Rabu, 27 April 2016
Warunk Dreamer: Si Kuning di Jalan Asmawi
Karena belakangan tempat makan berjamur di dekat rumah saya, jadi saya semakin termotivasi untuk mencicipi satu per satu. (((motivasi))) Salah satunya adalah si kuning yang tampak mencolok di jalan H. Asmawi yang hanya muat 2 jalur ini, Warunk Dreamer. Tidak sulit dicari, karena ada neonboardnya, dan letaknya di seberang apotek K-24.
Senin, 18 April 2016
Warung Bakmi Gerobak Kuning, Tanjung Duren
Kalau saya bikin review tempat makan, itu artinya tempat makan itu enak (setidaknya bagi saya, hehehe). Dan saya tidak akan ragu untuk merekomendasikan tempat makan enak bagi orang lain, karena siapa tahu seleranya sama.
Kamis, 14 April 2016
Mengurus Perpanjangan Paspor Biasa ke E-Paspor, Mudah!
Dengan semakin membaiknya sistem pelayanan pemerintahan Indonesia, kini membuat paspor tak terasa merepotkan dan aman dari calo. Termasuk bagi saya. Hari ini saya telah mengurus perpanjangan paspor saya yang habis pada bulan Januari kemarin. Biar sekalian (siapa tahu saya ada kesempatan ke Jepang mewujudkan impian, hihihi), saya perpanjang paspor saya menjadi e-paspor.
Senin, 11 April 2016
Kekosongan yang Memenuhi Benak
Apakah hal ini berlebihan atau tidak, saya tidak tahu pasti, tapi saya masih merasa sedih atas kepergian Pakde saya, kakak lelaki Papa yang ketiga. Empat puluh tiga hari sejak tanggal kabisat itu, ketika saya mendengar sebuah kabar yang membuat tangis saya pecah di ruangan atasan saya saat meminta izin pulang cepat.
Empat puluh tiga hari, tidak selalu saya lalui dengan mengenang Pakde. Tetapi ada kalanya saat saya melihat status media sosial sepupu saya yang merupakan anak dari Pakde, atau saat saya tidak sengaja menemukan foto Pakde ketika sedang membuka-buka folder foto di penyimpanan luar, selalu ada rasa seperti ditekan di bagian nasofaring. Dan sembunyi-sembunyi saya membiarkan tekanan itu melesak hingga pipi saya basah dibuatnya dan beberapa helai tisu menjadi peredamnya.
Siapa kah Pakde bagi saya? Saya sendiri merasa bahwa saya tidak dekat-dekat amat dengan beliau. Tapi mungkin kalian akan berkata, 'Masa, sih?' atau, 'Bohong,' saat melihat saya menangis ketika membicarakan hal mengenai Pakde.
Ketika mendengar kabar duka untuk pertama kali di pagi hari itu, saya menangis. Ketika menyaksikan prosesi pemakaman mulai dari tibanya jasad almarhum Pakde hingga tanah kubur rapi menutup dan ditabur kelopak bunga serta diguyur air mawar, saya tegar, meski ketika tali kafan dibuka saya sudah merasa sesak luar biasa. Ketika pengajian 7 hari Pakde, saya tegar. Ketika pengajian 40 hari Pakde, saya gagal untuk tetap tegar. Saya menangis di kursi di teras, di depan saya ada sebaris bangku yang diduduki oleh keluarga, termasuk Papa di sana. Saya tak peduli, saya rindu Pakde.
Rindu apanya?
Rindu keberadaannya, mungkin. Rindu komentarnya, mungkin. Rindu tawanya, mungkin.
Kemungkinan-kemungkinan itu karena saya tidak tahu pasti. Kenapa rasanya tidak terlalu dekat, tetapi ketika berpisah merasa sakit?
Mungkin waktu akan mengurangi frekuensi kesedihan ini, mungkin juga tidak. Bisa jadi ketika menemukan foto lama yang ada Pakde di dalamnya, paru-paru ini mendadak seperti disumbat.
Ini kali pertama, sepanjang ingatan saya, saya merasakan kesedihan yang mendalam karena kehilangan sanak. Itulah yang membuat saya bertanya-tanya, sedekat apa saya dengan Pakde hingga saya merasa sampai segininya sentimen.
