Rabu, 07 April 2010

Angry yet Happy, how come?

Iyaaa.... kayak judulnya aja udah ribet kan ngartiinnya.

Jadi gini loh.

Ceritanya, seperti  biasa adikku pulang malem. Tengah malem. Oh men, udah kutebak pasti bakal timbul perang. Malamnya sih nggak terlalu, begitu paginya....


DUARR.

Mama meledak.


DITAMBAH,

Tikus masuk rumah.

[makin menjadi-jadi lah ledakan itu]

Maka aku pun berpikir, daripada di rumah makin memperparah ledakan itu, lebih baik berangkat ke kampus secepatnya, memikirkan agenda-agenda yang harus dilaksanakan hari ini. Okelah, berangkat dengan wajah masam.

Sampai di kampus, terserahlah mau bikun merah atau biru yang datang, pokoknya aku mau ke arah stasiun, jadi nggak masalah juga kan naik yang mana? Kebetulan yang datang yang merah. Bagus deh, jadi gak usah nunggu lama.

Duduk di bikun pun perasaan masih campur aduk. Kesal, marah, capek. Memikirkan, agenda pertama yang dilakukan adalah memperbaiki plakat Mahawaditra. Eh, tahunya di gang kober ketemu kakak sepupu. Haahahaha, lumayan, memperbaiki mood.

Sudahlah selesai itu. Saatnya naik bikun ke FKM. Dan lagi-lagi, tidak perlu nunggu lama untuk menunggu karena sudah tampak warna kuning di ujung gerbang. Hihihi, asyik. Mood lumayan membaik lagi, dan lagi beban menghilang satu [ya, plakat yang jadi kontroversi itu -- lebay].

Dan.... ya, aku duduk. Di depan ada anak penjual koran yang menawarkan koran dagangannya pada orang-orang di dalam bikun. Ah, ini pemandangan biasa, lagi pula tidak ada rasa terganggu kok. Aku juga sudah hapal dengan anak ini.

Seperti biasa, pasti ada saja orang yang membeli koran, entah emang dia mau baca koran atau sekalian membantu anak kecil itu. Dan... ya, orang yang duduk di sebelahnya ini membeli koran, dua buah. KOMPAS dan SINDO. Setelah menanyakan harga, orang itu [selanjutnya kusebut pria aja ya, karena dia emang pria :P] membayar, dan melebihkan uangnya untuk diberikan pada anak itu. Wow. Kesan pertama.

Selanjutnya, pria itu mengajak ngobrol dengan santai. Anak itu mulanya canggung, Tetapi lama-lama jadi lancar juga sampai bercerita macam-macam. Pria ini, supel. Nggak risih. Friendly. Whatever. Dan, kesan kedua.

Guess what. Pria ini, ngajak anak kecil itu kenalan! Wah, ternyata pria ini benar-benar [tekankan itu, benar-benar] baik. Sumpah. Kenapa sepertinya berlebihan begitu? Karena! Dari gerak-gerik dan perilakunya pada anak itu, aku bisa menyimpulkan demikian. Apakah itu berlebihan? Buatku sih tidak. Dan itu, kesan ketiga. Dari perkenalan mereka, aku bisa tahu beberapa hal. Anak kecil itu tiap pagi mengambil koran di Depok lama, kemudian naik kereta sampai UI. Kemudian baru pulang pukul 1 pagi. Dia tidak sekolah. Sungguh, ketika anak itu menyebutkan demikian, aku merasa tidak bersyukur telah mengeluh tiap hari saat kuliah. Mungkin kalau aku  bisa membantu sesuatu untuk anak itu, membantu pendidikannya, mungkin aku akan lebih bahagia, sangat bahagia.

Dan si pria ini, mahasiswa FE yang sedang bertolak ke FH untuk bertemu temannya. Ah, bukannya sedang sentimen, tapi pria ini cukup manis. Apakah aku salah berkomentar seperti itu? Rasanya tidak, karena aku juga seorang wanita biasa. Jadi, suka aku mau komentar apa.

Dan, hei, kejadian pria itu lah yang membuat moodku kembali 100% senang! Kebaikan di pagi hari, itu pelepas murung dan duka yang paling ampuh buatku. Ya, ya. Inilah, aku. Sepertinya sederhana, ya. Melihat sedikit kebaikan saja senangnya minta ampun. Tapi justru dari kebaikan-kebaikan kecil itu kan, pengaruh yang besar timbul?


Hopefully Blessed Day :))
Anda