra "Dekapan Asa Untuk Nusantara"

Yak, satu lagi persembahan dari Orkes Simfoni Universitas Indonesia Mahawaditra, yaitu Konser Akbar "Dekapan Asa Untuk Nusantara": Sebuah Konser Penghargaan bagi Pahlawan Tanah Air.

Seperti biasa, saya ingin menjabarkan sedikit (banyak) kisah di balik layarnya. Hahaha.

Ide konser ini tercetus (saya lupa) mungkin berbarengan dengan ide wind concert atau malah sesudah wind concert. Yang pasti, konser ini juga tak kalah gila daripada wind concert, karena kami diberi waktu hanya kurang dari tiga bulan, saudara-saudara! Dan, setelah dihitung-hitung, total komposisi yang akan kami bawakan juga lebih dari satu album kali kalau hitungannya album lagu: 16 repertoar. W-O-W.

Kami bertemu dengan sejumlah arranger, seperti mas Singgih Sanjaya dan mas Addie M.S. Kami berdiskusi dengan keduanya (tentunya di tempat dan waktu yang berbeda). Mas Singgih, ketika kami temui, menawarkan komposisinya yang berjudul Kidung Mahardika. Komposisi ini baru pernah dimainkan satu kali, itu pun oleh Twilite Orchestra, Ananda Sukarlan, dan di-conduct oleh mas Addie M.S. Kami berpikir, wow, kami akan menanggung tanggung jawab yang luar biasa sepertinya!

Awal-awal, kami latihan seperti biasa porsinya, hari Sabtu dan Minggu di BM Salemba. Kalau hari Sabtu, selama kira-kira 4 jam latihannya, mulai pukul 1 siang sampai 5 sore, kalau nanggung yaaa sampai magrib lah. Kalau Minggu, karena mulainya pukul 3 sore, jadi selesainya pas magrib, atau kalau mulainya molor (aduh malu-maluin banget) selesainya pukul 7 malam.

Pada masa awal kami diberi kira-kira sepuluh kali ya partitur, yaaaa yang aransemennya 'relatif mudah dibaca dan dimainkan' lah. Seperti Bengawan Solo-Jembatan Merah, Maju Tak Gentar, Indonesia Pusaka. Sedikit catatan, khusus Varia Ibukota part ini sebenarnya sudah diberikan sejak sebelum wind concert. Bahkan sebelum libur semester loh.

Yang menjadi kejutan saat itu adalah komposisi "Kidung Mahardika" aransemen Singgih Sanjaya. Tak diduga tak dinyana, kami yang pertama kali melihat partiturnya langsung berpikir, "Gilaaaa... ini komposisi susah bangeeeet..." dan jujur, ketika itu, beberapa minggu setelahnya, teman-teman saya sudah bisa menikmati permainan kidung mereka. Tapi saya tidak, karena saya masih merasa susah dan belum mendapat feelnya karena belum dimainkan secara bersamaan dengan piano solonya.

Ngomong-ngomong soal piano solo, awalnya bagian pianonya akan dimainkan oleh dua orang sesuai kesepakatan dari dua pianis Mahawaditra, Kak Reza dan Kak Shula. Namun akhirnya Kak Shula mengundurkan diri karena sepertinya Kak Shula belum bisa memainkannya, ditambah lagi mungkin repot kalau malah dimainkan oleh dua orang.

Belum selesai urusan dengan komposisi ajaib satu itu, datanglah komposisi dari mas Dhany, konduktor kami. Dengan judul "Senandung Sumatera", komposisi tersebut adalah medley dari lagu-lagu daerah Sumatera, seperti Tak Tontong, Piso Surit, dan lain-lain. Pikir saya, "Wuah! Ini sih lebih horor lagi daripada Kidung Mahardika!" Sumpah, demi apa pun, saya bilang lebih gampang main Kidung Mahardika daripada ini!!!

Latihan demi latihan kami jalani, tak lupa ke-hectic-an dengan urusan buku acara (saya adalah panitia bagian buku acara). Saya tahu tidak boleh menyalahkan keadaan, tapi nyatanya ya. Saya menyalahkan keadaan saya sebagai seorang pemain, disamping itu saya juga harus mengurusi buku acara konser, sehingga hasilnya mungkin kurang optimal. Seperti hal mengumpulkan materi buku, desain, dan lain-lain. Untungnya masalah satu itu: BERES.

Kembali ke curhat soal latihan. Fakta-fakta gila kami sebenarnya banyak, mungkin kalau kami bikin buku harian sejak kali pertama latihan, buku itu akan sudah habis sebelum konser dimulai. Dan fakta gila yang menurut saya paling gila adalah, ada satu komposisi dari Mas Dhany yang belum diberikan pada kami sampai H-7 konser. Dan dari judulnya, "Senandung Tiga Pulau", kami sudah bisa meramal bahwa komposisi itu tak akan jauh beda edannya dengan Senandung Sumatera. Kami jadi agak paranoid dengan kata "SENANDUNG", huahahaha.

Dan... ketika kami diberikan part repertoar terakhir itu, benar sajaaaa saudara-saudara. Su to the sah. LOL. Ajaib sekali komposisi medley lagu-lagu dari pulau Kalimantan, Sulawesi, dan Irian itu.

H-5, kami mulai intensif selama 5 hari. Senin-Jumat yang bagai apalah. Latihan dimulai pukul 7 malam karena pertimbangannya ada yang baru selesai kuliah pukul 5, dan ada yang sudah kerja baru pulang kerja. Pulang sampai di rumah dini hari terus, sampai-sampai dikira ngapain ini anak perempuan tiap hari pulangnya tengah malem :P Karena sudah tidak ada kereta ketika kami selesai latihan, kami menggunakan segala cara untuk pulang. Hari pertama kami menggunakan taksi. Dan itu mahal, hahaha. Kemudian hari kedua, kami sambung menyambung pakai angkot sampai omprengan. Wew, lumayan, 3 kali lebih murah daripada taksi. Hari ketiga, entah mulai gak tega atau kenapa, saya dijemput selepas latihan selesai. Hehehe. Love you muah muah my family...

Senandung Tiga Pulau. Lawan yang harus dijadikan kawan! Sampai hari terakhir latihan intensif pun kami masih belum bisa menyamakan ritmeeeeeeeenya, apalagi Yamko Rambe Yamko. Ketika itu Mas Dhany pun sudah menyerahkan semuanya pada kami, pasrah pada apa pun yang akan terjadi besok, jangan dibawa tegang, santai aja.

Dan kami, dengan segala kerempongan di H-1 Konser DAUN, pulang ke rumah masing-masing, istirahat yang cukup demi performa kami esok harinya. Bagi para panitia, sepertinya ada yang tidak pulang loh, apalagi yang anak baru 2010-nya, SALUT SAMA KALIAN!!! Graha Bhakti Budaya, here we come!!! :)

Rabu, 17 November 2010

H-10...

...Lumayan capek. Apalagi pas bangun tidur tadi, pas ngulet, beuuhhhhh ini betiiiisss kraaaaam. Gilaaak.

