Sabtu, 21 Agustus 2010

Wind Concert OSUI Mahawaditra: Ballet Scene from Swan Lake


Sorry for the bad quality, because the uploader was having connection problem so the better result can't be reached.

But enjoy this for now for you who didn't attend our concert!

Kamis, 19 Agustus 2010

180810 - #4: Taping Sesi 2 dan Mulai Lepas Kontrol, Muncullah Idola Baru!


Setelah selesai shalat di masjid di seberang Indosiar, kami kembali ke studio. Oh ya, sebelum keluar, kami berpapasan dengan rombongan dewan cinta di ruang tunggu, entah untuk Take Me atau Him Out. Mereka pada tampil rapi dengan jasnya. Entah ya, kok yang nampak cowok-cowoknya aja.
Kami memutuskan untuk langsung ke studio lagi, toh sama saja menunggu di dalam. Tapi… yaaa… resiko, berdingin-dingin lagi lah kami di dalam. Tetap dengan formasi kursi seperti awal. Sambil menunggu kami mengobrol. Tak lama kemudian para penonton yang lain masuk. Setelah semua masuk, taping kloter kedua dimulai. Babak tebak lagu dan acak lirik berjalan.
Yang seru di kloter kedua ini adalah ketika babak acak lirik. Salah satu peserta menjadi korban lemparan soal sebanyak 3 kali, dan *ajaibnya* ia berhasil menyusun tiga-tiganya! Tapi yang lucu, dia mengucapkannya -ya, mengucapkan, bukan menyanyikan, karena - seperti sedang bersajak! Tanpa nada. Hahahaha! Kami semua tertawa, geli, kagum, senang karena ia berhasil melewati ketiga lemparan soal dari lawannya itu dengan baik.
Setelah itu ia maju ke babak berikutnya, bertemu dengan pemenang kloter pertama. Kini babak fill in the blank. Dua-duanya gagal sih. Tapi ketika babak acak lirik dimulai kembali (untuk kualifikasi ke final), yaaa lempar-lemparan itu terjadi lagi dan diaaaa (ya, dia yang sama dengan korban lemparan) kena lagi lemparan soal. Dan lagiiii… berhasil dijawab! Luar biasa episode kali itu. Sumpah, kami merasa geli. Terus geli.
Kamu tahu, kami – tanpa sadar – menjadi penonton yang terheboh hari itu. Bagaimana tidak, setiap kali bertepuk tangan, selalu kami iringi dengan teriakan-teriakan heboh. Nggak jelas. Ah, yang penting kan bikin ramai. Sampai-sampai Kak Choky meledek si finalis bernama Adwil itu (dan namanya bahkan dibercandain sama Kak Choky sebagai akronim dari Administrasi Wilayah – oke, jayus memang), “Kamu rupanya sudah punya penggemar itu. Yang di sisi kiri itu paling ramai.” Kami tertawa. Jelas. Kapan lagi bisa teriak sepuasnya. Apalagi di tengah hawa dingin itu, bisa sedikit menghangatkan badanmu!
Yang jelas, sepanjang akhir taping itu, kami bersepuluh adalah penonton yang PALING NGGAK JELAS TERIAKANNYA. Ah, sebodo amat… Yang penting kami hepi. Puasa-puasa nggak terasa.

180810 - #3: Live shooting? Kejutan!


Setelah taping untuk kloter pertama selesai, kami kira kami akan istirahat siang untuk shalat dhuhur. Nyatanya: kejutan, beluuuum. Belum saatnya break. Kami harus lanjut menjadi penonton untuk sesi live-nya. Yang ini edisi anak-anak, jadi 14 orang peserta anak-anak berusia 7-13 tahun berdatangan bersama pendampingnya. Ah, dandanan mereka lucu-lucu!!!
Seperti biasa, aturan main sama dengan yang tadi. Aturan kuis sama. Babak tebak lagu, babak acak lirik. Karena live, kami jadi bisa langsung melihat bagaimana yang sesungguhnya terpampang di layar televisi. Ketika iklan kami berhenti. Iklan selesai kami beraksi lagi. Pengisi acara tampil berseru-seru. Oh ya, pengisi acara untuk sesi live ini adalah The Dance Company dan Raflesia. The Dance Company membawakan 2 lagu, Raflesia 1 lagu. Aryo, Pongky, Baim, dan Nugie ngebanyol. Ledek-ledekan soal mantan band masing-masing di sela-sela iklan. Hahahaha.
Dan kamu tahu? Ada salah satu lagu yang membuat kami ngakak sepanjang kloter kedua. Salah satu lagu itu adalah: Surti Tejo. Astagaaaaa, sungguh lagu yang bahaya kalau anak-anak mendengar liriknya! Tapi mengherankan, dari 7 anak, ada 1 yang berhasil menebak lagu itu! XD
Setelah sesi live selesai, kami diberi waktu untuk break shalat. Nggak mungkin makan, lah. Kan puasa.

