Minggu, 12 Juni 2011

28 Tahun OSUI Mahawaditra - Resep Cinta Mahawaditra

Baru kali ini aku merasakan hal yang seperti ini, bahagia berada di dalam suatu organisasi. Terlebih lagi, bukan sekadar organisasi, tetapi juga merupakan sebuah orkestra. Orkestra mahasiswa.

Tentunya sebuah orkestra mahasiswa tak bisa langsung disamakan dengan orkestra pada umumnya, karena sebagai mahasiswa kami memiliki banyak perbedaan.

Kami adalah mahasiswa. Tugas kami adalah belajar. Tujuan kami adalah mendapatkan keahlian akademis untuk bekerja atau pendidikan lanjut. Kami rela ngekos demi kelancaran kehidupan akademis kami. Tujuan kami masuk universitas hanya satu: belajar.

Itu awalnya.

Setelah kami berhasil masuk UI, kami dihadapkan pada kenyataan bahwa hidup di kampus tak melulu belajar. Sebagian dari para mahasiswa yang menonton aksi para UKM pada demo UKM merasa mendapat 'pencerahan' berupa rasa ingin tahu terhadap suatu UKM.

Sebagian dari para mahasiswa itu adalah kami. Kami adalah anggota OSUI Mahawaditra yang berhasil 'menetap' di UKM ini.

Kami yang berlatar belakang berbeda-beda, telah menjadi anggota Mahawaditra dengan tujuan yang sama: ingin bermusik dalam format orkestra, ingin menjadi pemusik handal dengan instrumen-instrumen yang memiliki keunikan pada tiap jenisnya. Namun, sejalan dengan waktu, kami mengerti bahwa Mahawaditra bukan sekadar orkestra biasa.

Mahawaditra adalah nama dari sebuah orkestra yang merupakan UKM – Unit Kegiatan Mahasiswa di Universitas Indonesia. Kegiatan – berarti ada sebuah susunan organisator di dalamnya. Organisasi yang membuat UKM tersebut dapat terus ada.

Awalnya, kami yang merupakan anggota baru mungkin tak membayangkan nantinya akan menerima tongkat estafet kepengurusan. Setelah kami masuk dan seiring waktu berjalan, kami mengerti bahwa bergabung di Mahawaditra tak hanya akan mengasah kemampuan bermusik, tetapi juga segala kemampuan berorganisasi.

Aku telah bereksperimen sedikit untuk membuat kue yang dapat membuat siapa pun menjadi cinta pada musik, pada kegiatan organisasi di dalamnya, pada Mahawaditra.

Untuk membuat adonan kue berupa musik dan orkestra, siapkan secangkir niat kita untuk bermusik, campurkan dengan kemampuan belajar bermusik, lalu aduk rata sambil ditambahkan sedikit demi sedikit komitmen dan disiplin di dalamnya. Untuk wadahnya yang bernama organisasi, kita buat dari keingintahuan untuk sukses, tuangkan kerja keras dalam berorganisasi, lalu uleni dengan komitmen dan ketegasan agar menjadi wadah yang tidak mudah hancur. Tuangkan adonan musik ke atas adonan wadah yang telah dibentuk dan kokoh, kemudian panggang dengan pengalaman pentas dan pengalaman jatuh-bangun dalam kepengurusan. Kue Mahawaditra telah siap dimakan. Jangan lupa taburkan cinta di atas kue, makin banyak cinta yang diberikan, makan kue akan terasa makin lezat untuk disantap.

Oke, resep tadi sepertinya agak maksa, ya. Hihihi. Tapi aku menikmati proses penulisan resep ini. Karena resep ini masih eksperimental, jadi kurasa masih perlu diuji coba lagi agar dapat sempurna.

28 tahun yang lalu, tepatnya 11 Juni 1983, OSUI Mahawaditra terbentuk atas inisiatif Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, rektor Universitas Indonesia pada masa itu. Nama “MAHAWADITRA” sebenarnya adalah gabungan dari dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu “MAHA” yang berarti “Agung” dan “WADITRA” yang berarti “Suara”. Jika digabungkan, maka kata itu akan berarti “Suara yang Agung”. Jujur, aku sendiri sangat suka dengan nama ini. Sangat. It’s just perfect, and its sounds cool, too, when we pronounce it.

