Kamis, 15 Desember 2011

Halo, Tengah Desember!

Masih bingung nih, di bulan terakhir tahun 2011 ini, mau menulis apa saja, saking banyaknya kejadian yang sudah terjadi, jadi... bingung dan excited mau memulai nulis kejadian apa!!!!!!!!!!

Selasa, 22 November 2011

SEA Games 2011

Euphoria rakyat Asia Tenggara sedang membuncah selama 12 hari belakangan. Semua karena sebuah pesta olahraga se-Asia Tenggara yang diadakan setiap 2 tahun sekali, SEA Games.

Indonesia menjadi tuan rumah untuk SEA Games ke XXVI tahun 2011 ini. Venue yang digunakan berada di Jakarta dan Palembang. Kota Palembang sebagai kota utama adalah venue untuk cabang olahraga akuatik, atletik, baseball, bilyar & snooker, tinju, bridge, catur, fin swimming, sepakbola, gimnastik artistik & ritmik aerobik, petanque, roller sport, sepak takraw, menembak, softball, tenis lapangan, voli, panjat tebing, ski air, angkat besi, dan gulat. Kota Jakarta sebagai penyedia fasilitas kedua digunakan untuk cabang olahraga panahan, akuatik, badminton, bola basket, bowling, kano, bersepeda, berkuda, anggar, sepakbola, futsal, golf, judo, karate, paragliding, pencak silat, dayung, berlayar, kempo, tenis meja, taekwondo, traditional boat race, vovinam, dan wushu.

Beberapa cabang olahraga dari total 44 cabang olahraga mungkin belum akrab di telinga kita, tetapi nggak ada salahnya kan kita mencari info mengenai olahraga tersebut. Siapa tahu tertarik? Mungkin kamu bisa jadi atlet Indonesia selanjutnya!

panggung Balairung UI

Selasa, 01 November 2011

Halo, November!

Rasanya sudah lama ya nggak ngepos foto :)

Oke, di awal November ini (iya, awal banget malah) aku masih terjaga. Di sebelahku ada adikku yang masih main Zephyr RO.

Jadi pingin publish foto-foto lagi, apapun, acak juga boleh.

Ngomong-ngomong, sekarang aku lagi in the middle of novel writing process lho. Tapi lamaaaa banget progressnya, mungkin karena aku belum menetapkan storyline yang fix untuk novelnya sendiri. Go with the flow aja.

Nanti pagi ada pleno turlap, dan kelompokku yang pertama maju. Oh iya, dresscodenya merah atau putih. Yak, merah aja, sekalian pakai kemeja kotak-kotak kesayangan itu... nyonyonyo~

That's Raiseto Nakagawa for you! Sketch, linearted and coloured on SAI Paint Tool
this is an old pic, though xD

Minggu, 23 Oktober 2011

Great Sunday, Alice & Christin!

Girls' Day Out!

Yak, hari Minggu ini adalah hari untuk menyegarkan pikiran sebelum besok kembali ke realita. Kebetulan ketika membaca CitaCinta edisi minggu ini, ada iklan mengenai acara TalkShow di Margo City yang membahas variasi gaya untuk 1 dress hitam. Pas banget, berhubung kalo konser dresscode nya hitam melulu. Tapi karena memang kita harus hitam (elegan?), jadi pas tadi nanya sih sarannya main di aksesoris aja. Yaa bener juga sih. Tapi dari situ jadi ada ide, gimana kalau sekali-sekali dress code nya pakai tema, misalnya hitam dan biru, atau hitam dan merah. Oke nggak sihhhh?? MusiKampus berikutnya gitu aja aaah...

Selanjutnya kami makan di Ramen1 di lantai 2.  Yah, lumayan rasanya. Level pedesnya juga ada 4. Tapi yang level 1 aja udah kerasa banget pedesnya, ampun deh. Lain kali pengen nyoba menu Donburi nya :)

Dan firasatku sih tadi anak-anak forum pada ngegath di tempat yang sama, ergh :s jadi nggak ketemu deh. Ya sudahlah, lain kali saja ;___;

goody bag(s) dari CitaCinta, makasih banyak loh! xD

Gyoza Ramen + Ocha, @ Ramen1 Margo City

Rabu, 28 September 2011

MAHAWADITRA's BIG BAND CONCERT


Malam minggu nggak ada seseorang yang spesial buat nemenin kamu? Nggak usah galau! Buat kalian para pecinta jazz, kita punya sesuatu yang lebih spesial buat nemenin kamu-kamu semua di malam minggu! Catat ya di agendamu, kasih bulatan di kalendermu, pasang reminder di hapemu!!!

BIG BAND CONCERT OSUI MAHAWADITRA
Konser Musik Jazz persembahan Mahawaditra UI
Sabtu, 15 Oktober 2011
Auditorium M. Yusuf Ronodipuro, Gedung RRI Lt.2
Jalan Medan Merdeka Barat No. 4-5, Gambir, Jakarta Pusat
Gate Open: 7.00 PM, Start: 7.30 PM
Menampilkan: Looking Through The Eyes of Love, Ebony & Ivory, dan sejumlah musik jazz yang earcatchy!
BINTANG TAMU: THE PROFESSOR BAND

For more information: Anda (0852 1585 1501)
Pre-Event RSVP: Balkon IDR 40.000, Bawah IDR 50.000
On the spot: Balkon ODR 45.000, Bawah IDR 55.000

Don't miss it...! Think JAZZ? Mahawaditra Big Band Concert, it is!

Jumat, 02 September 2011

Impian

Hahaha, cuma pengen aja sih. Pengen banget ikut main dalam orkestra yang mau ngadain konser dengan tema "Strauss" atau "Mozart". Ih plis banget. Mau.

Mau.

Tentunya harus mau berusaha dan berlatih juga.

Gerak Badan

Pengen main DDR/PIU deh guys.

Senin, 29 Agustus 2011

2012

Geng hura-hura sudah merencanakan akan nonton konser Malaysian Philharmonic Orchestra pada bulan Maret 2012. Sebenarnya dari awal aku memang tidak terlalu tertarik pada agenda konser MPO yang bulan Maret itu. Dan... memang nggak mau ikut, sih. Karena aku sudah punya janji pada temanku yang di Melbourne, akan ke sana mengunjunginya. Entah pada bulan apa aku akan benar-benar merealisasikan janji itu, yang pasti aku harus menabung.

Oh iya, tak cuma Melbourne, tapi juga Tokyo! Untuk mengunjungi teman satu lagi, yang juga sedang menjalankan exchange program. Alibi saja sih, sebenarnya karena ingin jalan-jalan. Tapi mumpung ada teman yang di sana, jadi ada temannya, kan. Hihihi.

