Minggu, 20 Maret 2011

Ketika Melewati “Belalai” Menuju Pesawat

Kami beranjak dari kursi setelah terdengar panggilan untuk para penumpang AirAsia AK381 tujuan Kuala Lumpur. Mengantri dan kami melalui ‘belalai’ pesawat. Tunggu. Kenapa aku bilangnya itu belalai? Karena waktu aku kecil dulu, sering melakukan perjalanan Surabaya-Jakarta dengan pesawat, dan kalau masuk pesawatnya melewati aerobridges, orangtuaku selalu bilang, “Wah, kita lewat belalai!” atau “Nanti kita lewat belalai, lho”. Jadi yaaa kebawa-bawa deh sampai sekarang. Namanya juga bocah, dibilang apa juga percaya. Dan aku sampai sekarang masih tetap suka menyebut benda itu ‘belalai’.

Ketika memasuki kabin pesawat, ada rasa rindu menyergapku. Sudah 4 tahun lebih aku tidak merasakan sensasi terbang dengan pesawat. Karena itu, mungkin dari luar ekspresiku terlihat biasa-biasa saja. Namun dalam hati sebenarnya aku merasa sangat gembira, dapat kembali merasakan sensasi ini. Aku dapat kursi nomor 15A, berarti kami berada di bagian sayap, tepat di bagian sayap. Kursi depan kami bersandingan dengan emergency exit. Aku duduk di sisi jendela, bertepatan dengan pemandangan luar.

Ketika memandang ke luar melalui jendela pesawat, aku sempat senyum-senyum sendiri. Tentunya dengan memalingkan wajah dengan sangat, biar nggak keliatan sama yang lain. Maaf ya, ini rasa yang membuncah! Di luar tampak pemandangan Cengkareng. Hamparan runway yang sangat panjang dan luaaaaas terlihat. Karena AirAsia menggunakan runway yang paling ujung, jadi perjalanan sampai ke sana membutuhkan waktu juga, jadi pesawat terus berjalan lambat sampai runway tujuan.

Pesawat tidak langsung lepas landas. Namun harus mengantri, karena di depan kami ada Garuda Indonesia yang hendak lepas landas terlebih dahulu. Dengan senyum aku turut mengantar kepergian Garuda Indonesia tersebut yang tujuannya entah ke mana. Setelah Garuda Indonesia tinggal landas, kami tetap belum bisa beranjak, karena masih ada pesawat lain yang hendak landing, aku lupa apa nama maskapainya… Baru setelah pesawat tersebut landing, AirAsia ini dapat menggunakan runway untuk tinggal landas.

Benar saja, rupanya kangenku terhadap sensasi terbang ini sebegitu besar. Setiap rasa yang unik kunikmati. Seperti tekanan ke sandaran kursi ketika pesawat menggunakan kekuatan penuh untuk mengangkat tubuhnya ke udara, tekanan ke jok kursi ketika pesawat bergerak naik, sensasi melayang ketika pesawat bergerak turun, dan getaran ketika pesawat melintasi awan. Ah, how I really missed that simple things!!!

Di dalam pesawat, kami berfoto. Menggunakan kamera DSLR milik Tamya, selama kami di pesawat diabadikan dengan itu. Tak lupa foto-foto pemandangan dari langit. Kalau ada objek yang menarik, misalnya hamparan karpet awan, aku dan Tamy bergantian untuk memotret pemandangan luar.

Selama di pesawat, aku terus menikmati segalanya yang sudah 4 tahun tidak kurasakan. Memandangi pemandangan di luar. Walau hanya awan yang terlihat namun aku sangat senang memperhatikan kumpulan uap air yang terkondensasi itu. Awan-awan dengan cueknya melayang di lautan angkasa. Seperti menempel di udara.

Melewati lapisan awan pertama, kedua, ketiga… pesawat ini terus melewati lapis demi lapis awan. Di ketinggian ini terlihat pilar awan seperti corong menghadap ke bawah, seolah awan tersebut menjuntai ke bawah seperti gorden. Melewati lapisan awan keempat, kelima, keenam… dan segalanya terlihat bagaikan karpet putih yang terbentang melapisi bumi. Awan tersebut terlihat seperti lapisan pipih, seperti adonan tepung yang dipipihkan. Kelihatannya lembut sekali. Inilah tempat dimana kami berada pada ketinggian 38.000 kaki dpl (di atas permukaan laut).