Banyak orang-orang hebat yang terlahir dari Mahawaditra. Hebat dalam bermusik, dalam berorganisasi, dalam berinteraksi, dalam berkeluarga, dalam kompetensi, dalam kerja keras, dalam disiplin, dalam mendidik, dalam berteman. 28 tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk menghasilkan orang-orang hebat tersebut. Ada kalanya jumlah produksi orang-orang hebat sedikit, ada kalanya banyak.

Mahawaditra telah berkiprah dalam dunia orkestra selama 28 tahun. Orkestra yang terbentuk dari mahasiswa dan juga diperkuat oleh alumninya sendiri. Orkestra yang mampu melahirkan para pemusik handal dari yang awalnya tidak bisa membaca partitur. Ya, kalian bisa saja mencap tulisan saya hiperbola. Tapi inilah saya, saya hanya berkata apa adanya sesuai dengan pandangan saya.

Konser akbar 27 tahun Mahawaditra adalah pembuktian kami, bahwa kami adalah orkestra mahasiswa yang besar, yang cukup berkompeten, berkeluarga dengan pihak lain yang membantu suksesnya konser tersebut. Dapat terlihat dari para pemain konser akbar tersebut, mulai dari yang sangat senior sampai anggota baru, semua dapat bermain dengan baik.

Satu hal yang kusuka dari Mahawaditra adalah rasa kekeluargaan yang amat terasa. Maaf, lagi-lagi yang dibahas mengenai hal yang mungkin nggak relevan. Tapi aku rasa inilah salah satu bahan dasar dari resep cinta Mahawaditra, yang membuat Mahawaditra tetap ada. Interaksi antarangkatan sudah layaknya antaranggota keluarga, seperti paman pada ponakan, seperti kakek pada cucu, seperti ibu pada anak.

Sebelum mengakhiri tulisan yang agak ‘gaje’ ini, aku ingin memberikan penutup:

“Cinta adalah dasar dari semuanya. Kalau tidak cinta, tidak ada keluarga. Kalau tidak cinta, tidak ada teman, tidak ada sahabat. Kalau tidak cinta, tidak ada yang dipertahankan, tidak ada yang dilindungi. Kalau tidak cinta, tidak ada yang dibela. Mencintalah dengan kadar yang tepat. Jangan berlebihan, jangan juga kurang.”

Aduh, sebenarnya itu nggak relevan banget, ya? Ya sudah, nggak apa-apa. Lagi pingin coba jadi pujangga. Tapi kayaknya gagal. Hehehe. Oh iya, satu lagi, sebenarnya ini mencomot dari kalimat di postingan sebelumnya (edisi ke Malaysia).

“Ketika kau menjadi seorang Mahawaditran (red: anggota Mahawaditra), kamu akan tergabung dalam satu keluarga besar Mahawaditra. Ke-lu-ar-ga. Betul?”

Kayaknya harus diakhiri beneran ini, sudah mulai ngawur. Hahaha.

Sekian, terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca tulisan yang apa adanya ini. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.



Depok, 12 Juni 2011, 10.00

Kamis, 21 April 2011

Finally, The Day Had Come!!!

Yea.. 20 April.

Dimana semalam sebelumnya, 19 April malam, aku masih iseng mantengin FB, dan menemukan suatu hal yang fenomenal:


Yea... ini fenomenal bangeeeet! Sepanjang sejarah aku Facebook-an, belum pernah nemu yang nge-approve sebanyak ini, bahkan sekarang mungkin sudah lewat 200? Aduh, ini skandal terbesar di usia dua dekadeku! Hahahahahaha! Sumpah, sejak tanggal 19 malam itu jadi nggak bisa berhenti ketawa kalau teringat gambar ini dan komentar-komentar terhadap gambar ini.