Dan inginnya, aku pergi sendiri. Sendiri. Sendiri, tolong, jangan ada yang beralasan ingin ikut, 'kebetulan bertemu di sana karena kebetulan sedang ada urusan juga', atau alasan apa pun. Kecuali orang itu sudah mengantongi izin dariku. Siapa sih kamu Nda? But I really mean it.


Sejujurnya aku ingin ketenangan, itulah kenapa aku ingin sendiri saja ke sana dan hanya ada temanku dan aku.

A Romantic Night With Mahawaditra

Kembali lagi dengan kisah seputar konser termutakhir dari Mahawaditraaaa! (Apaan sih? Biasa dong...)


Pada tanggal 29 Juli 2011 Mahawaditra menggelar konser yang membawakan komposisi-komposisi dari periode romantik. Temanya ' Romantic Concert'. Jadi yaaa... entah apa yang kemudian membimbing kami untuk mengadakan konser dengan tema ini. Dan, asal tahu saja, sepanjang Juli-Agustus beberapa orkestra lain juga mengadakan konser dengan tema yang sama, romantik. Entah apa yang membuat kami semua sepikiran untuk membuatnya!

Dari awal penentuan komposisi yang akan dimainkan, rasanya seperti memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap pemain. Materi yang, tak bisa dibilang average, akan dibawakan oleh kami yang kebanyakan masih dalam tahap belajar. Baiklah, kami terima segala materi itu. Jumlahnya, tahu? Lebih dari 10. Yah, oke, sebut saja ya. 18. Kalian boleh kok, berseru 'Apa?!' dengan gaya seperti di sinetron dengan zoom in dan zoom out segala. Hahaha. Kami mau rekaman album nih, bukan konser. Ya, kali.

Singkat cerita, masa-masa latihan itu berat. Berat sekali. Dengan materi yang demikian, kami harus mengatasi keamatiran kami sendiri. Rasanya, semakin dilatih malah semakin berantakan. Sampai akhirnya hari terakhir latihan di Salemba, sampai besoknya akan gladi resik, kami memasrahkan segalanya pada Tuhan. Kami telah berusaha dan berdoa.

Pada hari yang ditentukan, bohong kalau kami nggak merasa gugup. Kami merasa tekanan kali ini makin berat. Tapi kami sudah nggak bisa mundur lagi. Apapun hasilnya nanti, inilah kami yang telah berusaha semaksimal kami mampu. Khususnya aku, dengan kondisi reed yang sebenarnya tidak layak (sudah terbelah di dua bagian), aku tetap percaya masih bisa menghasilkan nada-nada yang tertera di partitur walau harus menggunakan trik fingering.

Dan entah kenapaaaa, di konser kali ini aku merasa bagian untuk divisi tiup menonjol, walau mungkin not yang dimainkan tidak sekompleks divisi gesek. Yang epic bagiku adalah komposisi "In the Hall of Mountain King". Ah, tolong jangan tanya, ketika kau melihat score-nya pasti kalian akan langsung ngeh. Pokoknya itu epic fail. Salah.

Sampai akhirnya konser benar-benar berakhir, aku tidak tahu harus merasa senang atau... ah, pokoknya itu awkward moment banget. Tak tahulah...

Maaf juga kalau aku mengakhiri tulisan mengenai konser kali ini dengan aneh, gantung, atau apa pun itu. Karena sampai sekarang rasanya juga masih awkward.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Astaga

Lama tidak ke sini!

Tapi aku mau menceritakan sampai saat ini sudah ada acara apa saja yang terjadi. Kemarin Juli, ada Romantic Concert dari Mahawaditra. Yeah, komposisi-komposisi yang kebanyakan bertipe Waltz, dan bikin ketagihan. Sleeping Beauty's Waltz, Emperor Waltz,Waltz of Flower... Dan yang dirindukan, sesi-sesi latihan yang bikin 'benci tapi rindu'.

Oh iya, akhirnya aku punya reed yang baru, dua lagi. Oke, yang benar-benar baru cuman 1. Tapi bagiku tetap saja dua-duanya baru, habis suaranya enak banget :3 Jadi betah main bassoon.

Hal selanjutnya yang ingin kulakukan secara intens adalah melanjutkan cerita Alya dan Rafi, biar beneran jadi novel. Ayolah, Nda, waktu SMP idemu begitu lancar, kreativitas membara. Kenapa sekarang menciut?

September, Display UKM dan Wisuda menanti. Berarti Mahawaditra akan kedatangan para anggota baru 2011!

Minggu, 12 Juni 2011

28 Tahun OSUI Mahawaditra - Resep Cinta Mahawaditra

Baru kali ini aku merasakan hal yang seperti ini, bahagia berada di dalam suatu organisasi. Terlebih lagi, bukan sekadar organisasi, tetapi juga merupakan sebuah orkestra. Orkestra mahasiswa.

Tentunya sebuah orkestra mahasiswa tak bisa langsung disamakan dengan orkestra pada umumnya, karena sebagai mahasiswa kami memiliki banyak perbedaan.

Kami adalah mahasiswa. Tugas kami adalah belajar. Tujuan kami adalah mendapatkan keahlian akademis untuk bekerja atau pendidikan lanjut. Kami rela ngekos demi kelancaran kehidupan akademis kami. Tujuan kami masuk universitas hanya satu: belajar.

Itu awalnya.

Setelah kami berhasil masuk UI, kami dihadapkan pada kenyataan bahwa hidup di kampus tak melulu belajar. Sebagian dari para mahasiswa yang menonton aksi para UKM pada demo UKM merasa mendapat 'pencerahan' berupa rasa ingin tahu terhadap suatu UKM.

Sebagian dari para mahasiswa itu adalah kami. Kami adalah anggota OSUI Mahawaditra yang berhasil 'menetap' di UKM ini.

Kami yang berlatar belakang berbeda-beda, telah menjadi anggota Mahawaditra dengan tujuan yang sama: ingin bermusik dalam format orkestra, ingin menjadi pemusik handal dengan instrumen-instrumen yang memiliki keunikan pada tiap jenisnya. Namun, sejalan dengan waktu, kami mengerti bahwa Mahawaditra bukan sekadar orkestra biasa.

Mahawaditra adalah nama dari sebuah orkestra yang merupakan UKM – Unit Kegiatan Mahasiswa di Universitas Indonesia. Kegiatan – berarti ada sebuah susunan organisator di dalamnya. Organisasi yang membuat UKM tersebut dapat terus ada.

Awalnya, kami yang merupakan anggota baru mungkin tak membayangkan nantinya akan menerima tongkat estafet kepengurusan. Setelah kami masuk dan seiring waktu berjalan, kami mengerti bahwa bergabung di Mahawaditra tak hanya akan mengasah kemampuan bermusik, tetapi juga segala kemampuan berorganisasi.