Ini tentang Pakde. Saya belum mau membayangkan jika saya berada di posisi sepupu saya, menulis status media sosial mengenai hari-hari tanpa orangtuanya, mengenai mimpi yang ada orangtuanya, mengenai peninggalan orangtuanya, mengenai nasihat orangtuanya. Saya belum mau. Manusiawi, kan?
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Meski begitu, saya ingin agar bisa menyempurnakan keluarga saya dengan cara saya. Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan dan ampunan Allah, aamiin.
PS: Saya tidak mau pasang foto, nanti baper. Sudah cukup bapernya ketika menulis ini saja.
Empat puluh tiga hari, tidak selalu saya lalui dengan mengenang Pakde. Tetapi ada kalanya saat saya melihat status media sosial sepupu saya yang merupakan anak dari Pakde, atau saat saya tidak sengaja menemukan foto Pakde ketika sedang membuka-buka folder foto di penyimpanan luar, selalu ada rasa seperti ditekan di bagian nasofaring. Dan sembunyi-sembunyi saya membiarkan tekanan itu melesak hingga pipi saya basah dibuatnya dan beberapa helai tisu menjadi peredamnya.
Siapa kah Pakde bagi saya? Saya sendiri merasa bahwa saya tidak dekat-dekat amat dengan beliau. Tapi mungkin kalian akan berkata, 'Masa, sih?' atau, 'Bohong,' saat melihat saya menangis ketika membicarakan hal mengenai Pakde.
Ketika mendengar kabar duka untuk pertama kali di pagi hari itu, saya menangis. Ketika menyaksikan prosesi pemakaman mulai dari tibanya jasad almarhum Pakde hingga tanah kubur rapi menutup dan ditabur kelopak bunga serta diguyur air mawar, saya tegar, meski ketika tali kafan dibuka saya sudah merasa sesak luar biasa. Ketika pengajian 7 hari Pakde, saya tegar. Ketika pengajian 40 hari Pakde, saya gagal untuk tetap tegar. Saya menangis di kursi di teras, di depan saya ada sebaris bangku yang diduduki oleh keluarga, termasuk Papa di sana. Saya tak peduli, saya rindu Pakde.
Rindu apanya?
Rindu keberadaannya, mungkin. Rindu komentarnya, mungkin. Rindu tawanya, mungkin.
Kemungkinan-kemungkinan itu karena saya tidak tahu pasti. Kenapa rasanya tidak terlalu dekat, tetapi ketika berpisah merasa sakit?
Mungkin waktu akan mengurangi frekuensi kesedihan ini, mungkin juga tidak. Bisa jadi ketika menemukan foto lama yang ada Pakde di dalamnya, paru-paru ini mendadak seperti disumbat.
Ini kali pertama, sepanjang ingatan saya, saya merasakan kesedihan yang mendalam karena kehilangan sanak. Itulah yang membuat saya bertanya-tanya, sedekat apa saya dengan Pakde hingga saya merasa sampai segininya sentimen.
Ini tentang Pakde. Saya belum mau membayangkan jika saya berada di posisi sepupu saya, menulis status media sosial mengenai hari-hari tanpa orangtuanya, mengenai mimpi yang ada orangtuanya, mengenai peninggalan orangtuanya, mengenai nasihat orangtuanya. Saya belum mau. Manusiawi, kan?
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Meski begitu, saya ingin agar bisa menyempurnakan keluarga saya dengan cara saya. Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan dan ampunan Allah, aamiin.
PS: Saya tidak mau pasang foto, nanti baper. Sudah cukup bapernya ketika menulis ini saja.
Sabtu, 01 Agustus 2015
Waroeng Mee, Semacam Tempat Nongkrong
Dari semboyannya saja, sudah ketahuan bahwa tempat ini untuk nongkrong. Mulai dari sajian, dekorasi, peralatan makan, semuanya khas tempat nongkrong kekinian.Waroeng Mee
Lokasi: Jalan Blora, dekat Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat
Waktu Buka: (belum tanya, nanti diupdate)
Sajian: Makanan berat dan kudapan Indonesia
Harga: Rp5.000,00 - Rp60.000,00
Waroeng Mee ini lokasinya sangat menguntungkan, dilalui oleh banyak karyawan ketika pergi dan pulang kerja. Dekorasinya dari luar tampak menarik perhatian, sehingga banyak yang mampir untuk menjajal menunya.