Tadi rasanya maleeees banget mau berangkat ke Salemba. Mager di depan laptop gitu sampe jam 12 lebih. Padahal katanya mau kumpul dulu jam 1 buat foto, yaudahlah yaaaa, fotonya kapan-kapan... hmmm

Latihan hari ini diawali oleh beberapa orang saja... Yaaah 10 ada kali. Lama kelamaan lumayan juga jumlahnya... Tapi masih belum mencapai target di H-10 ini. Bahkan MASIH ADA komposisi yang partiturnya belum diberikan, yaitu Senandung Tiga Pulau. Huaaaaaaaa!!!!

YES WE CAN!!! Bahkan tadi gw merasa bahwa gw mampu melakukan segalanya, seperti memainkan Berkibarlah Benderaku yang kemarin nggak bisa. Sebenarnya masalah kepercayaan diri! Percayalah bahwa kita bisa, maka kita akan bisa!!!

Dipikir-pikir, sebagaimana yang pernah gw jadikan status FB, "Keputusan untuk menggelar Konser Akbar ini cukup LUAR BIASA. Tapi karena kami LEBIH LUAR BIASA, maka konser kami akan Insya Allah SANGAT LUAR BIASA!"

#SEMANGATKONSERAKBAR

Iklan!

please kindly watch us :)




ORKES SIMFONI UNIVERSITAS INDONESIA PROUDLY PRESENTS:


KONSER AKBAR ORKES SIMFONI UI MAHAWADITRA

DEKAPAN ASA UNTUK NUSANTARA
SEBUAH KONSER PENGHARGAAN UNTUK PAHLAWAN TANAH AIR

Berkolaborasi dengan UKM PSM UI Paragita, Liga Tari Krida Budaya, Teater UI, Resimen Mahasiswa Wira Makara. Turut berpartisipasi dalam konser ini beberapa bintang tamu, Singgih Sanjaya sebagai guest conductor, Aning Katamsi sebagai guest soprano, Eric Awuy sebagai solo trumpetist, Pharel Silaban dari PSM UI Paragita sebagai guest tenor, Lana Nitibaskara sebagai solo vocalist, dan R. Leonard Reza Saputra dari OSUI Mahawaditra sebagai solo pianis.

SABTU, 27 NOVEMBER 2010
19.00-SELESAI

GRAHA BHAKTI BUDAYA
TAMAN ISMAIL MARZUKI

TICKET PRICE:
VVIP - IDR 200,000
VIP - IDR 150,000
DELUXE - IDR 100,000
REGULAR - IDR 75,000
BALCONY - IDR 50,000
SPESIAL UNTUK MAHASISWA UI* - IDR 35,000

*DENGAN MENUNJUKKAN KARTU TANDA MAHASISWA KETIKA PEMBELIAN TIKET

PEMBELIAN TIKET:
HOTLINE MAHAWADITRA - 085691709047

Selasa, 16 November 2010

H-11...

...bau kambing. Haha, mari kesampingkan dulu perkara Idul Adha yang tidak kompak jatuhnya.

Hari ini adalah H-11 Konser Akbar Mahawaditra. Gw yakin kami sebenarnya punya potensi yang sangat besar, hanya saja kami belum mampu menjebol tembok halangan dalam diri kami masing-masing!

Pagi ini gw terbangun dengan kenyataan bahwa gw akan berada di luar rumah selama 14 jam ++. Pegawai kantoran aja kalah. Rinciannya:

08.00-9.40 Etika dan Hukum Kesehatan
11.00-13.30 Epidemiologi
15.00-19.00 Sistem Pelayanan Kesehatan Indonesia
19.00-22.00 Latihan konser akbar di Salemba

Buat yang mata kuliah terakhir ini, edaaaaan. Ngerapel 3 sesi, makanya jadi 4 jam. Untung sampe jam 18.15 doang! Jadi nggak telat-telat amat ke Salemba. Secara kebetulan, ada barengan berangkat dari stasiun Pondok Cina, yaitu anak Paragita yang mau latihan juga. Asyik, ada temen. Hehehe.

Dan hari ini gw super senang, karena untuk pertama kalinya gw bisa latihan nggak sendiri! Ayeeeeaaayyy~~~ Gw punya partner main fagott...

Dan tadi, latihan berakhir, plus beres-beres, pukul 22.30. Mikir, sempet nggak ya ngejar kereta terakhir? Yaudah dicoba dulu deh ke stasiun Cikini...

Sampai di Cikini, untungnya ekonomi AC terakhir itu masih di Juanda! Buru-burulah kami membeli tiket dan naik ke peron. Alhamdulillaaaaah...

Malam takbiran ini gw sampai di rumah pukul 23.30. Wow. Hmmmmmm... Lumayan.
Dan sebenernya malem ini sudah masuk H-10 sih. Tapi yaudahlah ngikut judulnya dulu aja. Toh ini kan kejadian di H-11. Hehehe.

Jumat, 12 November 2010

Day 5 - I ♥ Tutor 5

gara-gara modul ini jadi banyak yang pengen punya bayi.

Day 4 - Kayaknya full sport, jalan kaki teroooss....


06.00 - ambil undangan di sepan stasiun UI, terus jalan ke balairung (setelah sebelumnya jalan kaki dari Kukel ke stasiun UI)
10.00 - baru berhasil melewati detektor dan masuk ke tribun balairung -______- halamak

Sabtu, 06 November 2010

Ketemu.

Alhamdulillah!

Saya Marah.

Sebelumnya mau ngingetin ini post dikhususkan untuk anak-anak OSUI Mahawaditra yang menggunakan sekretariat dalam dua hari terakhir ini (Jumat-Sabtu).

Siapa saja yang menggunakan sekre dua hari terakhir ini? Gila, gila. Kalian harus melihat sendiri kondisi sekre kita tercinta itu. Supermessed around. I'm not joking.

Kondisi:
Ada genangan air di bawah kaki keyboard (di bawah Eliel), terus standpart Eliel terpasang terbalik, kabel-kabel Eliel juga berantakan, speaker Yoga dah ga karuan posisinya, buku bassoon pieces nya udah berada di bawah, dan yang paling penting: STAND PART GW ILANG. Siapa sih yang udah ngambil seenaknya? Nggak liat apa ada sedotan oranye yang tertempel di case standpartnya??!

Asli gw langsung ngerasa kesel, marah, sebel, sedih. Udah pengen nangis aja di situ saat itu juga. Rasanya appetite gw buat angkat case bassoon udah sirna. Tapi gw harus bawa pulang itu, karna besok gw ga mungkin mampir ke sekre dulu paginya.

Cuma satu aja kok yang gw pengen tau. Siapa yang udah melakukan itu semua? Dan kalau sampai standpart gw bener-bener ilang nggak ada yang ngakuin, entah gw harus punya perasaan kaya apa lagi.

Maaf juga tadi gak sempet beresin sekre-nya karena papa gw nunggu gw di luar karna cuma mampir ambil bassoon doang.

