Minggu, 12 Juni 2011

28 Tahun OSUI Mahawaditra - Resep Cinta Mahawaditra

Baru kali ini aku merasakan hal yang seperti ini, bahagia berada di dalam suatu organisasi. Terlebih lagi, bukan sekadar organisasi, tetapi juga merupakan sebuah orkestra. Orkestra mahasiswa.

Tentunya sebuah orkestra mahasiswa tak bisa langsung disamakan dengan orkestra pada umumnya, karena sebagai mahasiswa kami memiliki banyak perbedaan.

Kami adalah mahasiswa. Tugas kami adalah belajar. Tujuan kami adalah mendapatkan keahlian akademis untuk bekerja atau pendidikan lanjut. Kami rela ngekos demi kelancaran kehidupan akademis kami. Tujuan kami masuk universitas hanya satu: belajar.

Itu awalnya.

Setelah kami berhasil masuk UI, kami dihadapkan pada kenyataan bahwa hidup di kampus tak melulu belajar. Sebagian dari para mahasiswa yang menonton aksi para UKM pada demo UKM merasa mendapat 'pencerahan' berupa rasa ingin tahu terhadap suatu UKM.

Sebagian dari para mahasiswa itu adalah kami. Kami adalah anggota OSUI Mahawaditra yang berhasil 'menetap' di UKM ini.

Kami yang berlatar belakang berbeda-beda, telah menjadi anggota Mahawaditra dengan tujuan yang sama: ingin bermusik dalam format orkestra, ingin menjadi pemusik handal dengan instrumen-instrumen yang memiliki keunikan pada tiap jenisnya. Namun, sejalan dengan waktu, kami mengerti bahwa Mahawaditra bukan sekadar orkestra biasa.

Mahawaditra adalah nama dari sebuah orkestra yang merupakan UKM – Unit Kegiatan Mahasiswa di Universitas Indonesia. Kegiatan – berarti ada sebuah susunan organisator di dalamnya. Organisasi yang membuat UKM tersebut dapat terus ada.

Awalnya, kami yang merupakan anggota baru mungkin tak membayangkan nantinya akan menerima tongkat estafet kepengurusan. Setelah kami masuk dan seiring waktu berjalan, kami mengerti bahwa bergabung di Mahawaditra tak hanya akan mengasah kemampuan bermusik, tetapi juga segala kemampuan berorganisasi.

Aku telah bereksperimen sedikit untuk membuat kue yang dapat membuat siapa pun menjadi cinta pada musik, pada kegiatan organisasi di dalamnya, pada Mahawaditra.

Untuk membuat adonan kue berupa musik dan orkestra, siapkan secangkir niat kita untuk bermusik, campurkan dengan kemampuan belajar bermusik, lalu aduk rata sambil ditambahkan sedikit demi sedikit komitmen dan disiplin di dalamnya. Untuk wadahnya yang bernama organisasi, kita buat dari keingintahuan untuk sukses, tuangkan kerja keras dalam berorganisasi, lalu uleni dengan komitmen dan ketegasan agar menjadi wadah yang tidak mudah hancur. Tuangkan adonan musik ke atas adonan wadah yang telah dibentuk dan kokoh, kemudian panggang dengan pengalaman pentas dan pengalaman jatuh-bangun dalam kepengurusan. Kue Mahawaditra telah siap dimakan. Jangan lupa taburkan cinta di atas kue, makin banyak cinta yang diberikan, makan kue akan terasa makin lezat untuk disantap.

Oke, resep tadi sepertinya agak maksa, ya. Hihihi. Tapi aku menikmati proses penulisan resep ini. Karena resep ini masih eksperimental, jadi kurasa masih perlu diuji coba lagi agar dapat sempurna.

28 tahun yang lalu, tepatnya 11 Juni 1983, OSUI Mahawaditra terbentuk atas inisiatif Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, rektor Universitas Indonesia pada masa itu. Nama “MAHAWADITRA” sebenarnya adalah gabungan dari dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu “MAHA” yang berarti “Agung” dan “WADITRA” yang berarti “Suara”. Jika digabungkan, maka kata itu akan berarti “Suara yang Agung”. Jujur, aku sendiri sangat suka dengan nama ini. Sangat. It’s just perfect, and its sounds cool, too, when we pronounce it.

Banyak orang-orang hebat yang terlahir dari Mahawaditra. Hebat dalam bermusik, dalam berorganisasi, dalam berinteraksi, dalam berkeluarga, dalam kompetensi, dalam kerja keras, dalam disiplin, dalam mendidik, dalam berteman. 28 tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk menghasilkan orang-orang hebat tersebut. Ada kalanya jumlah produksi orang-orang hebat sedikit, ada kalanya banyak.

Mahawaditra telah berkiprah dalam dunia orkestra selama 28 tahun. Orkestra yang terbentuk dari mahasiswa dan juga diperkuat oleh alumninya sendiri. Orkestra yang mampu melahirkan para pemusik handal dari yang awalnya tidak bisa membaca partitur. Ya, kalian bisa saja mencap tulisan saya hiperbola. Tapi inilah saya, saya hanya berkata apa adanya sesuai dengan pandangan saya.

Konser akbar 27 tahun Mahawaditra adalah pembuktian kami, bahwa kami adalah orkestra mahasiswa yang besar, yang cukup berkompeten, berkeluarga dengan pihak lain yang membantu suksesnya konser tersebut. Dapat terlihat dari para pemain konser akbar tersebut, mulai dari yang sangat senior sampai anggota baru, semua dapat bermain dengan baik.

Satu hal yang kusuka dari Mahawaditra adalah rasa kekeluargaan yang amat terasa. Maaf, lagi-lagi yang dibahas mengenai hal yang mungkin nggak relevan. Tapi aku rasa inilah salah satu bahan dasar dari resep cinta Mahawaditra, yang membuat Mahawaditra tetap ada. Interaksi antarangkatan sudah layaknya antaranggota keluarga, seperti paman pada ponakan, seperti kakek pada cucu, seperti ibu pada anak.

Sebelum mengakhiri tulisan yang agak ‘gaje’ ini, aku ingin memberikan penutup:

“Cinta adalah dasar dari semuanya. Kalau tidak cinta, tidak ada keluarga. Kalau tidak cinta, tidak ada teman, tidak ada sahabat. Kalau tidak cinta, tidak ada yang dipertahankan, tidak ada yang dilindungi. Kalau tidak cinta, tidak ada yang dibela. Mencintalah dengan kadar yang tepat. Jangan berlebihan, jangan juga kurang.”

Aduh, sebenarnya itu nggak relevan banget, ya? Ya sudah, nggak apa-apa. Lagi pingin coba jadi pujangga. Tapi kayaknya gagal. Hehehe. Oh iya, satu lagi, sebenarnya ini mencomot dari kalimat di postingan sebelumnya (edisi ke Malaysia).

“Ketika kau menjadi seorang Mahawaditran (red: anggota Mahawaditra), kamu akan tergabung dalam satu keluarga besar Mahawaditra. Ke-lu-ar-ga. Betul?”

Kayaknya harus diakhiri beneran ini, sudah mulai ngawur. Hahaha.

Sekian, terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca tulisan yang apa adanya ini. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.



Depok, 12 Juni 2011, 10.00