Okiniiri Restaurant [SUDAH TUTUP]
Sebagai pecinta kuliner Jepang, saya tertarik untuk mencoba makan di Okiniiri Restaurant saat ada pengumuman bahwa tempat makan tersebut akan buka di lantai basement gedung kantor saya. Dan akhirnya setelah buka, saya kesampaian untuk makan di sana.
Okiniiri Restaurant
Lokasi: The City Tower lantai B1, Jakarta Pusat
Waktu Buka: Senin-Jumat 7.00-19.00, Sabtu 08.00-15.00
Jenis Masakan: Jepang
Harga: Rp12.000,00 - Rp35.000,00
Kamis, 02 Juli 2015
Review Alcatel Onetouch Flash Plus
Sebagai salah satu perangkat yang paling ditunggu dan selalu sold out dalam satu jam pertama penjualannya di Lazada, ponsel yang satu ini layak dibuat ulasannya oleh saya yang belum pernah membuat artikel khusus yang mengulas perangkat seperti ini. Metode penjualannya adalah Flash Sale, sebuah cara penjualan yang pertama kali diterapkan oleh Xiaomi beberapa waktu lalu, di mana sang calon pembeli harus melakukan pendaftaran terlebih dulu di sebuah website tertentu untuk memperoleh pengingat ketika penjualan akan dimulai (dan kemungkinan untuk mendapatkan voucher cashback).
Di Indonesia, basisnya sudah cukup besar, dan service center-nya pun sudah terdapat di beberapa kota besar.
Langsung saja ulasan Alcatel Onetouch Flash Plus (AOFP) saya mulai per kategori:
Di dalam kotak: 1x ponsel Alcatel Onetouch Flash Plus, 1x kepala charger, 1x kabel micro-USB, 1x kartu garansi, 1x earphone, 1x pouch Flash Plus (bisa digunakan untuk mengemas charger dan earphone-nya)
Dimensi: 152.3 x 76.4 x 7.95 mm
Berat: 147g
Warna: Gold dan Slate
Harga: Rp1.899.000 (Baru), Rp - (Bekas)
Harga di bawah 2 juta dengan kemampuan gahar? Bagaimana mungkin ponsel ini tidak menjadi primadona di kelasnya. Dengan harga serupa, dari merk-merk terkenal lainnya, spesifikasi yang diperoleh mungkin belum sekuat AOFP. Dengan dua pilihan warna yang elegan yaitu Gold (emas) dan Slate (biru tua), bagian belakang bodi ponsel ini menggunakan bahan plastik. Mungkin terasa licin, tetapi saat ini sudah banyak beredar aksesoris yang membantu memperbaiki pengalaman menggenggam AOFP. Mulai dari jellycase, flipcase, hingga tempered glass untuk AOFP semua sudah tersedia di berbagai toko online.
DESAIN
Layar: 5.5” HD, 1280 x 720 pixels, IPS 16M color display, capacitive 5 points touch with gesture
Proximity Sensor: Yes
Sensor Cahaya: Yes
Ukuran layarnya mungkin sedikit terlalu besar bagi yang menyukai hal ringkas, tapi cukup memuaskan untuk yang kurang suka untuk menyipitkan mata saat melihat apa yang ada di layar. Ponsel ini bisa dikategorikan sebagai phablet karena ukurannya. Kerapatan layar sebesar 267ppi membuat gambar yang ditampilkannya terlihat tajam dan jernih, sangat memanjakan mata ketika menonton film maupun bermain game.
KAMERA
Kamera Utama: 13 MP AF, geo-tagging, HDR, panorama, night mode, sport mode, smile detection, burst mode, timer, Video stabilization (EIS), QR code scanner
Autofokus: Ya
Digital Zoom: Ya
Kamera Depan: 8 MP FF
LED Flash: Ya
Pemutar Video: 1080@30fps
Pengambilan Gambar Video: 1080@30fps
Video Codec: H.264, H.263, MPEG-4, XVID, VP8, VC1, MKV
Video Streaming: Ya
Sebagai ponsel yang menggadangkan kemampuan selfie, harus diakui kamera depan dengan kemampuan sebesar 8MP dapat menangkap foto selfie dengan kualitas mulus dengan pencahayaan cukup. Untuk di tempat yang pencahayaannya kurang, kualitas fotonya mungkin tidak beda dengan kamera ponsel lainnya, tapi tanpa cahaya, memang mau jadi apa? AOFP tidak memiliki fitur flashlight di depan, sehingga kita harus pintar-pintar mencari sudut yang tepat agar bisa menangkap cahaya yang cukup ketika selfie.