Dan kegiatan nyampahin komen di gambar ini berlangsung mulai tanggal 19 April pukul 23.30, sampaaaaai tanggal 20 April pukul 1.00. Gile, ini sih merayakan ultah dengan nyampah di FB! Tapi ini seru loh. Sumpah.

Pada tanggal 20 April, mulai pagi Twitter dan FB-ku sudah ramai. Ramaaaai. Panjangkan a-nya. Lalu tak ketinggalan beberapa yang ingat dan bertemu di kampus mengucapkannya juga, dan aku membalas dengan sukacita.

Kau tahu? Lagi-lagi ulangtahunku dihadiahi ujian. Setelah dua tahun lalu hadiahnya adalah Ujian Nasional hari pertama, sekarang Ujian modul Dasar Dietetik. Wow!

Kemudian, demi melaksanakan niat mencoba restoran di MIPA, dengan alibi mau merayakan ulangtahunku, akhirnya aku, Defry, dan Mega berangkat tanpa ragu-ragu untuk makan di sana. Defry yang traktir. Cikiciw, makasih Defry dan Mega!

Kailan Saus Tiram - Gurame Telor Mentega - Fu Yung Hai Udang.
katanya "Udah coba ajaa"

Selanjutnya, balik ke FKM. Soalnya ada Nutrition Highlight Month yang membahas labeling produk pangan. Wah seru tuh!

Setelah itu aku langsung cus ke Pusgiwa, menanti rapat (sambil nge-charge HP). Karena masih lama, jadi tidur dulu aja deh di sekre. Hahahaha.

Kemudian rencana untuk karaoke yang kemarin dicetuskan pun diangkat oleh Innes. Pertamanya nggak yakin ada yang bisa ikut, tapi ternyata beberapa bisa. Jadilah aku, Innes, Tamya, Alice, dan Rifky yang berangkat setelah rapat selesai. Kak Reza katanya moga-moga bisa. Eh, tahunya, di tempat karaoke ketemu Dhika yang ternyata barusan kelar karaokean! Dan dia join juga buat sejam... oh la la. Dhika... Dhika. Hahahaha.



Nggak ada kecurigaan sama sekali. Sumpah. Kupikir ini sudahlah karaoke biasa aja... Ternyata. Pukul 22.45 (kira-kira jam segitulah) Tamya dan Dhika yang tadi keluar sebentar (kurasa lama, makanya heran) kembali dengan membawa kue... kue Breadtalk! Kyaaa~ Nggak menyangka dapet kejutan seperti ini... Ini pertama kalinya loh, aku dikasi kejutan kue... Beneran deh, walau ekspresi nggak heboh, tapi dalam hati terharu... Tapi Dhika buru-buru pulang, jadi setelah makan kuenya langsung cabs deh. Hahaha.

I love you all, Mahawaditrans!!!
(Kak Reza-Alice-Innes-aku-Tamya-Rifky)

Intinya... TERIMA KASIH. Tak terhingga buat kalian yang sudah mendoakanku... semoga doa kalian menjadi yang terbaik buatku. Juga buat keluarga besar Mahawaditra yang sudah sukses memberi kado terindah dalam waktu 24 jam ini, berupa 1000 komen demi terwujudnya pesta kripik balado dan pasta terong! Niat kalian benar-benar hebat kawan, demi kejar setoran deadline yang diajukan oleh promotor kripik balado, Rifky!

I HEART YOU ALL :*

Depok, 21 April 2011
10.15
"Selamat Hari Kartini, wanita Indonesia!"

Sabtu, 16 April 2011

MUSIKAMPUS VIII OSUI MAHAWADITRA ::THE SHOW-1st DAY::

Well, this is it. Dengan segala kemepetan waktu anak kuliahan, kami bergegas menuju ke Balai Sidang BNI UI Depok. Berganti baju dan berdandan, menyiapkan instrumen, standpart, partitur, dan... mental. Berharap-harap cemas walau ini bukan konser pertama bagi sebagian orang.