Aku telah bereksperimen sedikit untuk membuat kue yang dapat membuat siapa pun menjadi cinta pada musik, pada kegiatan organisasi di dalamnya, pada Mahawaditra.

Untuk membuat adonan kue berupa musik dan orkestra, siapkan secangkir niat kita untuk bermusik, campurkan dengan kemampuan belajar bermusik, lalu aduk rata sambil ditambahkan sedikit demi sedikit komitmen dan disiplin di dalamnya. Untuk wadahnya yang bernama organisasi, kita buat dari keingintahuan untuk sukses, tuangkan kerja keras dalam berorganisasi, lalu uleni dengan komitmen dan ketegasan agar menjadi wadah yang tidak mudah hancur. Tuangkan adonan musik ke atas adonan wadah yang telah dibentuk dan kokoh, kemudian panggang dengan pengalaman pentas dan pengalaman jatuh-bangun dalam kepengurusan. Kue Mahawaditra telah siap dimakan. Jangan lupa taburkan cinta di atas kue, makin banyak cinta yang diberikan, makan kue akan terasa makin lezat untuk disantap.

Oke, resep tadi sepertinya agak maksa, ya. Hihihi. Tapi aku menikmati proses penulisan resep ini. Karena resep ini masih eksperimental, jadi kurasa masih perlu diuji coba lagi agar dapat sempurna.

28 tahun yang lalu, tepatnya 11 Juni 1983, OSUI Mahawaditra terbentuk atas inisiatif Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, rektor Universitas Indonesia pada masa itu. Nama “MAHAWADITRA” sebenarnya adalah gabungan dari dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu “MAHA” yang berarti “Agung” dan “WADITRA” yang berarti “Suara”. Jika digabungkan, maka kata itu akan berarti “Suara yang Agung”. Jujur, aku sendiri sangat suka dengan nama ini. Sangat. It’s just perfect, and its sounds cool, too, when we pronounce it.

Banyak orang-orang hebat yang terlahir dari Mahawaditra. Hebat dalam bermusik, dalam berorganisasi, dalam berinteraksi, dalam berkeluarga, dalam kompetensi, dalam kerja keras, dalam disiplin, dalam mendidik, dalam berteman. 28 tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk menghasilkan orang-orang hebat tersebut. Ada kalanya jumlah produksi orang-orang hebat sedikit, ada kalanya banyak.

Mahawaditra telah berkiprah dalam dunia orkestra selama 28 tahun. Orkestra yang terbentuk dari mahasiswa dan juga diperkuat oleh alumninya sendiri. Orkestra yang mampu melahirkan para pemusik handal dari yang awalnya tidak bisa membaca partitur. Ya, kalian bisa saja mencap tulisan saya hiperbola. Tapi inilah saya, saya hanya berkata apa adanya sesuai dengan pandangan saya.

Konser akbar 27 tahun Mahawaditra adalah pembuktian kami, bahwa kami adalah orkestra mahasiswa yang besar, yang cukup berkompeten, berkeluarga dengan pihak lain yang membantu suksesnya konser tersebut. Dapat terlihat dari para pemain konser akbar tersebut, mulai dari yang sangat senior sampai anggota baru, semua dapat bermain dengan baik.

Satu hal yang kusuka dari Mahawaditra adalah rasa kekeluargaan yang amat terasa. Maaf, lagi-lagi yang dibahas mengenai hal yang mungkin nggak relevan. Tapi aku rasa inilah salah satu bahan dasar dari resep cinta Mahawaditra, yang membuat Mahawaditra tetap ada. Interaksi antarangkatan sudah layaknya antaranggota keluarga, seperti paman pada ponakan, seperti kakek pada cucu, seperti ibu pada anak.

Sebelum mengakhiri tulisan yang agak ‘gaje’ ini, aku ingin memberikan penutup:

“Cinta adalah dasar dari semuanya. Kalau tidak cinta, tidak ada keluarga. Kalau tidak cinta, tidak ada teman, tidak ada sahabat. Kalau tidak cinta, tidak ada yang dipertahankan, tidak ada yang dilindungi. Kalau tidak cinta, tidak ada yang dibela. Mencintalah dengan kadar yang tepat. Jangan berlebihan, jangan juga kurang.”

Aduh, sebenarnya itu nggak relevan banget, ya? Ya sudah, nggak apa-apa. Lagi pingin coba jadi pujangga. Tapi kayaknya gagal. Hehehe. Oh iya, satu lagi, sebenarnya ini mencomot dari kalimat di postingan sebelumnya (edisi ke Malaysia).

“Ketika kau menjadi seorang Mahawaditran (red: anggota Mahawaditra), kamu akan tergabung dalam satu keluarga besar Mahawaditra. Ke-lu-ar-ga. Betul?”

Kayaknya harus diakhiri beneran ini, sudah mulai ngawur. Hahaha.

Sekian, terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca tulisan yang apa adanya ini. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.



Depok, 12 Juni 2011, 10.00

Kamis, 21 April 2011

Finally, The Day Had Come!!!

Yea.. 20 April.

Dimana semalam sebelumnya, 19 April malam, aku masih iseng mantengin FB, dan menemukan suatu hal yang fenomenal:


Yea... ini fenomenal bangeeeet! Sepanjang sejarah aku Facebook-an, belum pernah nemu yang nge-approve sebanyak ini, bahkan sekarang mungkin sudah lewat 200? Aduh, ini skandal terbesar di usia dua dekadeku! Hahahahahaha! Sumpah, sejak tanggal 19 malam itu jadi nggak bisa berhenti ketawa kalau teringat gambar ini dan komentar-komentar terhadap gambar ini.

Dan kegiatan nyampahin komen di gambar ini berlangsung mulai tanggal 19 April pukul 23.30, sampaaaaai tanggal 20 April pukul 1.00. Gile, ini sih merayakan ultah dengan nyampah di FB! Tapi ini seru loh. Sumpah.

Pada tanggal 20 April, mulai pagi Twitter dan FB-ku sudah ramai. Ramaaaai. Panjangkan a-nya. Lalu tak ketinggalan beberapa yang ingat dan bertemu di kampus mengucapkannya juga, dan aku membalas dengan sukacita.

Kau tahu? Lagi-lagi ulangtahunku dihadiahi ujian. Setelah dua tahun lalu hadiahnya adalah Ujian Nasional hari pertama, sekarang Ujian modul Dasar Dietetik. Wow!

Kemudian, demi melaksanakan niat mencoba restoran di MIPA, dengan alibi mau merayakan ulangtahunku, akhirnya aku, Defry, dan Mega berangkat tanpa ragu-ragu untuk makan di sana. Defry yang traktir. Cikiciw, makasih Defry dan Mega!