Aku meneruskan membaca novel sampai setengah buku. Setelah itu aku memutuskan untuk berhenti, khawatir kehabisan bahan bacaan. Jadi aku memutuskan untuk mencoba tidur. Tapi tetap sajaaa… tidur-tidur ayam. Ujung-ujungnya jadi ngerjain Yogi. Tamy secara iseng terus memotret wajah tidur Yogi. Katanya itu kejadian langka? Hahaha.

Oh iya, di dalam pesawat kami juga dibagikan kartu imigrasi yang harus diisi. Kartu tersebut terdapat dua bagian, yaitu kedatangan dan keberangkatan. Yang kedatangan diserahkan ketika nanti kami sampai di Malaysia. Oh, kalau begini aku jadi menyesal nggak bawa bolpoin. Jadi nulisnya gantian karena bolpoinnya cuma ada dua, gantian deh.

Tak terasa perjalanan yang memakan waktu 2 jam itu hampir mencapai klimaksnya. Kuala Lumpur.
Pesawat telah mencapai tempat parkirnya. Kami mengambil barang di cabin storage yang berada di atas kursi. Kemudian mengantri keluar dari pesawat. Langkah pertama dimulai, halo, Malaysia!

Senin, 07 Maret 2011

Ketika Mulai...

Sehari sebelum keberangkatan, aku bahkan belum melakukan persiapan apa pun. Membereskan baju yang akan dibawa, menentukan pakai sepatu apa, alih-alih melakukan itu semua, aku malah internetan. Hhh, edanlah. Baru malamnya aku memasukkan baju-baju ke tas. Kemudian sepatu baru diputuskan esok subuhnya ketika mau berangkat. Memilih sepatu yang bisa dipakai untuk jalan sekaligus untuk ke venue konsernya. Jadi nggak bawa-bawa sepatu lagi.

5 Maret 2011


Sebelum subuh, 4.30 pagi. Bangun kemudian siap-siap langsung. Diantar Mama dan Papa ke tempat janjian, di depan Es Pocong. Andi berbaik hati memberikan tumpangan sampai ke bandara. Ada 4 yang nebeng dari Depok, yaitu aku, Mbak Kris, Yogi, dan Yoga. Pagi itu hujan. Udara makin dingin.

Di dalam mobil, masih sibuk FB-an dan Twitteran, sementara di belakang, Yogi, Yoga dan Mbak Kris sudah bergosip ria. Aku duduk di tengah bareng Andi dan Ibu Andi. Di depan ada Ayah Andi dan supir.

Perjalanan sangat lancar karena yaaa namanya juga pagi buta lah... Siapa juga yang mau pergi jam segini kecuali memang sudah punya keperluan khusus. Sepanjang jalan menuju bandara, langit berangsur membiru cerah. Matahari mulai nampak. Namun suasana masih mendung, jadi sejuk.

Kami turun di terminal 2D. Masuk, kemudian SMS-an sama yang lain. Tamy, Innes, dan Mas Bowo. Ternyata Innes juara, sampai paling pertama di sana. Hahahahaha. Kemudian kami sarapan dulu. Lalu mengecek dokumen: paspor, kartu keberangkatan, boarding pass. Setelah berpamitan dengan Ayah-Ibu Andi dan Ibu Tamya, kami masuk ke dalam dan check-in di counter AirAsia. Lalu masuk ke dalam, menemui konter Imigrasi.

Setelah paspor dicap, kami berjalan menyusuri pertokoan menuju waiting room. Setelah masuk waiting room, kami tak keluar lagi. Kasihan juga, Yoga kelaparan karena belum makan. Yahhh lagian tadi pas di luar bukannya makan dulu, cuma makan wafernya Andi doang... Menunggu di dalam agak lama dan agak bete juga sih, tapi dengan sabar akhirnya terdengar panggilan bagi para penumpang untuk masuk ke pesawat.