Kami berkumpul di backstage, di ruang pemain. Berdoa. Sementara penonton masih menunggu di luar. Di hari pertama, kami menggunakan pola: pemain sudah standby di panggung melakukan pemanasan, sembari penonton masuk menempati kursi yang telah tersedia. Setelah semua siap, concert master akan memimpin tuning sebentar. Setelah itu konduktor masuk, main komposisi pertama, lalu setelah selesai, konduktor keluar, barulah MC membuka acara. Dengan pola seperti ini kami berharap dapat memberi kesan bahwa kami menunjukkan, inilah kami apa adanya, terimalah kekurangan kami.

Ah, berikut kuberikan saja ya, repertoire hari pertama!

Eine Kleine Nachtmusik
Composer: W.A. Mozart, Arranger: Merle J. Isaac
Komposisi pembuka ini pasti sudah familiar sejak birama pertama dimainkan: G-D-G. Komposisi Mozart yang satu ini dipilih sebagai pembuka karena iramanya yang penuh semangat dan gairah. Cukup dapat membakar semangat para pemain untuk memainkan komposisi selanjutnya.

Air (on G for String)
Composer: J.S. Bach
Kami mudah mengingat komposisi yang satu ini: Air Bach. Hahaha. Komposisi untuk string ensemble ini bertempo lambat dan mendayu-dayu. Sepertinya cocok untuk menenangkan pikiran kalau lagi stres.

Ode to Joy
Composer: Ludwig van Beethoven
Komposisi sederhana ini juga familiar di telinga. Silakan search dengan judul tersebut sebagai keywordnya. Komposisi ini dibawakan oleh brass ensemble.

Here, There, and Everywhere
Popularized by: The Beatles
Lagu lawas yang satu ini memang tak pernah mati. Sampai zaman kini pasti masih pada kenal dengan lagu yang satu ini. Dan siapa pula yang tak mengenal The Beatles, band legendaris kelas dunia? Brass ensemble membawakannya dengan apik.

Harry Potter’s Theme Medley
Composer: John Williams, Arranger: Bramana Putra
Sebuah komposisi dari film terkenal yang diangkat dari novel karangan J.K. Rowling, Harry Potter. Mungkin orang-orang familiar di awal-awal bagian saja, karena memang yang sering terdengar pada tiap pembuka film Harry Potter adalah bagian awal tersebut. Mungkin woodwind section masih gugup ketika memainkan komposisi ini, sehingga maaf jika hasilnya kurang maksimal.

To Zanarkand
Composer: Nobuo Uematsu, Arranger: Widayanto
Salah satu komposisi yang berasal dari sebuah game terkenal dari Jepang produksi Square-Enix, Final Fantasy X. Komposisi yang tenang dan sedikit misterius ini dibawakan oleh woodwind ensemble. Oh iya, di penampilan ini, anak-anak woodwind 2010 yang baru bisa memainkan instrumen mereka pun turut tampil, lho! Bangga deh sama kalian!

Konzert in D - Harpsicord Concerto No.1 in D Major KV107
Composer: J.S. Bach, Arranger: W.A. Mozart
Sebuah komposisi yang riang dan jujur membuatku ikut riang ketika mendengarkan komposisi ini dan membayangkan para pemain yang memainkannya dengan gestur yang riang, gemulai, dan mantap. Harpsicord menjadi tokoh utama diiringi oleh string ensemble.

Canon in D
Composer: J. Palchelbel
Lagi-lagi, sebuah komposisi yang easy-listening. Pasti sangat familiar di telinga kalian. Komposisi lambat yang kami bawakan secara agak cepat sehingga terlihat bersemangat.

L’Arlesienne Suite No. 2 – part IV, Farandole
Composer: Georges Bizet
Yak, inilah komposisi yang menjadi momok bagi kami selama latihan berlangsung bahkan sampai hari-H konser. Solo flute kurang maksimal dalam performanya sehingga bagian krusialnya tidak dapat dimainkan dengan lancar. Tempo dari komposisi ini memang sangat cepat, silakan search sendiri kalau tidak percaya. Tapi kami berusaha memberikan yang terbaik yang kami mampu untuk membawakan komposisi ini.