Fitur self-timer hanya tersedia ketika dalam mode kamera depan, tidak dengan kamera belakang. Pun tidak ada pilihan yang tersedia, karena self-timer tersebut sudah paten di jangka 3 detik. Setelan lainnya ada face beauty yang akan memperhalus wajah yang terdeteksi oleh kamera.
Kamera utama dengan kemampuan sebesar 13MP? Apa lagi yang diragukan? Hasil gambar yang tajam, jika ditambah dengan fitur HDR, memuaskan. Anda juga dapat memotret dengan efek bokeh dengan mengatur fokus objek yang akan difoto. Jarak terdekat yang memungkinkan fokus pada suatu objek dengan latar buram sekitar 7-8 sentimeter. Semisal saya memotret earphone yang diikat dengan cord holder Hello Kitty di bawah ini.
Sementara untuk hasil foto outdoor di malam hari, saya mencoba memotret di Stasiun Sudirman.
Dengan penerangan dari lampu neon stasiun dan lampu jalan berwarna kuning, cahaya yang ditangkap cukup mumpuni untuk menghasilkan foto yang terang. Oh ya, untuk kamera utama ini, Anda juga dapat mengatur fokus dan colour netral picker seperti halnya iPhone untuk mendapatkan penerangan yang sesuai.
Untuk pengambilan gambar outdoor di pagi hari, di bawah ini adalah beberapa hasil di daerah Thamrin-Sudirman.
Pengaturan kamera utama lainnya adalah filter dan Fix Me, di mana pada fitur Fix Me ini Anda dapat melakukan pengaturan pada exposure, brightness, contrast, white balance, dan ISO.
Sayangnya, kamera utama AOFP bentuknya menonjol sehingga rentan tergores bila AOFP tidak dilindungi casing.
Tip: dari lockscreen, jika Anda geser layarnya ke kiri atau kanan, Anda akan langsung masuk ke mode kamera.
FITUR
OS: Android 4.4 KitKat
Jaringan: GSM Quadband 900/1800/1900, UMTS 900/2100, FDD-LTE: B1/3 TDD-LTE: B38/39/40/41 (7054T)
CPU: Octa Core 1.5 GHz CPU
4G LTE: 4G LTE category 4, 150Mbps Downlink, 50Mbps Uplink
HSPA: DC HSPA+ 42 Mbps Downlink, 5.76 Mbps Uplink
Wi-Fi: Wi-Fi 802.11 b/g/n, Wi-Fi direct, Wi-Fi- Display, Wi-Fi Hotspot
Bluetooth: 4.0
Micro USB: 2.0
A-GPS: GPS with A-GPS
G-sensor: Ya
Internal Memory: 16 GB ROM
RAM: 2GB RAM
Micro SD Card: hingga 32 GB
Memori Efektif: 12 GB
Lainnya: USB Modem Tethering: Plug & Play, Micro SIM (Hot swap), EAP SIM, One finger zoom, Multi-Tap wake up, Mini Apps, Download Booster
Android Kitkat bukan masalah besar bagi saya. Namun semoga Alcatel mendapat upgrade ke Lollipop dalam waktu dekat untuk mengefisiensikan penggunaan daya. Dengan kemampuan terkoneksi ke jaringan 4G, berselancar di dunia maya bukan lagi masalah. Namun perlu diketahui, jaringan 4G yang didukung oleh AOFP adalah yang berada di band 1800, yaitu misalnya provider XL yang memang menjadi bundling dari pembelian ponsel ini. Untuk Telkomsel, 4G berada di band 900 sehingga tidak bisa digunakan di AOFP, sayangnya.
RAM 2 Gb memberi ruang yang leluasa untuk multitasking. Sedang bermain game, lalu ingin buka Facebook, atau ingin update Instagram, atau buka email? Tidak masalah, dengan lancar AOFP akan menemani Anda untuk melakukan semuanya. Memori internal sebesar 16Gb rasanya sudah cukup untuk menampung data, tetapi ketika Anda memerlukan yang lebih, microSD hingga ukuran 32Gb dapat dipasang untuk menunjang kebutuhan penyimpanan data. Prosesor Octacore membuat aplikasi dengan grafis berat dapat berjalan mulus. Terutama jika bermain game yang mengutamakan sinkronisasi suara dan gerakan, tidak ada lag ketika sedang bermain.