180810 - #2: Taping sesi pertama dan Menggigil


Bagi saya pribadi yang tak punya pengalaman untuk rekaman di studio televisi, pasti ada rasa ingin tahu yang besar dan penasaran (apa bedanya???) dengan kondisi dan situasi di dalam. Ketika masuk pintu… Oh, Tuhan. Inikah studio? Eerr… cukup besar, tapi ini terhitung kecil. Tapi kok di TV bisa kelihatan luas? Ah, kamera. Hahaha.
Dan yang menyambut kami adalah hawa dingin yang super. Waaa, gila, dingiiiiin banget. Awal-awal pun gigi saya gemeletuk. Tapi menjelang akhir-akhir perasaan dinginnya sudah berkurang. Mungkin karena berangsur aktif? :P
Di awal, kami diberi instruksi, apa yang harus kami lakukan sebagai penonton. Para peserta sudah diberi instruksi terlebih dulu. Sebagai penonton, tentu saja tugas kami adalah meramaikan acara. Sang director menginstruksikan kapan kami harus berdiri, tepuk tangan sambil berseru seheboh-hebohnya (kalau perlu sampai serak :P). Biasa, awalnya kami (baca: kami yang dari FKM ini) sungkan. Jadi suaranya kecil, malu-malu mau teriak. Sementara di belakang kami (kami di deret paling belakang) kru lainnya ada yang berteriak kenceng banget. Ah tapi yang lain juga nggak heboh banget. Apalagi yang paling depan, padahal kan mereka yang paling kesorot, harusnya lebih heboh dong. Takut haus? Puasa-puasa jadi ibadah, itu celetukan dari salah satu kru. Ibadah sih ibadah pak… tapi begini amat. Hahaha.
Taping dimulai dengan merekam penampilan artis pengisi acara, T2 dan Merpati Band. Yang pertama adalah T2, membawakan 2 lagu. Kami berdiri. Camera acts – kami berseru. T2 menyanyi. Selesai. Kami berseru – Camera stop. Kami duduk. Kami berdiri lagi. Camera acts – kami berseru. T2 nyanyi lagu kedua. Selesai. Kami berseru – Camera stop. T2 keluar, ke lokasi selanjutnya. Yah, begitulah kalau taping buat acara yang nggak live. Video editor lah yang menjadi juru kendali untuk keseluruhan acara nantinya. Oh ya, hal di atas juga terjadi ketika Merpati Band tampil. Hahaha. Kerjaan penonton begini amat yak. Tapi kalau nggak ada penonton, sebuah acara nggak akan ada. Ya, kan?
Setelah taping, saat yang ditunggu – acara pokoknya – tiba: kuisnya. Dua orang penari muncul dan membuka acara. Dua? Iya, awalnya juga pada bertanya-tanya kenapa cuma dua. Katanya ada yang sakit, ada yang nggak izin. Tapi akhirnya ada empat kok. Yang satu muncul tak lama kemudian, satu lagi datang ketika taping kloter pertama selesai.
Dan MC-nya. Hahaha. Siapa lagi kalau bukan Kak Choky Sitohang. Dengan baju koko berwarna cokelat ia membawakan acara dengan santai. Waaa. Ibed (ketua OSUI Mahawaditra periode 2009-2010) pasti mupeng berada sedekat ini dengan Kak Choky. Wakakakak.
Di dalam saya jadi mengerti bagaimana situasi ketika kuis sedang berlangsung. Saya yang hampir tidak pernah menonton acara ini, tiba-tiba datang  menonton secara langsung, dan jadi tahu bahwa menonton langsung lebih terasa lucunya. Haha. Gregetnya juga beda. Seolah kita gemas kepada peserta yang butuh waktu lama untuk menjawab soalnya.