Kailan Saus Tiram - Gurame Telor Mentega - Fu Yung Hai Udang.
katanya "Udah coba ajaa"

Selanjutnya, balik ke FKM. Soalnya ada Nutrition Highlight Month yang membahas labeling produk pangan. Wah seru tuh!

Setelah itu aku langsung cus ke Pusgiwa, menanti rapat (sambil nge-charge HP). Karena masih lama, jadi tidur dulu aja deh di sekre. Hahahaha.

Kemudian rencana untuk karaoke yang kemarin dicetuskan pun diangkat oleh Innes. Pertamanya nggak yakin ada yang bisa ikut, tapi ternyata beberapa bisa. Jadilah aku, Innes, Tamya, Alice, dan Rifky yang berangkat setelah rapat selesai. Kak Reza katanya moga-moga bisa. Eh, tahunya, di tempat karaoke ketemu Dhika yang ternyata barusan kelar karaokean! Dan dia join juga buat sejam... oh la la. Dhika... Dhika. Hahahaha.



Nggak ada kecurigaan sama sekali. Sumpah. Kupikir ini sudahlah karaoke biasa aja... Ternyata. Pukul 22.45 (kira-kira jam segitulah) Tamya dan Dhika yang tadi keluar sebentar (kurasa lama, makanya heran) kembali dengan membawa kue... kue Breadtalk! Kyaaa~ Nggak menyangka dapet kejutan seperti ini... Ini pertama kalinya loh, aku dikasi kejutan kue... Beneran deh, walau ekspresi nggak heboh, tapi dalam hati terharu... Tapi Dhika buru-buru pulang, jadi setelah makan kuenya langsung cabs deh. Hahaha.

I love you all, Mahawaditrans!!!
(Kak Reza-Alice-Innes-aku-Tamya-Rifky)

Intinya... TERIMA KASIH. Tak terhingga buat kalian yang sudah mendoakanku... semoga doa kalian menjadi yang terbaik buatku. Juga buat keluarga besar Mahawaditra yang sudah sukses memberi kado terindah dalam waktu 24 jam ini, berupa 1000 komen demi terwujudnya pesta kripik balado dan pasta terong! Niat kalian benar-benar hebat kawan, demi kejar setoran deadline yang diajukan oleh promotor kripik balado, Rifky!

I HEART YOU ALL :*

Depok, 21 April 2011
10.15
"Selamat Hari Kartini, wanita Indonesia!"

Sabtu, 16 April 2011

MUSIKAMPUS VIII OSUI MAHAWADITRA ::THE SHOW-1st DAY::

Well, this is it. Dengan segala kemepetan waktu anak kuliahan, kami bergegas menuju ke Balai Sidang BNI UI Depok. Berganti baju dan berdandan, menyiapkan instrumen, standpart, partitur, dan... mental. Berharap-harap cemas walau ini bukan konser pertama bagi sebagian orang.

Kami berkumpul di backstage, di ruang pemain. Berdoa. Sementara penonton masih menunggu di luar. Di hari pertama, kami menggunakan pola: pemain sudah standby di panggung melakukan pemanasan, sembari penonton masuk menempati kursi yang telah tersedia. Setelah semua siap, concert master akan memimpin tuning sebentar. Setelah itu konduktor masuk, main komposisi pertama, lalu setelah selesai, konduktor keluar, barulah MC membuka acara. Dengan pola seperti ini kami berharap dapat memberi kesan bahwa kami menunjukkan, inilah kami apa adanya, terimalah kekurangan kami.

Ah, berikut kuberikan saja ya, repertoire hari pertama!

Eine Kleine Nachtmusik
Composer: W.A. Mozart, Arranger: Merle J. Isaac
Komposisi pembuka ini pasti sudah familiar sejak birama pertama dimainkan: G-D-G. Komposisi Mozart yang satu ini dipilih sebagai pembuka karena iramanya yang penuh semangat dan gairah. Cukup dapat membakar semangat para pemain untuk memainkan komposisi selanjutnya.

Air (on G for String)
Composer: J.S. Bach
Kami mudah mengingat komposisi yang satu ini: Air Bach. Hahaha. Komposisi untuk string ensemble ini bertempo lambat dan mendayu-dayu. Sepertinya cocok untuk menenangkan pikiran kalau lagi stres.

Ode to Joy
Composer: Ludwig van Beethoven
Komposisi sederhana ini juga familiar di telinga. Silakan search dengan judul tersebut sebagai keywordnya. Komposisi ini dibawakan oleh brass ensemble.

Here, There, and Everywhere
Popularized by: The Beatles
Lagu lawas yang satu ini memang tak pernah mati. Sampai zaman kini pasti masih pada kenal dengan lagu yang satu ini. Dan siapa pula yang tak mengenal The Beatles, band legendaris kelas dunia? Brass ensemble membawakannya dengan apik.

Harry Potter’s Theme Medley
Composer: John Williams, Arranger: Bramana Putra
Sebuah komposisi dari film terkenal yang diangkat dari novel karangan J.K. Rowling, Harry Potter. Mungkin orang-orang familiar di awal-awal bagian saja, karena memang yang sering terdengar pada tiap pembuka film Harry Potter adalah bagian awal tersebut. Mungkin woodwind section masih gugup ketika memainkan komposisi ini, sehingga maaf jika hasilnya kurang maksimal.

To Zanarkand
Composer: Nobuo Uematsu, Arranger: Widayanto
Salah satu komposisi yang berasal dari sebuah game terkenal dari Jepang produksi Square-Enix, Final Fantasy X. Komposisi yang tenang dan sedikit misterius ini dibawakan oleh woodwind ensemble. Oh iya, di penampilan ini, anak-anak woodwind 2010 yang baru bisa memainkan instrumen mereka pun turut tampil, lho! Bangga deh sama kalian!

Konzert in D - Harpsicord Concerto No.1 in D Major KV107
Composer: J.S. Bach, Arranger: W.A. Mozart
Sebuah komposisi yang riang dan jujur membuatku ikut riang ketika mendengarkan komposisi ini dan membayangkan para pemain yang memainkannya dengan gestur yang riang, gemulai, dan mantap. Harpsicord menjadi tokoh utama diiringi oleh string ensemble.

Canon in D
Composer: J. Palchelbel
Lagi-lagi, sebuah komposisi yang easy-listening. Pasti sangat familiar di telinga kalian. Komposisi lambat yang kami bawakan secara agak cepat sehingga terlihat bersemangat.

