Minggu, 20 Februari 2011

All the Sudden Things?

Jumat, 18 Februari 2011.
5PM - kepala cenat-cenut gak jelas tanpa henti, entah efek nunduk terus karna pakai jas hujan di boncengan motor atau karna kehujanan
7PM - masih cenat-cenut alhasil selama di perjalanan nggak nikmat banget. mana keekspos angin lagi, salah besar gw milih duduk di pinggir jendela bus.
8.30PM sampai, cenat-cenut di kepala sudah berkurang. mungkin karena atmosfir alam. baru sebentar.
9.00PM mulai acara.
10PM mulai cenat-cenut lagi.
11PM ditambah demam

Sabtu, 19 Februari 2011
12AM mata, jidat makin panas, tangan & kaki kedinginan, ditambah kebelet pipis. padahal sidang AD blom selesai.
1AM izin nggak ikut raker buat tidur duluan, minum obat demam, tidur dengan pakai jakun dilapis jaket lagi. dingin.
~3-4AM kebangun2 karna ada yang bolak-balik masuk kamar dan menjelang pukul 4 pada masuk kamar buat tidur (kasihan kalian teman2)
4-5AM kebangun2 karna ada yang masang alarm HP tapi nggak bangun juga tuh pemiliknya, jadi tuh alarm bunyi gak berenti2. keringatan banyak banget gue.
6AM akhirnya bangun dan sholat subuh. alhamdulillah sudah mulai baikan, tapi dada sebelah kiri terasa tertekan.
7AM sarapan, lanjut Team Building. sudah tidak peduli dengan keadaan fisik
3PM pulang, terasa lagi deh sakitnya di dada.
10.20PM dengan bodohnya baru tidur jam segini. udah pasrah dengan kondisi dada yang tertekan, beberapa orang sampai suggest buat periksa ke dokter dan cek darah. cuma berdoa besok sudah baik-baik saja.

Minggu, 20 Februari 2011
Alhamdulillah sudah tidak terasa sakit lagi dadanya, tapi masih suka pusing tiba-tiba. Aduh kenapa jadi lemah gini sih????

Kamis, 17 Februari 2011

Tangis

Adakah orang yang sampai pada titik tertentu dimana air mata ia keluar dengan sendirinya?

Ketika kau merasa kau mencapai batas. Batas apa pun. Mungkin ada yang tubuhnya bereaksi dengan kegiatan fisik, seni, atau apa pun. Tapi tangis adalah yang paling sederhana.

Kau membuat dirimu lelah dengan menangis. Dehidrasi karena menangis.

Namun bolehkah aku mendefinisikan tangis?

“Tangis adalah dimana seluruh emosimu, yang telah tercampur aduk selama yang kau tahan, mengalir ke luar bersama air yang disekresi oleh kelenjar lakrimal di matamu.”

Setelah kau menangis, mungkin kau akan merasakan dirimu kembali menjadi baru, kau merasa tidak ada lagi beban. Kau merasa bebas. Kau merasa emosimu telah tumpah semua keluar dari hatimu.

“Tidak ada kata sesederhana bahasa tubuh.”
image copyright *Lorelai82 @ deviantart.com

Jalan-jalan

2011.

Makin lama, hidup ini makin spontan. Maksudku dalam hal ini adalah jalan-jalan (atau pergi ke mana pun dengan atau tanpa tujuan khusus).

Awal tahun kemarin, jalan-jalan pertama dibuka dengan Rapat Kerja dan Musyawarah Besar Mahawaditra di Lembang. Ya, tentu saja ada tujuan jalan-jalannya. Sepertinya, seumur-umur aku mulai menetap di Depok, baru kali ini jalan-jalan keluar Depok. Maksudku yang sampai menginap.

Kemudian, besok. Besok akan pergi ke Sentul untuk Rapat Kerja dan Musyawarah Besar AKG FKM UI. Dan tahukah? Hal ini baru diketahui tiga hari lalu. Hmm. Spontan, tapi dilakukan juga. Kalau direncanakan sejak lama, justru tidak akan terlaksana. Baiklah, siap-siap buat besok (padahal saat ini belum ada satu potong pakaian pun yang sudah aku siapkan untuk besok).

Kemudian, bulan depan. Tapi namanya bulan depan, nyatanya tinggal 2 minggu lagi. Bulan depan, aku dan beberapa orang akan bertolak ke KL. Padahal hanya berawal dari selentingan di suatu forum untuk pergi nonton konser orchestra di KL. Dengan modal mencari tiket promo, kami nekat membeli dahulu tiket konsernya. Baru nanti berangkat atau tidak, dipikir belakangan. Sampai sekarang selentingan itu benar-benar terjadi, dan dua minggu lagi kami akan berada di KL. Dan sama sekali tidak ada sesuatu yang dilebih-lebihkan, seperti kami sudah sering melancong ke luar negeri dengan seringnya sampai merasa itu adalah hal yang biasa.

Januari, Februari, Maret sudah terisi dengan jalan-jalan. How about April?

The time when I’ll turn 20.