Jumat, 05 November 2010

Lalalala di hari Jumat

aduh judulnya nggak banget, gw tau itu.

Tapi hari ini unyu banget. Kumpul bareng panitia Pe-Te Gizi buat persiapan besok... suka deeeeh sama suasana yang akrab kaya gini... rasanya pengen TB bareng-bareng...

Wish for this semester: No Repetition in All Subjects. AMIN.

Terus maaf banget banget banget ya Mahawaditra. Khusus Sabtu besooook aja gw izin gak ikut latihan. Gw tahu sembrono banget bahkan belum dapet partner main fagott. Tapi hectic abis nih panitia Gizi. > < maaaaaaffffff sejuta maaf.

Oh ya, gw ga sabar menanti hari Minggu. Gw harap ketika besok pagi gw ngecek inbox udah ada balesan dari Ka Nina yang POSITIF. Sumpah demi apa pun gw butuh partner!!!

Dan rasanya tetep aja tuh gw tidur malem juga. Gak peduli mau mandi jam berapa -_-a

Dan apakah Obama mau ke UI itu beneran? Gw pikir itu hoax. Kalo iya pasti stasiun TV udah pada heboh u_u"

Udahlah ini gak jelas banget kuliah Etikum, SPKI. Kalo Epid sih masih mending nyantol di pikiran. Gimana nasib UTS *nangis guling-guling* sama UAS nanti (Tahun Baru disambut oleh UAS, najong abis)

Maaf ya isinya random. Soalnya nggak tahu lagi mau ngisi apa, tapi pengen banget nulis sesuatu. Mulai hari minggu silakan nikmati ilustrasi gw ya dalam keseharian gw :)

Jumat, 22 Oktober 2010

[unfinished from 22/10/2010] Kamu tahu? :)

Hari ini random abis!!! (ketularan Alice deh pake istilah-istilah random)

Jadi ceritanya, hari ini tuh sampai magrib adalah masa hectic. Pagi waktunya praktikum jam 10. Okelah, sebagian praktikumnya gagalllllll (hiksss) karena nggak terlalu tahu prosedur kerjanya. Mana yang asdos praktikumnya kayanya lagi hectic juga, atau mahasiswanya yang emang dudul, nggak tahu juga yang mana.

Setelah itu, gw pikir gw bisa mengerjakan laprak dengan sukacita (setelah menyadari bahwa tugas laprak bertambah naujubile), ternyataaaa oh ternyata. Nggak. Harus kumpul kelompok PKM-K. Yaaa ikutan PKM begini memang bagus sih buat nambah pengalaman. Tapi nggak boleh gampang bete kalau ikut ginian, nanti yang ada malah nggak dapet manfaat.

Oke, bertahan tahan sampai jam...5. Jam 5 udah gelisah-gelisah gimana gitu, secaraaa dari jam tiga udah pada ngomongin di twitter mau ke Salihara nonton gratis pertunjukan dari orang Vienna, dan saat ini jam 5 masih berkutat dengan PKM-K.

Akhirnya pasrah jam 6. Ya sudah lah, magriban dulu, minta petunjuk enaknya gimana malam ini, lanjut ke Salihara (sendiri) atau pulang. Dasar insting nekat binti bolang gw mulai nyala, akhirnya gw memutuskan untuk ke stasiun dulu lah. Sudah niat segala tuh dengan nyari lokasi Salihara pake googlemaps. Setelah mengira-ngira di mana tempatnya, gw merenung di bikun. Aaah, gw nekat bener ya. Sendiri, malem, bawa-bawa tas berat. Ya sudah, urusan nanti.

Tahunya... Fika, Yogi dan Mbak Kris ada di halte. Kejutan! Kau tidak sendiri!

Terus nunggu Yoga, katanya sih, mau bareng. Tapi yaudahlah, karena udah jam segini juga, dan menduga akan macet (udah memikir beberapa transportasi dan konsekuensinya), jadi kami mencoba untuk ke pinggir jalan raya margonda dulu. Setelah di sana, mikir-mikir akhirnya naik taksi aja deh. Setelah itu sampai di gerbatama, melihat KRL ekonomi AC sudah layaknya kereta ekonomi--penuh, pintu terbuka, ada yang duduk di atap kereta. Ckckck. Inikah calon-calon kereta rusak? Kayaknya, di Jepang, sepenuh-penuhnya pintu kereta tetap tertutup, tuh. Tapi kasihan juga sih, jadi kurang oksigen. Hehehe. Saat itu kami bersyukur telah memilih naik taksi.

Sampai di Lenteng Agung, hm... mulai deh tuh antrian panjaaaaang. Ada kali sekitar setengah jam untuk melewati mulai dari persimpangan jalan joe dan yang kanan itu. Karena yang jalan cor kanan udah keliatan macet, akhirnya diputuskan lewat jalan joe yang (masih) kosong. Eh tahunya nggak lama juga kena macet. Heeuuu. Rasanya untuk bisa melihat plang toko buku Leksika aja lama banget. Akhirnya di taksi jadi ajang gosipria deh. Biasa, kata Yogi kan 'Woodwind Alay'. Ih lo aja kali. Huahaha.

Senin, 18 Oktober 2010

Kami 'Autis', dan Kami Bangga (atau Tidak?)

Lagi-lagi, mengenai UKM tercinta gw. :D :D :D

Hari Sabtu.
Kisah dimulai Sabtu pagi ketika berangkat ke Salemba. Sendiri, naik kereta dari St. Depok Baru. Masa belum-belum hal yang tidak enak sudah terjadi. Baru juga berangkat. Yaitu, kereta ekonomi yang sudah ditunggu-tunggu puluhan penumpang di Depok Baru sedang mengalami pemeriksaan rangkaian di Depok Lama. Alhasil, kereta ekonomi AC lah yang menjadi korban! Gila, penuhnya udah kayak ekonomi. Untung nggak ada yang ke atap kereta. Tapi tetep aja, pintu kereta nggak mungkin ditutup saking penuhnya penumpang di dalam.

Dan gw, yang membawa-bawa case nan besar mahaberat itu sangat kerepotan. Di tengah himpit-himpitan, mana mungkin mengangkat dan menjulurkan tangan ke atas untuk menaruh case di rak atas. Ya sudahlah case itu diberdirikan di atas kaki, agar tidak mengurangi space untuk berdiri. Biar seimbang, agak dilebarkan pijakannya.

Teteeeep. Pas ngerem, pasti kebawa. Pas penuh sih nggak apa. Ketahan, kan. Kalau pas mulai kosong? Hhhh... Pernah tuh hampir jatoh beneran. Untungnya ketahan sama orang :P Yah sudah lah nggak mau lagi deh nginget-nginget itu, capeeek.