Kami pun masuk. Langkah-langkah meninggalkan Tanah Air.

Berawal dari Desember 2010

Yang seperti mimpi ini memang nyata halnya. Tak terbayang bagiku akan menonton sebuah konser orkestra filharmonik. Padahal sebelumnya aku belum pernah sama sekali menonton live concert orkestra mana pun, karena tiap kali ingin ikut menonton adaaaa saja halangannya... Dan sekalinya dapat kesempatan, langsung yang Philharmonic! Dan, di luar negeri, bukan di Indonesia sendiri. Mimpi apaaa aku.

Bermodalkan nekat dan keyakinan yang besar akan dapat tiket pesawat yang murah, perjalanan sebelum hari-H dimulai dari pengiklanan tentang konser ini dari salah seorang alumni melalui grup di Facebook. Tertarik dengan harganya yang cukup murah untuk tiket konser filharmonik, yaitu RM25, aku sebenarnya masih bimbang apakah bisa berangkat atau nggak. Tapi karena ada yang bilang, yaudah beli aja dulu, toh harganya murah ini, kalaupun nggak berangkat juga ruginya nggak gede-gede amat. Baiklah, transfer dalam kurs rupiah, lalu dibelikan oleh salah seorang alumni yang menetap di Malaysia.

Selanjutnya adalah hunting tiket promo AirAsia. Kebetulan, Desember (atau Januari?) itu ada promo dalam rangka Valentine. Jadilah tiket ke KL seharga Rp 513.000 (return, include airport tax for return flight from Malaysia, tanpa ada baggage dan tidak termasuk makan di pesawat). Transfer. Berpikir, ah, mahal juga ya... Tapi kemudian sadar, mana ada penerbangan semurah itu untuk penerbangan luar negeri, pergi-pulang? Jadi, aku berpikir ini sangat worthed kalau dijalani.

Selanjutnya, pencarian penginapan. Masalah penginapan ini sampai Februari masih dicari-cari, dan akhirnya memutuskan untuk mencari di area Bukit Bintang. Lumayan, satu kamar berempat, satu orang bayarnya Rp 130.000. Kawasan itu memang kawasan penginapan, jadi tak heran kalau ada A&W, KFC, dan McD di dekatnya. Ada juga 711 jadi mempermudah kami kalau mau jajan atau beli minum.

Tiga bulan, ya. Tiga bulan itu rasanya lama. Ketika baru transfer uang tiket juga, wah rasanya pikiran ini berkata, tiga bulan itu lama ya... Jadi nggak terasa mau berangkat pada bulan Maretnya.

Ternyata? Jadi yang ter-NYATA! Dan dua hari lalu aku mengucapkan "Halo!" pada Malaysia (5 Maret 2011), dan kemarin (6 Maret 2011) mengucapkan "Sampai jumpa lagi!" pada ia.

Bagaimana Saya Harus Memulai?

Saya terlalu penuh dengan rasa... ah, campur aduk! Senang, excited, ah, penuh!!!

Jadi, bagaimana kira-kira aku akan memulai kisah ini? Dua hari namun menjadi panjang. Dua hari yang bagai dua jam saja, rasanya numpang lewat... *oke lebay.*

Minggu, 20 Februari 2011

All the Sudden Things?

Jumat, 18 Februari 2011.
5PM - kepala cenat-cenut gak jelas tanpa henti, entah efek nunduk terus karna pakai jas hujan di boncengan motor atau karna kehujanan
7PM - masih cenat-cenut alhasil selama di perjalanan nggak nikmat banget. mana keekspos angin lagi, salah besar gw milih duduk di pinggir jendela bus.
8.30PM sampai, cenat-cenut di kepala sudah berkurang. mungkin karena atmosfir alam. baru sebentar.
9.00PM mulai acara.
10PM mulai cenat-cenut lagi.
11PM ditambah demam