Hungarian Dance No. 5
Composer: Johannes Brahms
Sebuah komposisi klasik populer yang merupakan lagu pengiring tarian. Temponya cukup cepat tapi mengasyikkan :). Pada hari pertama ini aku cukup kewalahan memainkan not-notnya dengan benar, tetapi komposisi ini menjadi sajian penutup dari rangkaian konser hari pertama.

MUSIKAMPUS VIII OSUI MAHAWADITRA ::BEHIND THE SCENE::

Sebelum aku bercerita mengenai kesuksesan MusiKampus VIII OSUI Mahawaditra “When Simplicity Meets Its Beauty”, aku ingin bercerita mengenai proses menuju kesuksesan tersebut. Mari!

Pemilihan komposisi yang akan dimainkan sudah dilakukan sejak bulan Januari 2011 kemarin. Namun masih sedikit, dan perlahan bertambah selama sebulan ke depan. Latihan dilakukan selama sekali seminggu pada dua bulan pertama – mulai bulan Maret, kami latihan dua kali seminggu, yaitu pada hari Sabtu dan Minggu di Balai Mahasiswa UI Salemba.

Untuk latihan full orchestra, kami mulai pukul 1 siang pada hari Sabtu dan pukul 4 sore pada hari Minggu. Latihan sectional, biasanya string section berlatih pada hari Sabtu pukul 10. Tapi menurutku itu bukan latihan bagi string section, karena lebih tepat dibilang mereka menjadi tutor bagi string section angkatan 2010. Jadi kupikir untuk latihan, mereka lakukan sendiri di rumah masing-masing. Untuk woodwind section, latihan dilakukan pada hari Sabtu setelah latihan full orchestra berakhir, yaitu pukul 5. Brass section bisa berlatih sectional ketika break latihan full orchestra. Tapi mereka juga punya jadwal latihan sendiri kok, tapi di hari kerja...

Untuk urusan kepanitiaan, jujur menurutku agak ada chaos di berbagai titik. Bagiku mungkin karena susunan kepanitiaan ini sebagian besar belum berpengalaman menjadi panitia bidangnya di sini, dan kurang koordinasi. Sepertinya itu juga disebabkan tidak adanya bimbingan dari senior mengenai bidang kepanitiaan yang mereka lakukan. Ini sangat disayangkan karena jika dilihat dari jumlah hari tampilnya, yaitu dua hari, event ini tergolong event yang cukup besar dengan total jumlah penonton mencapai 700 orang. Jadi mungkin harap dimaklumi, dikritisi, dan diberi masukan mengenai kepanitiaan ini.

Lalu aku sendiri. Aku. Ya, aku. Kenapa? Aku sendiri, tersandung pada masalah instrumen yang masih bermasalah sejak konser D.A.U.N lalu selesai. Entah mengapa, ada suatu hal yang menahan alat tersebut sehingga sampai sekarang belum tuntas juga direparasi. Sudah memasuki bulan ke-5 dan belum selesai juga. Jadi, berharap-harap dan akhirnya dibukakan jalan untuk dapat meminjam instrumen tersebut, bassoon/fagott, pada salah seorang kenalan. Alhamdulillah, ini berarti aku tetap bisa ikut berpartisipasi. Walau... Baru dapat pinjaman di H-7. Berasa pemain pro. Padahal main belepotan dan pas yang susah suka tacet.

Belum lagi masalah-masalah internal, sampai eksternal yang tak berhenti mendera sampai ke hari kedua konser. Masalah-masalah terus ada, namun pada akhirnya mengantarkan semuanya pada akhir yang bahagia.

Sukses MusiKampus VIII!!!

Selasa, 05 April 2011

Aku?

Sebenarnya waktu dengar kabar ini beberapa minggu lalu, agak shock juga sih.

Seperti yang sudah diketahui, Woodwind 2009 memiliki formasi lengkap - Flute, Clarinet, Oboe, Bassoon. Walaupun orang-orangnya ada yang tambal sulam, ada juga yang setia.