Langsung aja ya ke bagian latihan. Latihan hari itu, mengejutkaaaan. Senandung Sumatera yang menghantui kami. Hahaha horor amat sih kesannya. Tapi memang, komposisi yang di arrange oleh mas Dhany ini memiliki aura mistis, dari nada-nada minor hasil eksperimennya. Tapi gw yakin kalau kita bisa membawakannya secara lancar, ini akan sangat mempengaruhi penonton dan akan membuat bulu kuduk para penonton meremang... Hahaha. Horooooorrr.

Hari Minggu.
Kebetulan pagi ini mau ke dokter gigi dulu buat kontrol. Gilak, udah berapa bulan tuh enggak ke sana.

Setelah kontrol, langsung ke Salemba. Jadinya hari ini berangkat naik mobil sama Mama, karena Mama yang anter ke dokter gigi terus langsung deh ke Salemba. Sampai di sana jam 1. Sambil menunggu, kami makan pecel dulu. Mumpung ini gigi belum kerasa ngilu jadi ya makannya enak aja (sekarang sih udah nggak bisa makan yang keras dulu -_-). Terus yang datang lagi ada Nida dan Ipenk. Disusul ka Reza. Terus karena anak-anak Paragita udah pada keluar, jadi kami ya masuk aja, toh kan udah waktunya gantian. Di bawah masih ada sih 5 orang yang makan, ya udah lah nggak apa-apa, nggak mengganggu ini. Hahaha.

Terus latihan dimulai dengan Kidung Mahardika. Semakin terlihat kok bentuknya. Hanya perlu sedikit polesan lagi. Yang pasti, sekarang Kidung Mahardika terasa tak sesusah Senandung Sumatera!!!

Pulang. Depokers, gw menawarkan diri untuk mengajak kalian pulang bareng, mumpung ada mobil nih. Awalnya gw kira Isa dan Martin naik motor. Tapi ternyata oh ternyata, motor mereka ada di kosan ka Reza dan tadi berangkat bareng-bareng ke sini naik kereta. Ya untungnya, setelah ditotal masih 8 orang, jadi masih muat deh. Udah pada biasa kan empet-empetan di mobil ka Ucup dan ka Bram? Yaudah, pasti kalian juga bisa tahan deh di mobil gw, sama-sama Kijang ini. Hahaha.

Seputar keautisan, masih belum ada yang menyaingi Isa. Mulai dari hidup Isa yang penuh alasan, lalu hidup Isa yang penuh cerita, hidup Isa yang penuh.... Penuh deh pokoknya. Badannya juga penuh. LOL. Terus ngomongin soal maba. Yah macem-macem... Terus nge-bully Fika. Hahaha. Mulai dari bercandaan Fika dan salah seorang senior yang 'aneh', lanjut ke pembuatan film, nanti endingnya ada Alice sama Rifky, terus akhirnya lagi ada Martin sama Isa. Dan itu Isa yang ngomong. Plis ya, apa bedanya 'ending' sama 'akhir'???

Katanya, di Fisika masih ada seribu lagi yang kayak Isa. Apa jadinya kalau mereka semua masuk Mahawaditra -___-

Seandainya kalian sudah menetapkan mau makan di mana sebelum sampai di Margonda, pasti gw dan Mama gw ikut makan! Sayang kalian masih bingung mau ambil duit dulu, terus bingung nentuin mau makan di mana bahkan sampai gw meninggalkan kalian di depan RSU Bunda Margonda. Yahhh jadi gw ga bisa meneruskan keautisan kita malam itu dengan guest star Isa!!!

Jumat, 15 Oktober 2010

obsesi ambisi bermusik



akhir-akhir ini kalau santai dan lagi nggak ngapa-ngapain (kadang lagi ngapa-ngapain juga), di otak ini terngiang satu komposisi cukup panjang yang bagi gw bagus.

Beethoven's Trio.

Memang rumit, tapi sebenarnya tidak. Hanya masalah biasa atau tidak saja memainkan scale nada. Karena main scale itu ribet, apalagi ini bukan tangga nada normal, 1 kres membuat not f nya menjadi fis. Haaaa.

Satu lagi, komposisi superpanjang sejauh gw berkarir di orkestra UI, Kidung Mahardhika. Komposisi ini cukup luar biasa. Dan gw yakin akan lebih luar biasa kalau kami bisa sukses memainkannya. AMIN!

Seandainya nanti gw bisa melaju ke jalur lebih pro, gw ingin benar-benar memiliki sendiri instrumen langka ini. Aaaaa! Gw tau kans gw besar dalam instrumen ini, sekarang hanya masalah niat, kemauan, dan kesempatan!

Survey

Gw nggak tahu siapa aja yang baca blog gw ini. Yang pengen gw tau:

1. Kalian tahu blog gw ini dari mana? (mis. googling atau tahu dari gw sendiri?)

2. Apakah kalian mem-follow blog ini? Kalau iya setiap update tulisan dari gw pasti akan kalian ketahui.

3. Sering nggak baca/mampir ke blog gw?

Kalo dirasa nggak penting nggak usah digubris. Tapi yang bisa, tolong jawab ya. Hehehe :P

Rabu, 13 Oktober 2010

10 Kronologis Ke-Random-an Lain Mahawaditra Hari Ini.

Akhir-akhir ini isinya Mahawaditra ya. Yaudahlah, ngusir bete.

Yaitu:

1. Ragu-ragu. Hari ini jadi latian Kidung Mahardhika nggak ya, di sekre? Kok sepi melanglang buana *nah lo bahasa apa ini*... Emang sih kayanya dateng jam 4 ke sekre itu aneh, tapi ah yaudahlah udah lama ga ke sekre ini, sekalian mau ambil 'contekan'... (contekaaan... fingering bassoon kaleee)

2. Akhirnya Rifky datang.... Fuh, ada temen. "Eh Nda, itu konek ke internet ya? Pinjem dong." Oke. Silakan pakai. Sesukamu. Gw juga lagi pengen lihat part Kidung nya, mana mungkin kan sambil pakai laptop. Biasa, situs favorit yang dibuka oleh siapa saja: Facebook dan Twitter.

3. Ow, ada telepon. Ternyata dari teman Rifky yang membawa cello. Rifky keluar untuk mengambilnya. Tapi kok agak lama ya?

4. Ibed datang dengan tampang agak payah. Rupanya lagi sakit... Tahu-tahu lihat laptop. Wah, gawat Rifky, Facebookmu dalam bahaya! Ibed sudah berniat iseng! Tak lama Rifky datang, lalu segera menaruh cello dan panik. "Ibed! Ngapain kamu!!!" "Aaah apa sih! Udah ah biarin!" "Ah nggak!!! Parah lo Bed!" "Apaan sih? Gini doang.. Awas lo apus!!!" "Ah, Bed, aaaah.... Parah lo... Ah, apdet status aja ah, FB gue habis dibajak Ibed...." "Dih, apaan lo?" Ternyata oh ternyata: Ibed menggunakan account Rifky yang idle tadi untuk mengirim wall ke Alice yang berbunyi, "Halo sayang..." LOL LOL LOL

5. Lalu mengobrol sedikit. Tiba-tiba, Ibed menceritakan keluhannya bahwa dia sering pusing, dengan sehari hanya sarapan dan ngemil-ngemil saja. Ya jelas laaaah... Itu kurang gizi banget... Akhirnya Ibed memaksa gw (doilah maksa) untuk membuatkan pola makan untuknya. Woooi gw baru aja dapet ilmu sedikit, tapi kalo lo tetep mau, yaudah ya... itung-itung buat gw belajar praktek... Hehehe. Rifky ikutan juga.