L’Arlesienne Suite No. 2 – part IV, Farandole
Composer: Georges Bizet
Yak, inilah komposisi yang menjadi momok bagi kami selama latihan berlangsung bahkan sampai hari-H konser. Solo flute kurang maksimal dalam performanya sehingga bagian krusialnya tidak dapat dimainkan dengan lancar. Tempo dari komposisi ini memang sangat cepat, silakan search sendiri kalau tidak percaya. Tapi kami berusaha memberikan yang terbaik yang kami mampu untuk membawakan komposisi ini.

Hungarian Dance No. 5
Composer: Johannes Brahms
Sebuah komposisi klasik populer yang merupakan lagu pengiring tarian. Temponya cukup cepat tapi mengasyikkan :). Pada hari pertama ini aku cukup kewalahan memainkan not-notnya dengan benar, tetapi komposisi ini menjadi sajian penutup dari rangkaian konser hari pertama.

MUSIKAMPUS VIII OSUI MAHAWADITRA ::BEHIND THE SCENE::

Sebelum aku bercerita mengenai kesuksesan MusiKampus VIII OSUI Mahawaditra “When Simplicity Meets Its Beauty”, aku ingin bercerita mengenai proses menuju kesuksesan tersebut. Mari!

Pemilihan komposisi yang akan dimainkan sudah dilakukan sejak bulan Januari 2011 kemarin. Namun masih sedikit, dan perlahan bertambah selama sebulan ke depan. Latihan dilakukan selama sekali seminggu pada dua bulan pertama – mulai bulan Maret, kami latihan dua kali seminggu, yaitu pada hari Sabtu dan Minggu di Balai Mahasiswa UI Salemba.

Untuk latihan full orchestra, kami mulai pukul 1 siang pada hari Sabtu dan pukul 4 sore pada hari Minggu. Latihan sectional, biasanya string section berlatih pada hari Sabtu pukul 10. Tapi menurutku itu bukan latihan bagi string section, karena lebih tepat dibilang mereka menjadi tutor bagi string section angkatan 2010. Jadi kupikir untuk latihan, mereka lakukan sendiri di rumah masing-masing. Untuk woodwind section, latihan dilakukan pada hari Sabtu setelah latihan full orchestra berakhir, yaitu pukul 5. Brass section bisa berlatih sectional ketika break latihan full orchestra. Tapi mereka juga punya jadwal latihan sendiri kok, tapi di hari kerja...

Untuk urusan kepanitiaan, jujur menurutku agak ada chaos di berbagai titik. Bagiku mungkin karena susunan kepanitiaan ini sebagian besar belum berpengalaman menjadi panitia bidangnya di sini, dan kurang koordinasi. Sepertinya itu juga disebabkan tidak adanya bimbingan dari senior mengenai bidang kepanitiaan yang mereka lakukan. Ini sangat disayangkan karena jika dilihat dari jumlah hari tampilnya, yaitu dua hari, event ini tergolong event yang cukup besar dengan total jumlah penonton mencapai 700 orang. Jadi mungkin harap dimaklumi, dikritisi, dan diberi masukan mengenai kepanitiaan ini.

Lalu aku sendiri. Aku. Ya, aku. Kenapa? Aku sendiri, tersandung pada masalah instrumen yang masih bermasalah sejak konser D.A.U.N lalu selesai. Entah mengapa, ada suatu hal yang menahan alat tersebut sehingga sampai sekarang belum tuntas juga direparasi. Sudah memasuki bulan ke-5 dan belum selesai juga. Jadi, berharap-harap dan akhirnya dibukakan jalan untuk dapat meminjam instrumen tersebut, bassoon/fagott, pada salah seorang kenalan. Alhamdulillah, ini berarti aku tetap bisa ikut berpartisipasi. Walau... Baru dapat pinjaman di H-7. Berasa pemain pro. Padahal main belepotan dan pas yang susah suka tacet.

Belum lagi masalah-masalah internal, sampai eksternal yang tak berhenti mendera sampai ke hari kedua konser. Masalah-masalah terus ada, namun pada akhirnya mengantarkan semuanya pada akhir yang bahagia.

Sukses MusiKampus VIII!!!

Selasa, 05 April 2011

Aku?

Sebenarnya waktu dengar kabar ini beberapa minggu lalu, agak shock juga sih.

Seperti yang sudah diketahui, Woodwind 2009 memiliki formasi lengkap - Flute, Clarinet, Oboe, Bassoon. Walaupun orang-orangnya ada yang tambal sulam, ada juga yang setia.

Tapi di tahun ini, formasi tersebut terancam pecah. Kenapa?

Flute. Dari 2009 yang terlihat selalu datang cuma Yogi. Michael ada, cuma ga sesering Yogi. Fatya masih sibuk dengan kegiatannya. Lalu siapa lagi ya? Nah, dari kondisi yang demikian, si Yogi malah excited karena dapat kesempatan student exchange ke Jepang. Iya sih, kangen sama Jepang. Kondisi ini akan membuat posisi Flute 2009 kosong.

Clarinet. Di 2009 yang lumayan sering datang Ivan. Dio sudah berpaling hati ke UKM lain (haha). Ana sudah nggak jelas. Ivan, dia program Kelas Internasional, berarti tahun ini ia akan pergi ke Australia untuk melanjutkan program double degree-nya. Kosonglah Clarinet, karena PP, 2008, juga sudah mulai akan fokus skripsi mulai tahun ini. Ya, Clarinet 2009 kosong.

Oboe. Dari 2009 cuma Fika yang nampak. Dan Fika, seperti halnya Ivan, adalah anak Kelas Internasional, berarti tahun ini juga akan ke Australia. Yah, hilanglah Oboe. Kak Felix lagi sibuk-sibuknya. Riani masih harus banyak belajar. Semoga ia bisa jadi pengganti Fika! Kondisi ini membuat Oboe 2009 kosong.

Bassoon. Dari 2009, dan dari semuaaaa angkatan yang aktif, cuma aku. Yaiyalah, alatnya cuma satu. Dan aku yang nggak kemana-mana. Di sini. Yang kemudian dilimpahkan tanggung jawab menjadi koordinator Woodwind!

Semoga bisa!

Minggu, 03 April 2011

Sour Ribbon Itu... Ah!

stasiun yang berada di
lantai 3 KL Sentral
media kampanye kesehatan
di tangga stasiun
Sampai di KL Sentral, kami langsung menitipkan barang-barang kami dalam satu buah loker yang paling besar. Setelah itu kami pergi ke Pasar Seni dengan naik kereta. Hanya 1 stasiun, harganya RM1. Sesampainya di sana, kami berjalan dari stasiun ke Pasar Seni. Di dekat gerbang kami berfoto sekali. Setelah itu split menuju ke tujuan masing-masing.