Foto

pohon patah di dekat tandon air UI
Aku sangat suka memotret. Apalagi candid. Ini adalah sesuatu yang suatu saat akan membuat orang lain berkata,

“Wah, coba lihat ini!”
“Wah, kapan ini? Kok nggak pernah tahu?”
“Ih, ada juga ya foto yang begini!”
“Wah, bagus nih momennya! Pas banget!”
“Wow, makasih yah waktu itu udah fotoin! Gue nggak kepikiran loh!”
“Hahaha! Ya ampun, bego bener ya waktu itu!?”

Ya, ya. Aku senang ketika foto itu dapat memberikan memori. Aku suka memotret, that’s all. Bahkan mungkin, suatu gedung yang saat ini biasa-biasa saja, suatu lahan yang saat ini kosong, suatu hutan yang saat ini rimbun, seseorang yang saat ini hanyalah orang yang biasa-biasa saja, kereta ekonomi yang selalu penuh, atau bunga yang tidak kau tahu jenisnya, bisa menjadi objek foto yang menarik.

kebersaamaan ini sulit untuk terulang
karena jadwal masing-masing yang
sangat berbeda!
Mungkin. Suatu saat objek-objek yang saat ini kau anggap tidak menarik, akan menjadi menarik pada dua, tiga, sepuluh, atau dua puluh tahun kemudian.

Bisa saja.

Gedung yang dulunya biasa, kini menjadi modern dengan desain yang berbeda, dan seseorang merasa nostalgia ketika memandang foto lama gedung tersebut.

Lahan yang dulu kosong, kini telah dibangun suatu cluster atau townhouse di atasnya, dan orang-orang yang dulu adalah anak-anak yang sering bermain di lahan kosong tersebut akan merasa rindu akan masa kecil mereka ketika mereka bermain di lahan kosong terebut.

Hutan yang dalam foto rimbun, mungkin beberapa tahun kemudian akan hilang, digantikan oleh perumahan, atau apartemen, atau mall, atau apapun, dan akan ada yang merindukan kerik jangkrik, kicau burung, dan udara segar dari hutan tersebut.

Seseorang yang dulu kau foto hanya untuk keperluan buku tahunan sekolah, atau foto formal 3x4 untuk KTP, di kemudian hari akan menjadi orang penting, pejabat, penemu, ilmuwan, atau siapa pun yang merupakan orang dengan pamor mendunia.

Kereta ekonomi yang banyak tertangkap lensa kamera, dengan penumpang sampai duduk di atap kereta, mungkin dalam beberapa waktu kemudian dapat menjadi bahan kenangan, ketika semua kereta ekonomi dihapuskan dan diganti dengan yang lebih modern.

Bunga yang tidak kau tahu jenisnya, yang secara tidak sengaja kau temukan dan kau abadikan melalui foto, suatu saat menjadi bunga yang langka, dan tidak ada seorang pun yang berpikir untuk memotretnya sebanyak kau punya, dan siapa tahu? Mungkin karya fotomu lah yang akan sering dipakai untuk dijadikan hiasan majalah, hiasan undangan, atau apa pun.

Bahkan, kisah dari suatu negara, sepasang suami-istri yang memiliki anak dengan kelainan genetis dan divonis tidak bisa hidup lebih dari beberapa bulan. Pasangan tersebut sangat shock. Walau shock, mereka akhirnya pasrah dan memilih untuk mengabadikan tiap hari which they could spent with their poor baby. Mereka memiliki sebuah buku diary-album, dimana mereka mengisi buku-album tersebut sebagaimana diary dengan foto dan keterangan mengenai apa yang mereka lakukan pada hari itu. Apa yang mereka lakukan pada hari bayi mereka dilahirkan, bagaimana hari ke-10 mereka lalui, bagaimana di hari kesekian sang bayi berjuang mempertahankan hidupnya, hingga akhirnya sang bayi meninggal. Namun pasangan tersebut tetap menyelesaikan buku-album tersebut, seolah-olah suatu saat mereka akan memperlihatkannya pada sang bayi…

Itulah sebabnya aku menyukai fotografi. Tidak harus berilmu jika kau memang melakukannya atas dasar kesukaan dan tidak menjadikannya sebagai suatu profesi khusus. Kau tidak perlu berilmu untuk mengabadikan gambar suatu momen dalam suatu saat. Hanya rasa suka sudah cukup.

A moment can’t wait to be captured.”

pemandangan taman bougenville FKM UI dari lobi gedung A FKM UI.
How I love the panorama feature of my mobile phone!

17 Februari 2011

Membaca komik benar-benar berpengaruh besar pada kekuatan fantasiku.

Genre komik yang aku suka adalah yang biasa saja. Berkisar pada daily life, school life, light adventurous journey, food, atau hanya sekedar gag comic.

Tiap kali membaca satu judul komik berseri, aku selalu berkhayal, membayangkan, bahwa aku sedang berada dalam situasi yang sama dengan jalan cerita komik itu. Setelah itu pasti aku menjadi labil. Dan yang timbul selanjutnya adalah fase “What If”.