6. Alice datang (lalu shock setelah diperlihatkan buah karya Ibed di wallnya). Kemudian Fika. Kemudian Martin. Kemudian Innes. Kemudian Yogi. Kemudian Kak Reza. Kemudian Isa. Kemudian, latihan dimulai: Kidung Mahardhika.Kemudian, Ibed, Innes dan Martin menjalankan misi iseng nomor 2: mem-printscreen wall kontroversial yang tadi, lalu meng-upload di FB. Kayaknya di albumnya Ibed deh. ahahaaha. Sabar ya Ky, Lis...

7. Latihan sudah selesai. Tapi bagian "Presto" masih menjadi masalah...

8. Sudah pada sibuk sendiri-sendiri. Yogi lihat-lihat flute di eBay, Isa main keyboard, Alice, Rifky, Innes dan Ibed pulang. Fika, Kak Reza dan Martin jadi figuran. *Apa sih???*

9. Yang masih menggaje ria sampai jam 10 lebih adalah gw, Kak Reza, Martin, Yogi, Fika, dan Isa. Wow. Seandainya bisa nginep di sekre. Lalu tercetus ide untuk team building sebelum konser. Boleh juga.

10. Pulang. Kak Reza dan Martin keluar duluan. Yogi sok-sokan ngunci gw di dalem sekre... Dare to do that, Gi? Sebentar lagi mimpi lo bahwa gw menimpuk lo dengan Bassoon akan segera menjadi nyata... Hahahahaha!

Selasa, 12 Oktober 2010

mencoba lah.

oke, emang udah lama nggak ngepos. (pos apa? pos wesel? haha)

1. satu berita bahagia: KEPANITIAAN PANJANG INI SELESAI~ tapi LPJ... alamak LPJ. Kedua kalinya saya berurusan dengan LPJ -- Laporan Pertanggung Jawaban. Fyuh... Karena ini skala nasional, jadi harus lebih serius... Biar kepanitiaan selanjutnya bisa lebih baik lagi...

2. Kepanitiaan masih tersisa 3: FKM Peduli, Pengembangan Kompetensi Gizi, dan Bedah Kampus 2010. Yang akan berjalan adalah Pe-Te dulu. Terus FKM Peduli, terus Bedah Kampus. Astaga jadi inget kalo jumat besok kumpul dekor Bedah Kampus -__- untung ngomongin BK.

3. Harus gimana sih dalam kelas tutorial? Kok dibilangnya kita yang kurang serius, yang kurang bahan, hhh... Gimana sih 2008 sistemnya? Kayaknya mereka emang terlahir pintar mengorganisir deh. dan 2009 memang terlahir biasa-biasa saja.

4. ingin bisa menulis cerita lebih banyak... rasanya dulu lebih produktif dalam menulis, apalagi bersama teman-teman. Kisah yang ringan, mampu menghibur di kala kita membaca kembali tulisan kita... Sepertinya ide-ide saya tersendat di kelas 3 SMA. Kuliah menyita waktu. *alibi*

Kalau ada yang kepikiran lagi, nanti dilanjutin.

Minggu, 03 Oktober 2010

OSUI Mahawaditra - Random Night of Some Mahawaditrans!

Oke, udah lama rasanya nggak nge-blog. Tapi ini tergerak buat nulis juga karena ada hal yang bener-bener… bener-bener konyol, malah super konyol buat gw.

Jadi gini. Ceritanya, hari ini hari Minggu, jadwalnya kami berlatih orkestra demi konser akbar yang akan dihelat pada tanggal 27 November 2010. Dan itu tidak lama lagi bagi kami, yang merasa pencapaian permainan belum menyentuh angka 50%.
Setelah selesai, seperti biasa rombongan Depok pulang bersama menggunakan kereta. Kami ke stasiun dengan taksi, dibagi bersembilan orang – gw, Alice, Yogi, Ka Fahmi, Yoga, Ka Reza, Rifky, Martin, dan Isa. Sampailah di stasiun. Ketika melihat papan keberangkatan ekonomi AC: 21.30, kami segera memutuskan untuk naik kereta ekonomi saja. Kami pun naik ke peron setelah membeli tiket.
Kejadian konyol #1.
Kami sudah optimis bahwa di hari seperti ini kereta pasti penuh. Ketika kereta datang, bener sih, rame. Jadi kami memutuskan untuk tidak naik dan menunggu kereta berikutnya. Kami pun duduk kembali. Selanjutnya, terdengarlah pengumuman bahwa akan datang kereta menuju ke kota pada peron 1.  Ya jelaslah pada panik. Kalau ada yang ke kota mending ikut yang itu, lalu menunggu di kota tetap di dalam kereta, lalu keretanya kan nanti balik lagi ke Bogor.
TAPI, ADA YANG ANEH. Gw bersumpah yang gw denger adalah KERETA KE BOGOR. Tapi petugasnya bilang JALUR 1. TAPI GW LIHAT LAMPU KERETANYA DI JALUR 2--yang benar-benar rute Bogor!!! Kombinasi antara pengen ngasih tahu yang lain dan pengen nyusul yang lain yang udah buru-buru pindah peron, gw akhirnya menenteng-nenteng anak gw (bassoon) tergopoh-gopoh menyusul 8 anak itu. Dan, gelonya… ketika yang lain sudah sampai di peron, mereka mengumpat gara-garaaaaa… yang datang kereta di jalur 2. See???
Ya sudahlah, untungnya sesaat kemudian kereta ekonomi yang ke arah Kota datang. Psst, itu gw pas di bawah banget. Jadi yang lain neriakin gw buat buru-buru naik ke peron lagi. Entah ada hidden power apa yang ada di dalam gw, gw mampu lari di tangga dengan membawa bassoon! (Tepuk tangan dong buat gw!!!) LOL.
Alhamdulillah, kereta itu kosoooong. Kami bersembilan bisa duduk. Bahkan cukup dalam sederet. Hahaha.
Kejadian konyol #2.
Kami menanti keberangkatan kereta dari Kota kembali ke Bogor. Karena kereta cukup sepi, jadi suara kami yang mengobrol dengan suara cukup keras pun terdengar sangat berisik. Dan – inilah kejadian konyol kedua-nya. Seorang engkong-engkong (karena beliau menyebut dirinya sendiri begitu!) berkata, yang kurang lebih seperti ini, “Hei, kalian dari tadi ribut aja, coba nyanyi satu lagu buat engkong! Nanti engkong bayar deh!” Gw lupa sih persisnya kaya apa, mungkin yang inget banget adalah Rifky, Ka Reza, Yoga, Martin, dan Isa.
Kemudian selama kurang lebih 5 stasiun mereka (ya, merekaaa. Gw, Alice, Yogi, dan Ka Fahmi nggak [mau] ikutan) mengobrol. Yang konyol salah satunya:
Engkong: “Siapa tuh namanya konduktor Philharmonic?”
Siapapun salah satu dari mereka: “Addie MS”
Engkong: “Yeee, Addie MS mah Twilite! Lebih tahu engkong daripada kamu! Udahan ah ngobrolnya!”
LOL. Sumpaaah pengen ngakak tapi kasihan juga sama mereka yang ngeladenin obrolan sama engkong itu.
Akhirnya diketahui dari obrolan itu, engkong itu penikmat seni juga. Katanya, suatu saat kalau udah break dari kegiatan orkestra ini, untuk menjaga jiwa seni kita, kita harus menonton teater, mendengarkan musik. Hmm. Satu lagi orang tua yang memiliki pengalaman seni.