Aku memutuskan untuk beli gantungan kunci saja, yang murah dan bisa dapat banyak... Ini kan pertama kali aku ke sini, dan nggak bawa uang banyak- banyak. Aku membeli dari 3 toko yang berbeda, di luar dan di dalam. Yang di dalam seru, kaya ITC gitu tapi rapih. Di dalam banyak toko baju, makanan, pernak-pernik, dan lain-lain. Kak Bram beli Sour Ribbon. Huaah, rasanya asammmm! Tapi nagih :P aku bertekad nanti mau beli di KL Sentral.
di depan gerbang Pasar Seni

Berjalan di koridor dari stasiun
menuju Pasar Seni

ini toko di bagian luar.
terik matahari cukup
ga nyantai!
ini salah satu toko oleh2
makanan, dan... jeng jeng,
kenapa yang ketemu malah
lapis legit Monica??!
berfoto buru-buru karena banyak
mobil lewat
Kemudian kami kembali ke KL Sentral. Sudah buru-buru karena waktunya mepet untuk ngejar Skybus pukul 3. Aku jadi nggak bisa banyak-banyak beli Sour Ribbon di KL Central, hanya beli sebungkus untuk sekedar mencoba bersama keluarga di rumah nanti. Dan kami pun turun menuju ke Skybus.


That’s it, the Skybus had departed from KL Sentral, heading to the airport. As the bus rotated its wheels, I saw all the things I can before I really left this country.

Setelah memasuki waiting room, kami tak perlu menunggu terlalu lama karena panggilan untuk para penumpang AirAsia tujuan Jakarta telah terdengar.

Ketika masuk ke dalam kabin, whoaaahhh! Terlihat asap-asap putih keluar dari pendingin! Rasanya kok kayak kita seperti makanan di dalam boks pendingin di supermarket. Tapi ketika pesawat mulai take off, asap putih itu berangsur menghilang. Dan yang lainnya, yang masih lelah, memilih untuk tidur. Dan aku? Entah kenapa ya, aku merasa agak gloomy waktu itu. Tanpa alasan. Malas bicara. Memilih untuk membaca novel yang aku bawa. Ah, labil dan galau to the max banget waktu itu!

mengantri untuk mengecap paspor
di bandara Soekarno-Hatta

Sesampainya di Soekarno-Hatta, aku merasa cukup kangen juga dengan suasana ‘lorong kedatangan’ ini. Dulu waktu masih SD sering banget melewati lorong ini. Tapi penerbangan domestik sih. Dan sekarang aku melewati lagi, kali ini lorong internasional. Kami lanjut ke pemeriksaan imigrasi. Setelah keluar, kami berpisah dengan Mas Bowo – karena yang lain nebeng Andi semua, hihihi. Innes, Tamy, Mbak Kris, Yoga, Yogi. Waw, kali ini lebih ramai. Untung kali ini yang jemput hanya Ayahnya Andi dan supir. Kalau Ibu Andi ikut seperti waktu berangkat, pasti lebih penuh.

Ketika di mobil Andi, kami mengobrol banyak hal, dan sepertinya klimaksnya adalah ketika kami ngomongin beberapa hal tentang gigi (secara ‘tuan mobil’-nya Andi dan dia anak FKG). Yang terakhir turun di Kober adalah aku, Innes, Yoga, dan Yogi. Kami berempat memutuskan untuk makan malam dulu di Mie Aceh (warung Mie Aceh ini patut dicoba lho! *promosi*). Setelah itu aku sendiri menuju ke depan Margo City naik angkot, karena dijemput di situ. Wah, ini jam pulang karyawan ternyata, cukup banyak orang-orang yang menunggu di situ untuk menjemput.

sour ribbon!
bahkan segini masih kurang loh.
sumpah.
bonus pin dari toko ke-2
di pasar seni!
Sesampainya di rumah, aku bongkar muatan. Menghitung jatah oleh-oleh bersama Mama, dan membuka bungkus Sour Ribbon yang sudah membuatku penasaran sejak di KL Sentral tadi. Mama mencuil sedikit dan memakannya. Wihiii asyemmm... Lalu adikku pulang, dan ikut mencoba juga. Idih, jadi dia yang ketagihan... Dari warna-warna yang aku beli (hijau, biru tua, merah, dan pelangi) aku paling suka yang biru tua. Entah apa bedanya, rasanya asem semua kok, tapi yang biru lebih pas buatku. Sembari mengatur oleh-oleh, bersama kami berangan dan mengatur rencana suatu saat kami akan pergi ke luar negeri bersama keluarga.

Dan... inilah realita, kawan. Kembali ke alam sadarmu, besok ada kelas tutorial dan kuliah umum!

Sumpah, Isengnya Kompak!

Lalu aku dikagetkan dengan alarm HP Kak Kirana yang berbunyi. Oh, sudah subuh kah? Rasanya aku belum cukup istirahat... aku menjangkau HP Kak Kirana karena yang punya nggak peduli dan sepertinya pingsan (tapi kayaknya dia dan Kak Ariana juga sadar karena pas ditanya besoknya pada ngeh), melihat jam di HP tersebut (HPku dicharge di 534). 3.30. Oh, masih jam segini... Kumatikan saja, mungkin salah ngeset. Lalu kembali tidur dengan nyenyak.

Paginya, aku lupa bagaimana akhirnya aku bangun, lalu langsung sholat subuh karena terlihat hari sudah cukup terang. Walau dingin aku berwudhu (yaaa air dingin saja), ketika keluar kamar mandi, znggggg... hawa dingin AC menyergap. Hiii, dingin. Tapi enak. Hehehe. Aku sholat subuh.

Ketika aku masuk rakaat kedua, pintu diketuk. Kak Kirana yang sudah setengah terjaga membukanya. Tiba-tiba satu tangan menjulur ke dalam, melemparkan HP yang menyetel suara lantunan ayat suci. Plus suara-suara ketawa dari luar. Suara cowok-cowok. Mana pintunya terbuka di saat aku sujud, lagi. Kalau dijeblakin kan bisa saja aku kejeduk. Untung bukanya cuma sedikit. Kamu tahu ulah cowok-cowok itu buat apa? Buat ngisengin! Dikira belum pada bangun? Begitu tahu ada aku yang lagi solat, langsung deh HP Yoga itu diambil lagi dan dimatikan suaranya. Aduh, rasa nggak khusyuk ini solatnya. Antara pengen ketawa. Setelah aku selesai, aku dan Kak Kirana langsung ngomongin cowok-cowok iseng itu. Ternyata, kamar 534 juga kena begituan, tapi suaranya suara jeritan cewek (ringtonenya Yoga yang super aneh itu). Maunya tadinya yang di kamarku juga suaranya yang itu, tapi salah setel, jadinya yang kedengeran “Bismillahirrahmanirrahim”. Yah bagus deh, mengiringi aku yang lagi sholat. Hihihi.