Tapi di tahun ini, formasi tersebut terancam pecah. Kenapa?

Flute. Dari 2009 yang terlihat selalu datang cuma Yogi. Michael ada, cuma ga sesering Yogi. Fatya masih sibuk dengan kegiatannya. Lalu siapa lagi ya? Nah, dari kondisi yang demikian, si Yogi malah excited karena dapat kesempatan student exchange ke Jepang. Iya sih, kangen sama Jepang. Kondisi ini akan membuat posisi Flute 2009 kosong.

Clarinet. Di 2009 yang lumayan sering datang Ivan. Dio sudah berpaling hati ke UKM lain (haha). Ana sudah nggak jelas. Ivan, dia program Kelas Internasional, berarti tahun ini ia akan pergi ke Australia untuk melanjutkan program double degree-nya. Kosonglah Clarinet, karena PP, 2008, juga sudah mulai akan fokus skripsi mulai tahun ini. Ya, Clarinet 2009 kosong.

Oboe. Dari 2009 cuma Fika yang nampak. Dan Fika, seperti halnya Ivan, adalah anak Kelas Internasional, berarti tahun ini juga akan ke Australia. Yah, hilanglah Oboe. Kak Felix lagi sibuk-sibuknya. Riani masih harus banyak belajar. Semoga ia bisa jadi pengganti Fika! Kondisi ini membuat Oboe 2009 kosong.

Bassoon. Dari 2009, dan dari semuaaaa angkatan yang aktif, cuma aku. Yaiyalah, alatnya cuma satu. Dan aku yang nggak kemana-mana. Di sini. Yang kemudian dilimpahkan tanggung jawab menjadi koordinator Woodwind!

Semoga bisa!

Minggu, 03 April 2011

Sour Ribbon Itu... Ah!

stasiun yang berada di
lantai 3 KL Sentral
media kampanye kesehatan
di tangga stasiun
Sampai di KL Sentral, kami langsung menitipkan barang-barang kami dalam satu buah loker yang paling besar. Setelah itu kami pergi ke Pasar Seni dengan naik kereta. Hanya 1 stasiun, harganya RM1. Sesampainya di sana, kami berjalan dari stasiun ke Pasar Seni. Di dekat gerbang kami berfoto sekali. Setelah itu split menuju ke tujuan masing-masing.

Aku memutuskan untuk beli gantungan kunci saja, yang murah dan bisa dapat banyak... Ini kan pertama kali aku ke sini, dan nggak bawa uang banyak- banyak. Aku membeli dari 3 toko yang berbeda, di luar dan di dalam. Yang di dalam seru, kaya ITC gitu tapi rapih. Di dalam banyak toko baju, makanan, pernak-pernik, dan lain-lain. Kak Bram beli Sour Ribbon. Huaah, rasanya asammmm! Tapi nagih :P aku bertekad nanti mau beli di KL Sentral.
di depan gerbang Pasar Seni

Berjalan di koridor dari stasiun
menuju Pasar Seni

ini toko di bagian luar.
terik matahari cukup
ga nyantai!
ini salah satu toko oleh2
makanan, dan... jeng jeng,
kenapa yang ketemu malah
lapis legit Monica??!
berfoto buru-buru karena banyak
mobil lewat
Kemudian kami kembali ke KL Sentral. Sudah buru-buru karena waktunya mepet untuk ngejar Skybus pukul 3. Aku jadi nggak bisa banyak-banyak beli Sour Ribbon di KL Central, hanya beli sebungkus untuk sekedar mencoba bersama keluarga di rumah nanti. Dan kami pun turun menuju ke Skybus.


That’s it, the Skybus had departed from KL Sentral, heading to the airport. As the bus rotated its wheels, I saw all the things I can before I really left this country.

Setelah memasuki waiting room, kami tak perlu menunggu terlalu lama karena panggilan untuk para penumpang AirAsia tujuan Jakarta telah terdengar.