Gw, Alice, dan Yogi lebih memilih untuk ber-twitter ria. Saling me-retweet satu sama lain. Ini konyol juga sih. Deket-deketan kok retweet-retweet-an…

Kalau suatu saat Yoga, Ka Reza, Rifky, Martin atau Isa bersedia untuk menceritakan kronologis malam ini, mungkin akan gw publish juga di blog. Huahahaha!!!
Akhirnya kami berpisah di stasiun Pocin. Maksudnya, yang lain turun, gw masih nunggu satu stasiun lagi. Gw turun di Depok Baru. Akhirnya, rumah!!! Istirahat, besok kumpul jam 6.30 pagi buat kuliah umum di PRJ dalam kongres vegetarian sedunia!

Sabtu, 21 Agustus 2010

Wind Concert OSUI Mahawaditra: Ballet Scene from Swan Lake


Sorry for the bad quality, because the uploader was having connection problem so the better result can't be reached.

But enjoy this for now for you who didn't attend our concert!

Kamis, 19 Agustus 2010

180810 - #4: Taping Sesi 2 dan Mulai Lepas Kontrol, Muncullah Idola Baru!


Setelah selesai shalat di masjid di seberang Indosiar, kami kembali ke studio. Oh ya, sebelum keluar, kami berpapasan dengan rombongan dewan cinta di ruang tunggu, entah untuk Take Me atau Him Out. Mereka pada tampil rapi dengan jasnya. Entah ya, kok yang nampak cowok-cowoknya aja.
Kami memutuskan untuk langsung ke studio lagi, toh sama saja menunggu di dalam. Tapi… yaaa… resiko, berdingin-dingin lagi lah kami di dalam. Tetap dengan formasi kursi seperti awal. Sambil menunggu kami mengobrol. Tak lama kemudian para penonton yang lain masuk. Setelah semua masuk, taping kloter kedua dimulai. Babak tebak lagu dan acak lirik berjalan.
Yang seru di kloter kedua ini adalah ketika babak acak lirik. Salah satu peserta menjadi korban lemparan soal sebanyak 3 kali, dan *ajaibnya* ia berhasil menyusun tiga-tiganya! Tapi yang lucu, dia mengucapkannya -ya, mengucapkan, bukan menyanyikan, karena - seperti sedang bersajak! Tanpa nada. Hahahaha! Kami semua tertawa, geli, kagum, senang karena ia berhasil melewati ketiga lemparan soal dari lawannya itu dengan baik.
Setelah itu ia maju ke babak berikutnya, bertemu dengan pemenang kloter pertama. Kini babak fill in the blank. Dua-duanya gagal sih. Tapi ketika babak acak lirik dimulai kembali (untuk kualifikasi ke final), yaaa lempar-lemparan itu terjadi lagi dan diaaaa (ya, dia yang sama dengan korban lemparan) kena lagi lemparan soal. Dan lagiiii… berhasil dijawab! Luar biasa episode kali itu. Sumpah, kami merasa geli. Terus geli.
Kamu tahu, kami – tanpa sadar – menjadi penonton yang terheboh hari itu. Bagaimana tidak, setiap kali bertepuk tangan, selalu kami iringi dengan teriakan-teriakan heboh. Nggak jelas. Ah, yang penting kan bikin ramai. Sampai-sampai Kak Choky meledek si finalis bernama Adwil itu (dan namanya bahkan dibercandain sama Kak Choky sebagai akronim dari Administrasi Wilayah – oke, jayus memang), “Kamu rupanya sudah punya penggemar itu. Yang di sisi kiri itu paling ramai.” Kami tertawa. Jelas. Kapan lagi bisa teriak sepuasnya. Apalagi di tengah hawa dingin itu, bisa sedikit menghangatkan badanmu!
Yang jelas, sepanjang akhir taping itu, kami bersepuluh adalah penonton yang PALING NGGAK JELAS TERIAKANNYA. Ah, sebodo amat… Yang penting kami hepi. Puasa-puasa nggak terasa.

180810 - #3: Live shooting? Kejutan!


Setelah taping untuk kloter pertama selesai, kami kira kami akan istirahat siang untuk shalat dhuhur. Nyatanya: kejutan, beluuuum. Belum saatnya break. Kami harus lanjut menjadi penonton untuk sesi live-nya. Yang ini edisi anak-anak, jadi 14 orang peserta anak-anak berusia 7-13 tahun berdatangan bersama pendampingnya. Ah, dandanan mereka lucu-lucu!!!
Seperti biasa, aturan main sama dengan yang tadi. Aturan kuis sama. Babak tebak lagu, babak acak lirik. Karena live, kami jadi bisa langsung melihat bagaimana yang sesungguhnya terpampang di layar televisi. Ketika iklan kami berhenti. Iklan selesai kami beraksi lagi. Pengisi acara tampil berseru-seru. Oh ya, pengisi acara untuk sesi live ini adalah The Dance Company dan Raflesia. The Dance Company membawakan 2 lagu, Raflesia 1 lagu. Aryo, Pongky, Baim, dan Nugie ngebanyol. Ledek-ledekan soal mantan band masing-masing di sela-sela iklan. Hahahaha.
Dan kamu tahu? Ada salah satu lagu yang membuat kami ngakak sepanjang kloter kedua. Salah satu lagu itu adalah: Surti Tejo. Astagaaaaa, sungguh lagu yang bahaya kalau anak-anak mendengar liriknya! Tapi mengherankan, dari 7 anak, ada 1 yang berhasil menebak lagu itu! XD
Setelah sesi live selesai, kami diberi waktu untuk break shalat. Nggak mungkin makan, lah. Kan puasa.