GPS yang disematkan di perangkat ini akurat sekali. Sangat membantu ketika kesasar dan butuh petunjuk jalan, AOFP dapat mendeteksi lokasi kita dan memberikan jalan terbaik. Tentunya dengan koneksi internet yang cukup, ya.
Fitur lain yang saya suka adalah Multi-Tap Wake Up, di mana ketika kondisi layar mati kita dapat 'membangunkan' AOFP dengan cara tap sebanyak 2 kali di layarnya. Cara ini saya sukai karena mengurangi intensitas power button ditekan berkali-kali.
KUALITAS SUARA
Pemutar Musik: MP3, MIDI, FLAC, Vorbis, AAC, AAC+, AMR, PCM, M4A, OGG, OGG+, Apple lossless
FM Radio RDS: Ya
HAC: M3
OMA: DRM 1.0
Handsfree: Ya
Flight Mode: Ya
Mode Getar: Ya
Flip to Mute: Ya
Tidak banyak komentar saya dari segi suara, karena kualitas suara yang dihasilkan AOFP cukup bagus untuk ponsel di kelasnya. Rekaman suara dalam mode High sangat jernih. Fitur FM Radio pun bisa menghibur di kala ingin mendengar siaran radio, sebuah fitur yang jarang ada di ponsel-ponsel high-end.
BATERAI
Baterai: Lithium 3500mAh (tidak dapat dilepas)
Waktu Bicara: hingga 12 jam
Waktu Siaga: hingga 650 jam
Waktu Charging: hingga 4 jam
Sebagai Pemutar Musik: hingga 75 jam (headset) / 60 jam (loudspeaker)
Inilah salah satu bagian yang menjadi pertimbangan saya: kapasitas baterai. Daya sebesar 3500mAh sangat menunjang kebutuhan bagi para pengguna ponsel yang intens. Meski begitu, perlu diingat baik-baik bahwa daya tahan baterai bergantung pada banyak faktor. Misalnya, sinyal jaringan. Jika kita browsing di tempat yang sinyalnya kurang bagus, itu akan mempengaruhi konsumsi baterai ponsel karena ponsel akan bekerja keras untuk mencari jaringan yang cukup. Pun ketika banyak aplikasi yang berjalan di background, hal ini juga mempengaruhi daya tahan baterai. Lebih baik matikan aplikasi yang jarang atau tidak digunakan sama sekali, mungkin uninstall saja sekalian.
Nah, sekian dulu review dari saya, jika ada tambahan akan saya update nanti. Jika ada yang ingin kalian tahu tapi belum tercantum di sini, silakan tinggalkan komentar, akan saya tambahkan bahasannya.
Overall, Alcatel Onetouch Flash Plus adalah ponsel yang bisa menjawab semua kebutuhan masyarakat kekinian ;)
Salam,
Anda
Di Indonesia, basisnya sudah cukup besar, dan service center-nya pun sudah terdapat di beberapa kota besar.
Langsung saja ulasan Alcatel Onetouch Flash Plus (AOFP) saya mulai per kategori:
![]() |
| sumber: Alcatel Onetouch Indonesia |
Dimensi: 152.3 x 76.4 x 7.95 mm
Berat: 147g
Warna: Gold dan Slate
Harga: Rp1.899.000 (Baru), Rp - (Bekas)
Harga di bawah 2 juta dengan kemampuan gahar? Bagaimana mungkin ponsel ini tidak menjadi primadona di kelasnya. Dengan harga serupa, dari merk-merk terkenal lainnya, spesifikasi yang diperoleh mungkin belum sekuat AOFP. Dengan dua pilihan warna yang elegan yaitu Gold (emas) dan Slate (biru tua), bagian belakang bodi ponsel ini menggunakan bahan plastik. Mungkin terasa licin, tetapi saat ini sudah banyak beredar aksesoris yang membantu memperbaiki pengalaman menggenggam AOFP. Mulai dari jellycase, flipcase, hingga tempered glass untuk AOFP semua sudah tersedia di berbagai toko online.