Ketika masuk ke dalam kabin, whoaaahhh! Terlihat asap-asap putih keluar dari pendingin! Rasanya kok kayak kita seperti makanan di dalam boks pendingin di supermarket. Tapi ketika pesawat mulai take off, asap putih itu berangsur menghilang. Dan yang lainnya, yang masih lelah, memilih untuk tidur. Dan aku? Entah kenapa ya, aku merasa agak gloomy waktu itu. Tanpa alasan. Malas bicara. Memilih untuk membaca novel yang aku bawa. Ah, labil dan galau to the max banget waktu itu!

mengantri untuk mengecap paspor
di bandara Soekarno-Hatta

Sesampainya di Soekarno-Hatta, aku merasa cukup kangen juga dengan suasana ‘lorong kedatangan’ ini. Dulu waktu masih SD sering banget melewati lorong ini. Tapi penerbangan domestik sih. Dan sekarang aku melewati lagi, kali ini lorong internasional. Kami lanjut ke pemeriksaan imigrasi. Setelah keluar, kami berpisah dengan Mas Bowo – karena yang lain nebeng Andi semua, hihihi. Innes, Tamy, Mbak Kris, Yoga, Yogi. Waw, kali ini lebih ramai. Untung kali ini yang jemput hanya Ayahnya Andi dan supir. Kalau Ibu Andi ikut seperti waktu berangkat, pasti lebih penuh.

Ketika di mobil Andi, kami mengobrol banyak hal, dan sepertinya klimaksnya adalah ketika kami ngomongin beberapa hal tentang gigi (secara ‘tuan mobil’-nya Andi dan dia anak FKG). Yang terakhir turun di Kober adalah aku, Innes, Yoga, dan Yogi. Kami berempat memutuskan untuk makan malam dulu di Mie Aceh (warung Mie Aceh ini patut dicoba lho! *promosi*). Setelah itu aku sendiri menuju ke depan Margo City naik angkot, karena dijemput di situ. Wah, ini jam pulang karyawan ternyata, cukup banyak orang-orang yang menunggu di situ untuk menjemput.

sour ribbon!
bahkan segini masih kurang loh.
sumpah.
bonus pin dari toko ke-2
di pasar seni!
Sesampainya di rumah, aku bongkar muatan. Menghitung jatah oleh-oleh bersama Mama, dan membuka bungkus Sour Ribbon yang sudah membuatku penasaran sejak di KL Sentral tadi. Mama mencuil sedikit dan memakannya. Wihiii asyemmm... Lalu adikku pulang, dan ikut mencoba juga. Idih, jadi dia yang ketagihan... Dari warna-warna yang aku beli (hijau, biru tua, merah, dan pelangi) aku paling suka yang biru tua. Entah apa bedanya, rasanya asem semua kok, tapi yang biru lebih pas buatku. Sembari mengatur oleh-oleh, bersama kami berangan dan mengatur rencana suatu saat kami akan pergi ke luar negeri bersama keluarga.

Dan... inilah realita, kawan. Kembali ke alam sadarmu, besok ada kelas tutorial dan kuliah umum!

Sumpah, Isengnya Kompak!

Lalu aku dikagetkan dengan alarm HP Kak Kirana yang berbunyi. Oh, sudah subuh kah? Rasanya aku belum cukup istirahat... aku menjangkau HP Kak Kirana karena yang punya nggak peduli dan sepertinya pingsan (tapi kayaknya dia dan Kak Ariana juga sadar karena pas ditanya besoknya pada ngeh), melihat jam di HP tersebut (HPku dicharge di 534). 3.30. Oh, masih jam segini... Kumatikan saja, mungkin salah ngeset. Lalu kembali tidur dengan nyenyak.

Paginya, aku lupa bagaimana akhirnya aku bangun, lalu langsung sholat subuh karena terlihat hari sudah cukup terang. Walau dingin aku berwudhu (yaaa air dingin saja), ketika keluar kamar mandi, znggggg... hawa dingin AC menyergap. Hiii, dingin. Tapi enak. Hehehe. Aku sholat subuh.