What if
I was them
Who involved in such situations?

What if
I was them
Who do such things?

What if
I was them
Whose emotions are drig-dragged?

Dan ketika sadar, aku merasa biasa saja. Aku adalah aku, dan penentu ceritaku bukan komikus. Aku. Sesaat aku merasa beruntung. Karena emosiku tidak dipermainkan semudah komikus menggambar ekspresi tokoh-tokoh komiknya. Karena aku tidak perlu lari-lari seperti halnya tokoh komik tersebut mengkhawatirkan orang yang kusayangi.

Oke, labil.

Jumat, 11 Februari 2011

This Overwhelming Feeling --

... about this new semester. 4th.

A bunch of practicums and its reports, tutorial classes with a bunch of case-scenarios, being a deputy of Infokom division of AKG, and Head of PR division of Mahawaditra. Well yeah, I didn't predict that this semester's gonna be tough.

Rabu, 09 Februari 2011

...do really want to post photo-stories!

Yea... kehidupan macam pegawai kantoran dimulai. Sedikit waktu untuk keluarga, dikarenakan jadwal menggila dan tugas gak kalah edan... Kalau diringkas: 7 hari dalam seminggu, hidup penuh 'gizi'.

Sebenarnya keinginan untuk sering mengepost photo-stories sudah terpikir sejak lama. Namun baru-baru ini ada kabar mengenaskan dari laptop saya. Error di sana-sini. Error 619, malfunctioned modem, lalalalalalalaaaa. Seandainya ada yang berbaik hati meminjamkan external harddisk (atau membelikan saya juga boleh :P *dihajar massa*) maka niscaya saya akan segera membetulkan sistem lepi tersebut... dan segala masalah teratasi sudah. Sepertinya itu karena sudah kebanyakan diisi program aneh-aneh -- install/uninstall -- makanya jadi aneh juga. Mana optik DVD nya rusak, jadi nggak bisa make DVD-rom nya... kurang lengkap apa coba ini penderitaan si lepi...

Bahkan sekedar transfer foto dari HP pun malas rasanya. Karena kalau mau upload harus via PC. Nggak bisa via laptop karena modem apa pun yang dicolokin, laptopnya nggak sudi menerima keberadaan modem tersebut.

Jadi... mohon kebaikan hatinya dalam hal external harddisk *deep bow*

xD

Rabu, 02 Februari 2011

Cerita Sebuah Kereta Ekspres

Kalau dilihat,
diperhatikan,
kereta ekspres itu lucu, lho.
Dalam arti sebenarnya.

Lajunya mulus,
tanpa hambatan,
bak presiden mau lewat,
semua kereta lain disuruh menepi.

Geraknya naik-turun.
Seperti balerina,
selang-seling,
halus, namun pasti.

Namanya kereta,
tentu saja bergandengan.
Bak teman-teman baik,
setia, tak ada yang tertinggal.

Ekspres.
Cepat.
Yah, itulah kereta ekspres!
Harga tiketnya sembilan ribu rupiah.

Kupu-kupu Kecil (4)

Namun ternyata,
umur sang kupu-kupu kecil
tidak panjang, sayang,
malang.

Ia melemah,
gerakannya tak seluwes ketika ia lahir.
Perlahan. Tak pasti.
Hampir mati.

Aku sedih.
Kupu-kupu kecil itu
tak akan ada menemaniku
lagi.

Mungkin memang sudah saatnya.
Setiap kehidupan memiliki jangka,
kapan ia lahir - dan kapan ia mati.
Dan kupu-kupu kecil ini,
inilah saat bagi dirinya.

Mungkin suatu saat nanti,
akan ada kupu-kupu kecil lainnya.
Yang lebih indah,
menawan. Mempesona.
Yang akan membuatku menari lebih indah.

Kupu-kupu Kecil (3)

Hei kalian!
Tak tahukah?
Walau kecil,
tapi jumlah kalian banyak!

Aku geli!
Kalian seolah hinggap,
berjalan, merayap,
di sekujur tubuh!

Tampaknya,
walau aku mengibas sekuat tenaga,
kalian tak akan pergi.
Tetap, statis, di sini.

Kalian membuatku menggerakkan tubuh.
Dan sukses,
dari kibasan tu,
aku malah terlihat menari.

Kupu-kupu Kecil (2)

Kupu-kupu kecil berkembang biak,
bertelur, kan?
Tapi kenapa kupu-kupu ini
bisa membelah diri?

Simultan.
Kontinu.
Berkelanjutan.
Seenaknya!

Aku tidak meminta ia.
Tapi mungkin,
tanpa sadar,
ya, aku meminta ia.

Kupu-kupu kecil yang makin banyak,
menari dengan indah.
Namun kini mereka berkoloni,
membuatku tersentuh lebih geli.

Aku makin tak nyaman.
Tak menentu.
Sebaiknya aku tetap bisu dulu.
Bebas, leluasa.
Sampai nanti aku dapat
berbicara dan bersenda
dengan mereka.