Sabtu, 19 Februari 2011
12AM mata, jidat makin panas, tangan & kaki kedinginan, ditambah kebelet pipis. padahal sidang AD blom selesai.
1AM izin nggak ikut raker buat tidur duluan, minum obat demam, tidur dengan pakai jakun dilapis jaket lagi. dingin.
~3-4AM kebangun2 karna ada yang bolak-balik masuk kamar dan menjelang pukul 4 pada masuk kamar buat tidur (kasihan kalian teman2)
4-5AM kebangun2 karna ada yang masang alarm HP tapi nggak bangun juga tuh pemiliknya, jadi tuh alarm bunyi gak berenti2. keringatan banyak banget gue.
6AM akhirnya bangun dan sholat subuh. alhamdulillah sudah mulai baikan, tapi dada sebelah kiri terasa tertekan.
7AM sarapan, lanjut Team Building. sudah tidak peduli dengan keadaan fisik
3PM pulang, terasa lagi deh sakitnya di dada.
10.20PM dengan bodohnya baru tidur jam segini. udah pasrah dengan kondisi dada yang tertekan, beberapa orang sampai suggest buat periksa ke dokter dan cek darah. cuma berdoa besok sudah baik-baik saja.

Minggu, 20 Februari 2011
Alhamdulillah sudah tidak terasa sakit lagi dadanya, tapi masih suka pusing tiba-tiba. Aduh kenapa jadi lemah gini sih????

Kamis, 17 Februari 2011

Tangis

Adakah orang yang sampai pada titik tertentu dimana air mata ia keluar dengan sendirinya?

Ketika kau merasa kau mencapai batas. Batas apa pun. Mungkin ada yang tubuhnya bereaksi dengan kegiatan fisik, seni, atau apa pun. Tapi tangis adalah yang paling sederhana.

Kau membuat dirimu lelah dengan menangis. Dehidrasi karena menangis.

Namun bolehkah aku mendefinisikan tangis?

“Tangis adalah dimana seluruh emosimu, yang telah tercampur aduk selama yang kau tahan, mengalir ke luar bersama air yang disekresi oleh kelenjar lakrimal di matamu.”

Setelah kau menangis, mungkin kau akan merasakan dirimu kembali menjadi baru, kau merasa tidak ada lagi beban. Kau merasa bebas. Kau merasa emosimu telah tumpah semua keluar dari hatimu.

“Tidak ada kata sesederhana bahasa tubuh.”
image copyright *Lorelai82 @ deviantart.com

Jalan-jalan

2011.

Makin lama, hidup ini makin spontan. Maksudku dalam hal ini adalah jalan-jalan (atau pergi ke mana pun dengan atau tanpa tujuan khusus).

Awal tahun kemarin, jalan-jalan pertama dibuka dengan Rapat Kerja dan Musyawarah Besar Mahawaditra di Lembang. Ya, tentu saja ada tujuan jalan-jalannya. Sepertinya, seumur-umur aku mulai menetap di Depok, baru kali ini jalan-jalan keluar Depok. Maksudku yang sampai menginap.

Kemudian, besok. Besok akan pergi ke Sentul untuk Rapat Kerja dan Musyawarah Besar AKG FKM UI. Dan tahukah? Hal ini baru diketahui tiga hari lalu. Hmm. Spontan, tapi dilakukan juga. Kalau direncanakan sejak lama, justru tidak akan terlaksana. Baiklah, siap-siap buat besok (padahal saat ini belum ada satu potong pakaian pun yang sudah aku siapkan untuk besok).

Kemudian, bulan depan. Tapi namanya bulan depan, nyatanya tinggal 2 minggu lagi. Bulan depan, aku dan beberapa orang akan bertolak ke KL. Padahal hanya berawal dari selentingan di suatu forum untuk pergi nonton konser orchestra di KL. Dengan modal mencari tiket promo, kami nekat membeli dahulu tiket konsernya. Baru nanti berangkat atau tidak, dipikir belakangan. Sampai sekarang selentingan itu benar-benar terjadi, dan dua minggu lagi kami akan berada di KL. Dan sama sekali tidak ada sesuatu yang dilebih-lebihkan, seperti kami sudah sering melancong ke luar negeri dengan seringnya sampai merasa itu adalah hal yang biasa.

Januari, Februari, Maret sudah terisi dengan jalan-jalan. How about April?

The time when I’ll turn 20.

Club Cooee