180810 - #2: Taping sesi pertama dan Menggigil


Bagi saya pribadi yang tak punya pengalaman untuk rekaman di studio televisi, pasti ada rasa ingin tahu yang besar dan penasaran (apa bedanya???) dengan kondisi dan situasi di dalam. Ketika masuk pintu… Oh, Tuhan. Inikah studio? Eerr… cukup besar, tapi ini terhitung kecil. Tapi kok di TV bisa kelihatan luas? Ah, kamera. Hahaha.
Dan yang menyambut kami adalah hawa dingin yang super. Waaa, gila, dingiiiiin banget. Awal-awal pun gigi saya gemeletuk. Tapi menjelang akhir-akhir perasaan dinginnya sudah berkurang. Mungkin karena berangsur aktif? :P
Di awal, kami diberi instruksi, apa yang harus kami lakukan sebagai penonton. Para peserta sudah diberi instruksi terlebih dulu. Sebagai penonton, tentu saja tugas kami adalah meramaikan acara. Sang director menginstruksikan kapan kami harus berdiri, tepuk tangan sambil berseru seheboh-hebohnya (kalau perlu sampai serak :P). Biasa, awalnya kami (baca: kami yang dari FKM ini) sungkan. Jadi suaranya kecil, malu-malu mau teriak. Sementara di belakang kami (kami di deret paling belakang) kru lainnya ada yang berteriak kenceng banget. Ah tapi yang lain juga nggak heboh banget. Apalagi yang paling depan, padahal kan mereka yang paling kesorot, harusnya lebih heboh dong. Takut haus? Puasa-puasa jadi ibadah, itu celetukan dari salah satu kru. Ibadah sih ibadah pak… tapi begini amat. Hahaha.
Taping dimulai dengan merekam penampilan artis pengisi acara, T2 dan Merpati Band. Yang pertama adalah T2, membawakan 2 lagu. Kami berdiri. Camera acts – kami berseru. T2 menyanyi. Selesai. Kami berseru – Camera stop. Kami duduk. Kami berdiri lagi. Camera acts – kami berseru. T2 nyanyi lagu kedua. Selesai. Kami berseru – Camera stop. T2 keluar, ke lokasi selanjutnya. Yah, begitulah kalau taping buat acara yang nggak live. Video editor lah yang menjadi juru kendali untuk keseluruhan acara nantinya. Oh ya, hal di atas juga terjadi ketika Merpati Band tampil. Hahaha. Kerjaan penonton begini amat yak. Tapi kalau nggak ada penonton, sebuah acara nggak akan ada. Ya, kan?
Setelah taping, saat yang ditunggu – acara pokoknya – tiba: kuisnya. Dua orang penari muncul dan membuka acara. Dua? Iya, awalnya juga pada bertanya-tanya kenapa cuma dua. Katanya ada yang sakit, ada yang nggak izin. Tapi akhirnya ada empat kok. Yang satu muncul tak lama kemudian, satu lagi datang ketika taping kloter pertama selesai.
Dan MC-nya. Hahaha. Siapa lagi kalau bukan Kak Choky Sitohang. Dengan baju koko berwarna cokelat ia membawakan acara dengan santai. Waaa. Ibed (ketua OSUI Mahawaditra periode 2009-2010) pasti mupeng berada sedekat ini dengan Kak Choky. Wakakakak.
Di dalam saya jadi mengerti bagaimana situasi ketika kuis sedang berlangsung. Saya yang hampir tidak pernah menonton acara ini, tiba-tiba datang  menonton secara langsung, dan jadi tahu bahwa menonton langsung lebih terasa lucunya. Haha. Gregetnya juga beda. Seolah kita gemas kepada peserta yang butuh waktu lama untuk menjawab soalnya.

180810 - #1: OKK UI 2010, Team Up, Kereta Indonesia


Hari ini kami akan berperan sebagai penonton dalam salah satu acara kuis musik televisi swasta. Rencana kami, yang berangkat dari Depok kumpul di FKM pukul 6.30 pagi. Yah, baiklah. Saya telat berangkat. Pukul 6.30 baru berangkat. Karena saya pikir akan lama, saya meng-SMS salah satu teman yang juga akan berangkat dari Depok. Ketika saya membaca balasannya, la-la-la, dia juga baru berangkat dari kosannya di kukel. Yea, ada barengan. Hahaha. Dan benar, saya melihat dia – Adila (yang seterusnya akan saya sebut Mbee) berjalan dari pintu UI depan kosannya. Akhirnya kami berdua naik ojek sampai FKM.
Sebenarnya saya tahu hari ini adalah pelaksanaan OKK UI 2010. Tampak banyak maba (mahasiswa baru) berjalan menuju ke balairung. San-tai. Sangat santai. Kontras sekali dengan OKK UI 2009. Dulu, jaman saya di-OKK, panitia-panitia sudah standby di titik-titik tertentu untuk memerintahkan kami berjalan sampai balairung. Yang diantar? Yaaaa… turunlah kamu dari kendaraan. Kamu harus jalan kaki. Teriakan-teriakan sok kesal dari panitia kerap terdengar. Yang nyuruh cepat lah, yang jangan lelet lah. Tapi semua itu sirna di OKK UI 2010. Seperti apa konsep dari panitia tahun ini sebenarnya?
Yak, itu curhatan senior 2009. Hahaha.
Sesampainya kami berdua di FKM, kami segera berkumpul dengan yang lainnya di BKM lantai 1. Yak, sesudah lengkap, kami berjalan ke stasiun Pondok Cina untuk naik kereta. Awalnya saya bahkan tak terpikir untuk naik kereta. Saya ikut ya ikut saja, masalah transport belakangan. Hahaha. Bahaya.
Kami pun masih belum terpikir mau turun dimana untuk bisa menjangkau halte busway yang mudah. Tapi akhirnya ada yang mencetuskan untuk turun di Manggarai (setelah naik kereta). Oh iya, saya juga baru ingat kalau di Manggarai ada halte busway. Padahal dulu sering lewat. Hihihi.
Ketika menunggu kereta kami datang, kereta ekonomi datang  terlebih dulu. Tentunya dengan pemandangan yang (mungkin) sudah biasa kita lihat: Penumpang tak tertib yang ingin cepat jadi pada nongkrong di atap kereta. Ckckck. Indonesia, perilaku mendarah daging.
Sesampainya di stasiun Manggarai, kami berjalan kaki ke halte busway Manggarai. Busway yang kami naiki lumayan padat. Kami transit di Dukuh Atas 2, kemudian menyeberangi jembatan untuk ke halte Dukuh Atas 1. Kami naik busway tujuan Kalideres.
Kami turun di halte Indosiar. Pas sekali haltenya berada di seberang gedung Indosiar. Kami masuk dengan… yaaah, pertama memang sungkan… Baru pertama kali (bagi saya) pengalaman untuk menjadi penonton live di studio televisi. Istilahnya adalah taping.
Baiklah, sekian awal perjalanan kami.

Selasa, 17 Agustus 2010

FKM UI Peduli Anak Bangsa 2010


"Ketika kau membagi sesuatu,
kau tidak akan kekurangan,
tetapi kau akan mendapat lebih."

 
Menyenangkan
Berbagi bersama mereka :)

FKM UI Peduli Anak Bangsa
Kampus UI Depok
Senin, 16 Agustus 2010

Senin, 16 Agustus 2010

Sepenggal cerita

Di luar,

langit menurunkan H2O-nya.
Membasahi bumi.
Dingin merebak,
udara terasa segar.

