Membaca komik benar-benar berpengaruh besar pada kekuatan fantasiku.
Genre komik yang aku suka adalah yang biasa saja. Berkisar pada daily life, school life, light adventurous journey, food, atau hanya sekedar gag comic.
Tiap kali membaca satu judul komik berseri, aku selalu berkhayal, membayangkan, bahwa aku sedang berada dalam situasi yang sama dengan jalan cerita komik itu. Setelah itu pasti aku menjadi labil. Dan yang timbul selanjutnya adalah fase “What If”.
What if
I was them
Who involved in such situations?
What if
I was them
Who do such things?
What if
I was them
Whose emotions are drig-dragged?
Dan ketika sadar, aku merasa biasa saja. Aku adalah aku, dan penentu ceritaku bukan komikus. Aku. Sesaat aku merasa beruntung. Karena emosiku tidak dipermainkan semudah komikus menggambar ekspresi tokoh-tokoh komiknya. Karena aku tidak perlu lari-lari seperti halnya tokoh komik tersebut mengkhawatirkan orang yang kusayangi.
Oke, labil.
Kamis, 17 Februari 2011
Jumat, 11 Februari 2011
This Overwhelming Feeling --
... about this new semester. 4th.
A bunch of practicums and its reports, tutorial classes with a bunch of case-scenarios, being a deputy of Infokom division of AKG, and Head of PR division of Mahawaditra. Well yeah, I didn't predict that this semester's gonna be tough.
A bunch of practicums and its reports, tutorial classes with a bunch of case-scenarios, being a deputy of Infokom division of AKG, and Head of PR division of Mahawaditra. Well yeah, I didn't predict that this semester's gonna be tough.
Rabu, 09 Februari 2011
...do really want to post photo-stories!
Yea... kehidupan macam pegawai kantoran dimulai. Sedikit waktu untuk keluarga, dikarenakan jadwal menggila dan tugas gak kalah edan... Kalau diringkas: 7 hari dalam seminggu, hidup penuh 'gizi'.
Sebenarnya keinginan untuk sering mengepost photo-stories sudah terpikir sejak lama. Namun baru-baru ini ada kabar mengenaskan dari laptop saya. Error di sana-sini. Error 619, malfunctioned modem, lalalalalalalaaaa. Seandainya ada yang berbaik hati meminjamkan external harddisk (atau membelikan saya juga boleh :P *dihajar massa*) maka niscaya saya akan segera membetulkan sistem lepi tersebut... dan segala masalah teratasi sudah. Sepertinya itu karena sudah kebanyakan diisi program aneh-aneh -- install/uninstall -- makanya jadi aneh juga. Mana optik DVD nya rusak, jadi nggak bisa make DVD-rom nya... kurang lengkap apa coba ini penderitaan si lepi...
Bahkan sekedar transfer foto dari HP pun malas rasanya. Karena kalau mau upload harus via PC. Nggak bisa via laptop karena modem apa pun yang dicolokin, laptopnya nggak sudi menerima keberadaan modem tersebut.
Jadi... mohon kebaikan hatinya dalam hal external harddisk *deep bow*
xD
Sebenarnya keinginan untuk sering mengepost photo-stories sudah terpikir sejak lama. Namun baru-baru ini ada kabar mengenaskan dari laptop saya. Error di sana-sini. Error 619, malfunctioned modem, lalalalalalalaaaa. Seandainya ada yang berbaik hati meminjamkan external harddisk (atau membelikan saya juga boleh :P *dihajar massa*) maka niscaya saya akan segera membetulkan sistem lepi tersebut... dan segala masalah teratasi sudah. Sepertinya itu karena sudah kebanyakan diisi program aneh-aneh -- install/uninstall -- makanya jadi aneh juga. Mana optik DVD nya rusak, jadi nggak bisa make DVD-rom nya... kurang lengkap apa coba ini penderitaan si lepi...
Bahkan sekedar transfer foto dari HP pun malas rasanya. Karena kalau mau upload harus via PC. Nggak bisa via laptop karena modem apa pun yang dicolokin, laptopnya nggak sudi menerima keberadaan modem tersebut.
Jadi... mohon kebaikan hatinya dalam hal external harddisk *deep bow*
xD
Rabu, 02 Februari 2011
Cerita Sebuah Kereta Ekspres
Kalau dilihat,
diperhatikan,
kereta ekspres itu lucu, lho.
Dalam arti sebenarnya.
Lajunya mulus,
tanpa hambatan,
bak presiden mau lewat,
semua kereta lain disuruh menepi.
Geraknya naik-turun.
Seperti balerina,
selang-seling,
halus, namun pasti.