DESAIN
Layar: 5.5” HD, 1280 x 720 pixels, IPS 16M color display, capacitive 5 points touch with gesture
Proximity Sensor: Yes
Sensor Cahaya: Yes
Ukuran layarnya mungkin sedikit terlalu besar bagi yang menyukai hal ringkas, tapi cukup memuaskan untuk yang kurang suka untuk menyipitkan mata saat melihat apa yang ada di layar. Ponsel ini bisa dikategorikan sebagai phablet karena ukurannya. Kerapatan layar sebesar 267ppi membuat gambar yang ditampilkannya terlihat tajam dan jernih, sangat memanjakan mata ketika menonton film maupun bermain game.
KAMERA
Kamera Utama: 13 MP AF, geo-tagging, HDR, panorama, night mode, sport mode, smile detection, burst mode, timer, Video stabilization (EIS), QR code scanner
Autofokus: Ya
Digital Zoom: Ya
Kamera Depan: 8 MP FF
LED Flash: Ya
Pemutar Video: 1080@30fps
Pengambilan Gambar Video: 1080@30fps
Video Codec: H.264, H.263, MPEG-4, XVID, VP8, VC1, MKV
Video Streaming: Ya
Sebagai ponsel yang menggadangkan kemampuan selfie, harus diakui kamera depan dengan kemampuan sebesar 8MP dapat menangkap foto selfie dengan kualitas mulus dengan pencahayaan cukup. Untuk di tempat yang pencahayaannya kurang, kualitas fotonya mungkin tidak beda dengan kamera ponsel lainnya, tapi tanpa cahaya, memang mau jadi apa? AOFP tidak memiliki fitur flashlight di depan, sehingga kita harus pintar-pintar mencari sudut yang tepat agar bisa menangkap cahaya yang cukup ketika selfie.
Fitur self-timer hanya tersedia ketika dalam mode kamera depan, tidak dengan kamera belakang. Pun tidak ada pilihan yang tersedia, karena self-timer tersebut sudah paten di jangka 3 detik. Setelan lainnya ada face beauty yang akan memperhalus wajah yang terdeteksi oleh kamera.
Kamera utama dengan kemampuan sebesar 13MP? Apa lagi yang diragukan? Hasil gambar yang tajam, jika ditambah dengan fitur HDR, memuaskan. Anda juga dapat memotret dengan efek bokeh dengan mengatur fokus objek yang akan difoto. Jarak terdekat yang memungkinkan fokus pada suatu objek dengan latar buram sekitar 7-8 sentimeter. Semisal saya memotret earphone yang diikat dengan cord holder Hello Kitty di bawah ini.
![]() |
| Indoor, di meja kerja saya |
![]() |
| Stasiun Sudirman, peron 1 sebagai objeknya |
Untuk pengambilan gambar outdoor di pagi hari, di bawah ini adalah beberapa hasil di daerah Thamrin-Sudirman.
![]() |
| Pukul 7 pagi. Saya suka dengan warna yang ditangkap oleh AOFP |
![]() |
| Stasiun Sudirman, pukul 2 siang |
Sayangnya, kamera utama AOFP bentuknya menonjol sehingga rentan tergores bila AOFP tidak dilindungi casing.
Tip: dari lockscreen, jika Anda geser layarnya ke kiri atau kanan, Anda akan langsung masuk ke mode kamera.
FITUR
OS: Android 4.4 KitKat
Jaringan: GSM Quadband 900/1800/1900, UMTS 900/2100, FDD-LTE: B1/3 TDD-LTE: B38/39/40/41 (7054T)
CPU: Octa Core 1.5 GHz CPU
4G LTE: 4G LTE category 4, 150Mbps Downlink, 50Mbps Uplink
HSPA: DC HSPA+ 42 Mbps Downlink, 5.76 Mbps Uplink
Wi-Fi: Wi-Fi 802.11 b/g/n, Wi-Fi direct, Wi-Fi- Display, Wi-Fi Hotspot
Bluetooth: 4.0
Micro USB: 2.0
A-GPS: GPS with A-GPS
G-sensor: Ya
Internal Memory: 16 GB ROM
RAM: 2GB RAM
Micro SD Card: hingga 32 GB
Memori Efektif: 12 GB
Lainnya: USB Modem Tethering: Plug & Play, Micro SIM (Hot swap), EAP SIM, One finger zoom, Multi-Tap wake up, Mini Apps, Download Booster
Android Kitkat bukan masalah besar bagi saya. Namun semoga Alcatel mendapat upgrade ke Lollipop dalam waktu dekat untuk mengefisiensikan penggunaan daya. Dengan kemampuan terkoneksi ke jaringan 4G, berselancar di dunia maya bukan lagi masalah. Namun perlu diketahui, jaringan 4G yang didukung oleh AOFP adalah yang berada di band 1800, yaitu misalnya provider XL yang memang menjadi bundling dari pembelian ponsel ini. Untuk Telkomsel, 4G berada di band 900 sehingga tidak bisa digunakan di AOFP, sayangnya.