Di dalam,

manusia mengeluarkan CO2-nya.
Tidak terasa pengap,
karena sirkulasi berjalan baik.

Di dalam inilah,
kami,
dengan rasa peduli yang tinggi,
berbagi kebahagiaan,
berbagi rezeki,
berbagi ilmu,
berbagi ceria bersama mereka.
Mereka yang tidak seberuntung kami
dalam lakon hidup ini.

Tapi apakah kita merasa beruntung?
Melihat mereka,
mungkin ada bersitan rasa
'mereka beruntung'
dari diri kita.

Beruntung,
karena diberi kelebihan:
ketabahan,
kekuatan,
kesabaran,
etos kerja tinggi.

Apa yang harus kita buat?
Kesadaran, tentu.
Sadar bahwa kita lebih.
Lebih mampu,
ilmu,
harta.

Seberapa tingkat kesusahan membagi semua itu?

Nol,
jika ikhlas.

Minggu, 15 Agustus 2010

Got the meaning?

Baiklah, malam-malam begini kumatlah jiwa labil saya.

Seperti dalam tweet saya kemarin malam, ini salah satu lagu yang ingin saya nyanyikan bersama suami saya kelak. Memang kelihatannya lirik di bawah ini lebay. Tapi tetap saja, namanya juga lagu...

Kalau ada yang penasaran sama lagunya, silakan dicari streamingnya di internet :D

Suatu Malam

Entah kenapa terpikir untuk menulis seperti ini.

Sepertinya skill menulis saya sudah terkikis dibandingkan dengan jaman SMP dulu. Kok kayaknya dulu waktu menulis cerita waktu SMP bersama sahabat-sahabat saya, lancar-lancar saja, mulai dari yang serius sampai yang nggak jelas. Tapi sekarang? Belum tentu setiap hari diisi dengan kegiatan menulis...

Rasanya ingin kembali seperti dulu, dengan ide-ide konyol yang terus mengalir setiap saat, membuat sebuah -- atau dua -- cerita yang panjaaaaaaaaaaaaang tak tentu jalan ceritanya bersama sahabat-sahabat saya, tapi kalau dibaca-baca lagi memang nyambung ceritanya.

Sekarang sih boro-boro... baru menulis satu kalimat, sudah melanglang pikiran saya memikirkan bagaimana plot yang seharusnya, bagaimana lanjutannya agar ide mengalir... Ah, semua serba terlalu dipikirkan sekarang ini. Padahal menulis itu kebebasan.

Rabu, 07 April 2010

Angry yet Happy, how come?

Iyaaa.... kayak judulnya aja udah ribet kan ngartiinnya.

Jadi gini loh.

Ceritanya, seperti  biasa adikku pulang malem. Tengah malem. Oh men, udah kutebak pasti bakal timbul perang. Malamnya sih nggak terlalu, begitu paginya....


DUARR.

Mama meledak.


DITAMBAH,

Tikus masuk rumah.

[makin menjadi-jadi lah ledakan itu]

Maka aku pun berpikir, daripada di rumah makin memperparah ledakan itu, lebih baik berangkat ke kampus secepatnya, memikirkan agenda-agenda yang harus dilaksanakan hari ini. Okelah, berangkat dengan wajah masam.

Sampai di kampus, terserahlah mau bikun merah atau biru yang datang, pokoknya aku mau ke arah stasiun, jadi nggak masalah juga kan naik yang mana? Kebetulan yang datang yang merah. Bagus deh, jadi gak usah nunggu lama.

Duduk di bikun pun perasaan masih campur aduk. Kesal, marah, capek. Memikirkan, agenda pertama yang dilakukan adalah memperbaiki plakat Mahawaditra. Eh, tahunya di gang kober ketemu kakak sepupu. Haahahaha, lumayan, memperbaiki mood.

Sudahlah selesai itu. Saatnya naik bikun ke FKM. Dan lagi-lagi, tidak perlu nunggu lama untuk menunggu karena sudah tampak warna kuning di ujung gerbang. Hihihi, asyik. Mood lumayan membaik lagi, dan lagi beban menghilang satu [ya, plakat yang jadi kontroversi itu -- lebay].

Dan.... ya, aku duduk. Di depan ada anak penjual koran yang menawarkan koran dagangannya pada orang-orang di dalam bikun. Ah, ini pemandangan biasa, lagi pula tidak ada rasa terganggu kok. Aku juga sudah hapal dengan anak ini.

Seperti biasa, pasti ada saja orang yang membeli koran, entah emang dia mau baca koran atau sekalian membantu anak kecil itu. Dan... ya, orang yang duduk di sebelahnya ini membeli koran, dua buah. KOMPAS dan SINDO. Setelah menanyakan harga, orang itu [selanjutnya kusebut pria aja ya, karena dia emang pria :P] membayar, dan melebihkan uangnya untuk diberikan pada anak itu. Wow. Kesan pertama.

Selanjutnya, pria itu mengajak ngobrol dengan santai. Anak itu mulanya canggung, Tetapi lama-lama jadi lancar juga sampai bercerita macam-macam. Pria ini, supel. Nggak risih. Friendly. Whatever. Dan, kesan kedua.

Guess what. Pria ini, ngajak anak kecil itu kenalan! Wah, ternyata pria ini benar-benar [tekankan itu, benar-benar] baik. Sumpah. Kenapa sepertinya berlebihan begitu? Karena! Dari gerak-gerik dan perilakunya pada anak itu, aku bisa menyimpulkan demikian. Apakah itu berlebihan? Buatku sih tidak. Dan itu, kesan ketiga. Dari perkenalan mereka, aku bisa tahu beberapa hal. Anak kecil itu tiap pagi mengambil koran di Depok lama, kemudian naik kereta sampai UI. Kemudian baru pulang pukul 1 pagi. Dia tidak sekolah. Sungguh, ketika anak itu menyebutkan demikian, aku merasa tidak bersyukur telah mengeluh tiap hari saat kuliah. Mungkin kalau aku  bisa membantu sesuatu untuk anak itu, membantu pendidikannya, mungkin aku akan lebih bahagia, sangat bahagia.

Dan si pria ini, mahasiswa FE yang sedang bertolak ke FH untuk bertemu temannya. Ah, bukannya sedang sentimen, tapi pria ini cukup manis. Apakah aku salah berkomentar seperti itu? Rasanya tidak, karena aku juga seorang wanita biasa. Jadi, suka aku mau komentar apa.

Dan, hei, kejadian pria itu lah yang membuat moodku kembali 100% senang! Kebaikan di pagi hari, itu pelepas murung dan duka yang paling ampuh buatku. Ya, ya. Inilah, aku. Sepertinya sederhana, ya. Melihat sedikit kebaikan saja senangnya minta ampun. Tapi justru dari kebaikan-kebaikan kecil itu kan, pengaruh yang besar timbul?


Hopefully Blessed Day :))
Anda