Setelah sholat, aku ke kamar 534 untuk menengok HP ku yang lagi di-charge. Sudah penuh. Yaiyalah, semaleman di-charge. Ketika di sana, aku mengobrol dengan semuanya yang sudah bangun. Tamy, Andi, dan Mbak Kris. Ternyata kamar ini juga kena kejahilan dari cowok-cowok kamar sebelah. Aku dan Andi memutuskan untuk ke bawah, mencari sarapan. Duh, rasa laper banget ini padahal semalam makan jam 1 pagi.

Kami berdua memutuskan ke 7/11 mencari sarapan. Andi membeli roti, aku juga. Kemudian aku memutuskan untuk membeli minuman panas karena cuaca dingin pagi itu. Aku yang belum pernah beli apa pun di 7/11 di Jakarta, sekarang penasaran dan ingin mencoba, mumpung ada duit (kalo di Jakarta duitnya kepake buat yang lain-lain). Aku membeli coklat panas. Oh, jadi gini toh caranya beli minuman di 7/11... Dan mencoba belinya itu bukannya di Jakarta, malah di Malaysia. Hahaha. Tapi coklat panasnya enak, sungguh. Ketika aku kembali ke kamar, Kak Ariana yang agak kurang sehat mencicipi coklat panasku, dan ia akhirnya menitip pada yang turun ke bawah lagi untuk beli coklat panas.

berfoto di lobi hotel
berfoto di depan hotel










Aku kemudian mandi dan berganti pakaian terakhirku. 9.15, kami bersiap check out dari hotel dan memutuskan untuk menitipkan barang-barang di loker ketika nyampai KL Sentral nanti. Tapi sekarang kami masuk ke McDonald dulu, sarapan. Karena tadi aku sudah kenyang dengan roti dan coklat panas, aku nggak beli sarapan lagi. Masih kenyaaang. Kami pun mengobrol soal keisengan cowok-cowok tadi pagi!

suasana sarapan di McD

stesen Bukit Bintang
Ketika itu, aku melontarkan pernyataan, “Gimana kalau naik monorailnya sampai ke ujung yang satu dulu, terus nanti ikut balik sampai ke KL Sentral? Kaya kalau mau naik kereta, ke Kota dulu baru ke Depok!” Dan ide ini disambut dengan baik. Hahaha dasar mental Cikini, kalau mau dapet tempat duduk sampai Depok, ikut dulu sampai Kota lalu ikut balik ke Depok.

maunya berlatar monorail... tapi over!
antri ya anak-anak...
dalam perjalanan menuju KL Sentral
Sepanjang perjalanan naik monorail, kami melihat-lihat pemandangan, berfoto, dan ngobrol. Yang masih lelah, tertidur sepanjang perjalanan.

Olahraga Sampai ke Bukit Bintang


Selama konser berlangsung, aku duduk bersebelahan dengan Andi. Tahu yang kukerjakan sama dia sepanjang acara? Senyum-senyum, kagum, terus sesekali ngomentarin permainannya. Kebetulan yang ada di hadapan kami adalah pasukan Contrabass, dan yang namanya bule kan badannya gede-gede. Nah di depan kami, principal-nya Contrabass, badannya segede alatnya. Aku dan Andi berkali-kali berkata bahwa pemain yang satu itu lucu, seperti boneka beruang besar! Hahahaha.

Setelah keluar, kami berfoto lagi... Di depan pintu hall, di depan standing banner MPO. Dan yang paling nggak boleh dilewatkan... berfoto dengan latar belakang gedung Petronas yang bermandikan cahaya lampu mulai dari lantai paling bawah sampai puncak. Kami semua keluar. Di belakang Petronas tower itu ada kolam air mancur yang panjang, hanya beroperasi sampai mungkin pukul 9 malam waktu setempat. Jam segitu kan acara masih berlangsung.

Segera kami berjalan menjauhi gedung untuk mendapatkan spot yang bagus untuk berfoto dan memandangi gedung tersebut. Wah... Kalau ini di komik, aku pasti sudah bolak-balik mencubit pipiku. Saking kagum dan nggak percayanya kalau aku sekarang benar-benar di luar negeri. Aaaah noraaaak! Tapi ya inilah aku, mohon maaf apabila ada yang nggak berkenan.

Aku dan beberapa orang berjalan ke pinggir jalan, ke bawah salah satu lampu jalan. Biar mukanya keliatan pas memotret diri sendiri pakai kamera HP. Dan akhirnya, setelah aku bereksperimen sekitar 4 kali, dapatlah 1 biji yang kelihatan dua-dua gedung itu. Haaa... puas deh. Aku dan yang lain kembali ke pinggir kolam air mancur untuk berfoto bersama dengan latar gedung Petronas. Menggunakan kamera Kak Bram dan tripod mininya, kami ber...lima belas, ya, lima belas, mengatur posisi agar muat difoto. Dan hasilnya... cukup bagus, malah kayak foto boongan. Maksudnya, kayak kami foto di tempat lain dan digabung dengan latar gedung Petronas menggunakan Photoshop. Aaaah tapi itu beneraaaan di sanaaaa...

Setelah puas, kami sadar bahwa jam segitu sudah nggak ada kereta maupun bis yang beroperasi. Tamjus menawarkan untuk beberapa orang (beberapa, benar-benar beberapa!) buat nebeng dia sampai Bukit Bintang. Dia sih sama sepupunya yang ikut nonton juga. Tapi kami semua memutuskan untuk nggak ada yang nebeng dan kompak akan berjalan sampai Bukit Bintang. Jadi, siap-siap ya para wanita yang mengenakan high heels. Kita olahraga malam!

Dan... kami berjalan menyusuri kafe-kafe yang macam di Kemang yang buka sampai jam 3 pagi itu. Banyak sekali jumlahnya. Dan jaraknya itu kalau dihitung-hitung dari Petronas ke Bukit Bintang, sepertinya mungkin sama seperti thawaf di lingkar luar UI sebanyak 4... tidak, mungkin 5 kali? Bukan, bukan lebay... ini beneran. Rasanya jauh dan sudah capek, tapi karena ramai-ramai jadi nggak terasa. Di tengah jalan sudah mendekati BB, kami sepakat masuk ke 7/11 untuk membeli minum. Yaa... akhirnya semua membeli minum dulu.

Kemudian kami lanjut berjalan melewati kawasan seperti Citos gitu, kafe-kafe yang berada di sekitaran plaza berlantai batu gitu... dan akhirnya sampailah kami di perempatan dimana stasiun monorail Bukit Bintang berada, dimana ada media iklan salah satu provider internet Malaysia bernuansa biru-putih yang berdiri di salah satu street corner di dekat situ. Terang sekali. Kami menyeberang ke depan, menyusuri pertokoan, bingung mau memutuskan mau makan di mana.