Namanya kereta,
tentu saja bergandengan.
Bak teman-teman baik,
setia, tak ada yang tertinggal.
Ekspres.
Cepat.
Yah, itulah kereta ekspres!
Harga tiketnya sembilan ribu rupiah.
diperhatikan,
kereta ekspres itu lucu, lho.
Dalam arti sebenarnya.
Lajunya mulus,
tanpa hambatan,
bak presiden mau lewat,
semua kereta lain disuruh menepi.
Geraknya naik-turun.
Seperti balerina,
selang-seling,
halus, namun pasti.
Namanya kereta,
tentu saja bergandengan.
Bak teman-teman baik,
setia, tak ada yang tertinggal.
Ekspres.
Cepat.
Yah, itulah kereta ekspres!
Harga tiketnya sembilan ribu rupiah.
Kupu-kupu Kecil (4)
Namun ternyata,
umur sang kupu-kupu kecil
tidak panjang, sayang,
malang.
Ia melemah,
gerakannya tak seluwes ketika ia lahir.
Perlahan. Tak pasti.
Hampir mati.
Aku sedih.
Kupu-kupu kecil itu
tak akan ada menemaniku
lagi.
Mungkin memang sudah saatnya.
Setiap kehidupan memiliki jangka,
kapan ia lahir - dan kapan ia mati.
Dan kupu-kupu kecil ini,
inilah saat bagi dirinya.
Mungkin suatu saat nanti,
akan ada kupu-kupu kecil lainnya.
Yang lebih indah,
menawan. Mempesona.
Yang akan membuatku menari lebih indah.
umur sang kupu-kupu kecil
tidak panjang, sayang,
malang.
Ia melemah,
gerakannya tak seluwes ketika ia lahir.
Perlahan. Tak pasti.
Hampir mati.
Aku sedih.
Kupu-kupu kecil itu
tak akan ada menemaniku
lagi.
Mungkin memang sudah saatnya.
Setiap kehidupan memiliki jangka,
kapan ia lahir - dan kapan ia mati.
Dan kupu-kupu kecil ini,
inilah saat bagi dirinya.
Mungkin suatu saat nanti,
akan ada kupu-kupu kecil lainnya.
Yang lebih indah,
menawan. Mempesona.
Yang akan membuatku menari lebih indah.
Kupu-kupu Kecil (3)
Hei kalian!
Tak tahukah?
Walau kecil,
tapi jumlah kalian banyak!
Aku geli!
Kalian seolah hinggap,
berjalan, merayap,
di sekujur tubuh!
Tampaknya,
walau aku mengibas sekuat tenaga,
kalian tak akan pergi.
Tetap, statis, di sini.
Kalian membuatku menggerakkan tubuh.
Dan sukses,
dari kibasan tu,
aku malah terlihat menari.
Tak tahukah?
Walau kecil,
tapi jumlah kalian banyak!
Aku geli!
Kalian seolah hinggap,
berjalan, merayap,
di sekujur tubuh!
Tampaknya,
walau aku mengibas sekuat tenaga,
kalian tak akan pergi.
Tetap, statis, di sini.
Kalian membuatku menggerakkan tubuh.
Dan sukses,
dari kibasan tu,
aku malah terlihat menari.
Kupu-kupu Kecil (2)
Kupu-kupu kecil berkembang biak,
bertelur, kan?
Tapi kenapa kupu-kupu ini
bisa membelah diri?
Simultan.
Kontinu.
Berkelanjutan.
Seenaknya!
Aku tidak meminta ia.
Tapi mungkin,
tanpa sadar,
ya, aku meminta ia.
Kupu-kupu kecil yang makin banyak,
menari dengan indah.
Namun kini mereka berkoloni,
membuatku tersentuh lebih geli.
Aku makin tak nyaman.
Tak menentu.
Sebaiknya aku tetap bisu dulu.
Bebas, leluasa.
Sampai nanti aku dapat
berbicara dan bersenda
dengan mereka.
bertelur, kan?
Tapi kenapa kupu-kupu ini
bisa membelah diri?
Simultan.
Kontinu.
Berkelanjutan.
Seenaknya!
Aku tidak meminta ia.
Tapi mungkin,
tanpa sadar,
ya, aku meminta ia.
Kupu-kupu kecil yang makin banyak,
menari dengan indah.
Namun kini mereka berkoloni,
membuatku tersentuh lebih geli.
Aku makin tak nyaman.
Tak menentu.
Sebaiknya aku tetap bisu dulu.
Bebas, leluasa.
Sampai nanti aku dapat
berbicara dan bersenda
dengan mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)