RAM 2 Gb memberi ruang yang leluasa untuk multitasking. Sedang bermain game, lalu ingin buka Facebook, atau ingin update Instagram, atau buka email? Tidak masalah, dengan lancar AOFP akan menemani Anda untuk melakukan semuanya. Memori internal sebesar 16Gb rasanya sudah cukup untuk menampung data, tetapi ketika Anda memerlukan yang lebih, microSD hingga ukuran 32Gb dapat dipasang untuk menunjang kebutuhan penyimpanan data. Prosesor Octacore membuat aplikasi dengan grafis berat dapat berjalan mulus. Terutama jika bermain game yang mengutamakan sinkronisasi suara dan gerakan, tidak ada lag ketika sedang bermain.
GPS yang disematkan di perangkat ini akurat sekali. Sangat membantu ketika kesasar dan butuh petunjuk jalan, AOFP dapat mendeteksi lokasi kita dan memberikan jalan terbaik. Tentunya dengan koneksi internet yang cukup, ya.
Fitur lain yang saya suka adalah Multi-Tap Wake Up, di mana ketika kondisi layar mati kita dapat 'membangunkan' AOFP dengan cara tap sebanyak 2 kali di layarnya. Cara ini saya sukai karena mengurangi intensitas power button ditekan berkali-kali.
KUALITAS SUARA
Pemutar Musik: MP3, MIDI, FLAC, Vorbis, AAC, AAC+, AMR, PCM, M4A, OGG, OGG+, Apple lossless
FM Radio RDS: Ya
HAC: M3
OMA: DRM 1.0
Handsfree: Ya
Flight Mode: Ya
Mode Getar: Ya
Flip to Mute: Ya
Tidak banyak komentar saya dari segi suara, karena kualitas suara yang dihasilkan AOFP cukup bagus untuk ponsel di kelasnya. Rekaman suara dalam mode High sangat jernih. Fitur FM Radio pun bisa menghibur di kala ingin mendengar siaran radio, sebuah fitur yang jarang ada di ponsel-ponsel high-end.
BATERAI
Baterai: Lithium 3500mAh (tidak dapat dilepas)
Waktu Bicara: hingga 12 jam
Waktu Siaga: hingga 650 jam
Waktu Charging: hingga 4 jam
Sebagai Pemutar Musik: hingga 75 jam (headset) / 60 jam (loudspeaker)
Inilah salah satu bagian yang menjadi pertimbangan saya: kapasitas baterai. Daya sebesar 3500mAh sangat menunjang kebutuhan bagi para pengguna ponsel yang intens. Meski begitu, perlu diingat baik-baik bahwa daya tahan baterai bergantung pada banyak faktor. Misalnya, sinyal jaringan. Jika kita browsing di tempat yang sinyalnya kurang bagus, itu akan mempengaruhi konsumsi baterai ponsel karena ponsel akan bekerja keras untuk mencari jaringan yang cukup. Pun ketika banyak aplikasi yang berjalan di background, hal ini juga mempengaruhi daya tahan baterai. Lebih baik matikan aplikasi yang jarang atau tidak digunakan sama sekali, mungkin uninstall saja sekalian.
Nah, sekian dulu review dari saya, jika ada tambahan akan saya update nanti. Jika ada yang ingin kalian tahu tapi belum tercantum di sini, silakan tinggalkan komentar, akan saya tambahkan bahasannya.
Overall, Alcatel Onetouch Flash Plus adalah ponsel yang bisa menjawab semua kebutuhan masyarakat kekinian ;)
Salam,
Anda
Langganan:
Postingan (Atom)