180810 - #1: OKK UI 2010, Team Up, Kereta Indonesia


Hari ini kami akan berperan sebagai penonton dalam salah satu acara kuis musik televisi swasta. Rencana kami, yang berangkat dari Depok kumpul di FKM pukul 6.30 pagi. Yah, baiklah. Saya telat berangkat. Pukul 6.30 baru berangkat. Karena saya pikir akan lama, saya meng-SMS salah satu teman yang juga akan berangkat dari Depok. Ketika saya membaca balasannya, la-la-la, dia juga baru berangkat dari kosannya di kukel. Yea, ada barengan. Hahaha. Dan benar, saya melihat dia – Adila (yang seterusnya akan saya sebut Mbee) berjalan dari pintu UI depan kosannya. Akhirnya kami berdua naik ojek sampai FKM.
Sebenarnya saya tahu hari ini adalah pelaksanaan OKK UI 2010. Tampak banyak maba (mahasiswa baru) berjalan menuju ke balairung. San-tai. Sangat santai. Kontras sekali dengan OKK UI 2009. Dulu, jaman saya di-OKK, panitia-panitia sudah standby di titik-titik tertentu untuk memerintahkan kami berjalan sampai balairung. Yang diantar? Yaaaa… turunlah kamu dari kendaraan. Kamu harus jalan kaki. Teriakan-teriakan sok kesal dari panitia kerap terdengar. Yang nyuruh cepat lah, yang jangan lelet lah. Tapi semua itu sirna di OKK UI 2010. Seperti apa konsep dari panitia tahun ini sebenarnya?
Yak, itu curhatan senior 2009. Hahaha.
Sesampainya kami berdua di FKM, kami segera berkumpul dengan yang lainnya di BKM lantai 1. Yak, sesudah lengkap, kami berjalan ke stasiun Pondok Cina untuk naik kereta. Awalnya saya bahkan tak terpikir untuk naik kereta. Saya ikut ya ikut saja, masalah transport belakangan. Hahaha. Bahaya.
Kami pun masih belum terpikir mau turun dimana untuk bisa menjangkau halte busway yang mudah. Tapi akhirnya ada yang mencetuskan untuk turun di Manggarai (setelah naik kereta). Oh iya, saya juga baru ingat kalau di Manggarai ada halte busway. Padahal dulu sering lewat. Hihihi.
Ketika menunggu kereta kami datang, kereta ekonomi datang  terlebih dulu. Tentunya dengan pemandangan yang (mungkin) sudah biasa kita lihat: Penumpang tak tertib yang ingin cepat jadi pada nongkrong di atap kereta. Ckckck. Indonesia, perilaku mendarah daging.
Sesampainya di stasiun Manggarai, kami berjalan kaki ke halte busway Manggarai. Busway yang kami naiki lumayan padat. Kami transit di Dukuh Atas 2, kemudian menyeberangi jembatan untuk ke halte Dukuh Atas 1. Kami naik busway tujuan Kalideres.
Kami turun di halte Indosiar. Pas sekali haltenya berada di seberang gedung Indosiar. Kami masuk dengan… yaaah, pertama memang sungkan… Baru pertama kali (bagi saya) pengalaman untuk menjadi penonton live di studio televisi. Istilahnya adalah taping.
Baiklah, sekian awal perjalanan kami.

Selasa, 17 Agustus 2010

FKM UI Peduli Anak Bangsa 2010


"Ketika kau membagi sesuatu,
kau tidak akan kekurangan,
tetapi kau akan mendapat lebih."

 
Menyenangkan
Berbagi bersama mereka :)

FKM UI Peduli Anak Bangsa
Kampus UI Depok
Senin, 16 Agustus 2010

Senin, 16 Agustus 2010

Sepenggal cerita

Di luar,

langit menurunkan H2O-nya.
Membasahi bumi.
Dingin merebak,
udara terasa segar.

Di dalam,

manusia mengeluarkan CO2-nya.
Tidak terasa pengap,
karena sirkulasi berjalan baik.

Di dalam inilah,
kami,
dengan rasa peduli yang tinggi,
berbagi kebahagiaan,
berbagi rezeki,
berbagi ilmu,
berbagi ceria bersama mereka.
Mereka yang tidak seberuntung kami
dalam lakon hidup ini.

Tapi apakah kita merasa beruntung?
Melihat mereka,
mungkin ada bersitan rasa
'mereka beruntung'
dari diri kita.

Beruntung,
karena diberi kelebihan:
ketabahan,
kekuatan,
kesabaran,
etos kerja tinggi.

Apa yang harus kita buat?
Kesadaran, tentu.
Sadar bahwa kita lebih.
Lebih mampu,
ilmu,
harta.

Seberapa tingkat kesusahan membagi semua itu?

Nol,
jika ikhlas.

Minggu, 15 Agustus 2010

Got the meaning?

Baiklah, malam-malam begini kumatlah jiwa labil saya.

Seperti dalam tweet saya kemarin malam, ini salah satu lagu yang ingin saya nyanyikan bersama suami saya kelak. Memang kelihatannya lirik di bawah ini lebay. Tapi tetap saja, namanya juga lagu...

Kalau ada yang penasaran sama lagunya, silakan dicari streamingnya di internet :D

Suatu Malam

Entah kenapa terpikir untuk menulis seperti ini.

Sepertinya skill menulis saya sudah terkikis dibandingkan dengan jaman SMP dulu. Kok kayaknya dulu waktu menulis cerita waktu SMP bersama sahabat-sahabat saya, lancar-lancar saja, mulai dari yang serius sampai yang nggak jelas. Tapi sekarang? Belum tentu setiap hari diisi dengan kegiatan menulis...

Rasanya ingin kembali seperti dulu, dengan ide-ide konyol yang terus mengalir setiap saat, membuat sebuah -- atau dua -- cerita yang panjaaaaaaaaaaaaang tak tentu jalan ceritanya bersama sahabat-sahabat saya, tapi kalau dibaca-baca lagi memang nyambung ceritanya.

Sekarang sih boro-boro... baru menulis satu kalimat, sudah melanglang pikiran saya memikirkan bagaimana plot yang seharusnya, bagaimana lanjutannya agar ide mengalir... Ah, semua serba terlalu dipikirkan sekarang ini. Padahal menulis itu kebebasan.