Ketika aku masuk rakaat kedua, pintu diketuk. Kak Kirana yang sudah setengah terjaga membukanya. Tiba-tiba satu tangan menjulur ke dalam, melemparkan HP yang menyetel suara lantunan ayat suci. Plus suara-suara ketawa dari luar. Suara cowok-cowok. Mana pintunya terbuka di saat aku sujud, lagi. Kalau dijeblakin kan bisa saja aku kejeduk. Untung bukanya cuma sedikit. Kamu tahu ulah cowok-cowok itu buat apa? Buat ngisengin! Dikira belum pada bangun? Begitu tahu ada aku yang lagi solat, langsung deh HP Yoga itu diambil lagi dan dimatikan suaranya. Aduh, rasa nggak khusyuk ini solatnya. Antara pengen ketawa. Setelah aku selesai, aku dan Kak Kirana langsung ngomongin cowok-cowok iseng itu. Ternyata, kamar 534 juga kena begituan, tapi suaranya suara jeritan cewek (ringtonenya Yoga yang super aneh itu). Maunya tadinya yang di kamarku juga suaranya yang itu, tapi salah setel, jadinya yang kedengeran “Bismillahirrahmanirrahim”. Yah bagus deh, mengiringi aku yang lagi sholat. Hihihi.

Setelah sholat, aku ke kamar 534 untuk menengok HP ku yang lagi di-charge. Sudah penuh. Yaiyalah, semaleman di-charge. Ketika di sana, aku mengobrol dengan semuanya yang sudah bangun. Tamy, Andi, dan Mbak Kris. Ternyata kamar ini juga kena kejahilan dari cowok-cowok kamar sebelah. Aku dan Andi memutuskan untuk ke bawah, mencari sarapan. Duh, rasa laper banget ini padahal semalam makan jam 1 pagi.

Kami berdua memutuskan ke 7/11 mencari sarapan. Andi membeli roti, aku juga. Kemudian aku memutuskan untuk membeli minuman panas karena cuaca dingin pagi itu. Aku yang belum pernah beli apa pun di 7/11 di Jakarta, sekarang penasaran dan ingin mencoba, mumpung ada duit (kalo di Jakarta duitnya kepake buat yang lain-lain). Aku membeli coklat panas. Oh, jadi gini toh caranya beli minuman di 7/11... Dan mencoba belinya itu bukannya di Jakarta, malah di Malaysia. Hahaha. Tapi coklat panasnya enak, sungguh. Ketika aku kembali ke kamar, Kak Ariana yang agak kurang sehat mencicipi coklat panasku, dan ia akhirnya menitip pada yang turun ke bawah lagi untuk beli coklat panas.

berfoto di lobi hotel
berfoto di depan hotel










Aku kemudian mandi dan berganti pakaian terakhirku. 9.15, kami bersiap check out dari hotel dan memutuskan untuk menitipkan barang-barang di loker ketika nyampai KL Sentral nanti. Tapi sekarang kami masuk ke McDonald dulu, sarapan. Karena tadi aku sudah kenyang dengan roti dan coklat panas, aku nggak beli sarapan lagi. Masih kenyaaang. Kami pun mengobrol soal keisengan cowok-cowok tadi pagi!

suasana sarapan di McD

stesen Bukit Bintang
Ketika itu, aku melontarkan pernyataan, “Gimana kalau naik monorailnya sampai ke ujung yang satu dulu, terus nanti ikut balik sampai ke KL Sentral? Kaya kalau mau naik kereta, ke Kota dulu baru ke Depok!” Dan ide ini disambut dengan baik. Hahaha dasar mental Cikini, kalau mau dapet tempat duduk sampai Depok, ikut dulu sampai Kota lalu ikut balik ke Depok.

maunya berlatar monorail... tapi over!
antri ya anak-anak...
dalam perjalanan menuju KL Sentral
Sepanjang perjalanan naik monorail, kami melihat-lihat pemandangan, berfoto, dan ngobrol. Yang masih lelah, tertidur sepanjang perjalanan.
Club Cooee