Tapi sampai di dekat hotel, beberapa memutuskan untuk istirahat saja. Dan hanya beberapa yang memang mau makan semalam ini (jam 12.30 meeen 12.30 dini hari masih mau makan!).

akhirnya kami makan di sini
Kami berjalan ke daerah di belakang hotel tersebut, di depan BB Plaza. Namun banyak kios makanan yang stoknya sudah habis, dan hanya satu yang sepertinya masih banyak stoknya. Kami memutuskan untuk makan di situ. Tempatnya betul-betul sempiiiit dan terbatas.

Di dekat sini ada semacam panggung live kecil. Padahal pas tadi kami nyari-nyari tempat makan, panggung itu nggak ada yang ngisi sama sekali. Tapi pas kami duduk, eeeh mulai deh tuh suara ngiiing dari sound kedengeran. Niat banget mau ngehibur kami, nungguin kami dapet tempat kayanya. Hahaha.

sebelah: shisha...
Aku berani bertaruh, lagu-lagu yang akan mereka mainkan pasti ada yang lagu Indonesia. Yaa ada sih lagu barat yang kukenal dan itu tembang lawas (alamak, jangan-jangan sama saja kaya panggung gembira di sini lagunya lagu-lagu tembang kenangan gitu). Dan... yak, inilah yang ditunggu-tunggu: mereka memainkan satu lagu dangdut Indonesia yang sudah sangat sangat sangat terkenal: KOPI DANGDUT. Aku dan yang lainnya: “Eaaa, jauh-jauh dengernya begini juga...” Dan ada satu buah lagu yang dipopulerkan oleh band RADJA, mereka juga menyanyikan lagu itu. Tapi bukan yang Benci Bilang Cinta, aku lupa judulnya apa.

Setelah makan, aku melihat jam di HP. 1.30 dini hari. Alamak, mau bangun jam berapa ini, pasti nanti pas sholat susah bangunnya -___- Eh tapi, cuma beberapa loh yang memutuskan untuk langsung balik ke hotel (eh, cuma Yogi deng yang balik ke hotel). Kami memutuskan untuk melanjutkan kegilaan ini, mumpung pergi bareng ke luar negeri dan lagi di sini daerah malam, masih banyak lampu yang menerangi jalanan Bukit Bintang ini. Aku, Andi, Tamya, Yoga, Kak Kirana, Kak Bram, dan Mbak Kris. Kami berjalan ke tempat commercial media nya si provider internet yang superterang di tengah kegelapan malam itu. Karena area corner di situ cukup luas, kami berfoto-foto di situ. Sudahlah kami seperti orang-orang aneh... Mana lagi kami memutuskan untuk berfoto dengan pose lompat. Yah, biar deh. Toh kami belum tentu ke sini lagi dalam waktu dekat. Hahaha. Mana kami masih memakai pakaian untuk menonton konser tadi, jadi Kak Bram dan Yoga masih yang pakai kemeja kaya orang kantoran gitu.

Setelah puas, kami memutuskan untuk kembali ke hotel, beristirahat untuk besok. Jam menunjukkan pukul 2.30 dini hari waktu setempat. Di Jakarta sih masih pukul 1.30. Dan tebak apa kejutan yang menanti ketika kami kembali ke hotel? Wow, skandal kamar 534 tercipta! Tapi sepertinya hal ini nggak usah diceritakan lah ya, kasihan oknum yang terlibat... Hahaha bisa menimbulkan segudang gosip dan cie cie-an.

Aku kembali ke kamar 540 setelah insiden “waw kya cie astaga” itu, tidak mandi (aaah aku tahu ini menjijikkan dengan keringat yang masih nempel), ganti baju, lalu tidur. Aaah... nyamannya...





ini bukti kegilaan kami!

The Show is On. Take Two!

Penonton dengan tertib kembali masuk ke dalam concert hall. Setelah duduk rapi, conductor Richard Kaufman keluar dan disambut oleh tepuk tangan. Setelah sedikit berbasa-basi, ia mulai mengangkat baton, mengayunnya, dan terdengarlah musik yang familiar. Kau tahu “Indiana Jones”? Ya, ini adalah komposisi dari film “Raiders of The Lost Ark”. Namun orang lebih kenal dengan nama tokoh utamanya yaitu Indiana Jones. Komposisi yang penuh semangat ini dibawakan dengan semangat pula.

Aku melihat buku program acara. Selanjutnya adalah “Viktor’s Tale” dari film “The Terminal”. Richard berkisah bahwa film ini didasarkan pada kisah nyata dari seseorang bernama Viktor, seorang turis yang berada di negeri orang dan ia tidak dapat keluar dari bandara karena urusan kewarganegaraan. Dirinya yang saat itu kehilangan kewarganegaraan karena negara asalnya telah tiada, kehilangan haknya untuk dapat keluar bandara. Visa miliknya tak berlaku. Ia pun tak dapat pulang karena negaranya telah berganti nama. Ia akhirnya menjadi penghuni tetap di bandara tersebut, berkawan dengan orang-orang disana, dan menghabiskan sisa hidupnya di sana. Mengharukan tetapi sedikit lucu. Aku belum pernah menonton filmnya, tapi komposisi ini cukup menghibur. Alunan clarinet yang unik adalah ciri khas dari komposisi yang satu ini.

Dan yang telah ditunggu-tunggu, yaitu “Harry’s Wondrous World” dari film yang sangat, sangat mendunia, yang diangkat dari novel fantasi karangan J.K. Rowling, “Harry Potter”. Komposisi yang bagian awalnya selalu menjadi pembuka dari tiap episode film ini membuat para penonton terbuai.

Selanjutnya, dua buah komposisi sekaligus dari satu buah film, “Hook”. Yang pertama berjudul “The Face of Pan”, dan yang satunya “Flight to Neverland”. Kalau kata Richard, “Apakah kalian terbawa sampai ke Neverland?” Dua komposisi ini masih terdengar asing di telingaku.

Kemudian komposisi yang merupakan theme song dari film yang cukup horor, “Jaws”. Cukup deng dereng dereng juga ini komposisinya, membuat tegang, apalagi layar di belakang menampilkan gambar-gambar dari film tersebut. Uh, mereka nggak tahu aku nggak suka yang begituan.

Komposisi terakhir sebagaimana yang dicantumkan dalam program book adalah theme song dari film “Extra Terrestrial (ET)”, komposisi berjudul “Adventures on Earth” ini mendayu, mengantar para penonton pada akhir acara. Menyentuh hati. Dan... ya, itulah akhir dari acara ini.

Kami mengira encore yang akan dibawakan adalah salah satu komposisi yang terdapat di sepanjang acara ini. Namun tidak! Mereka masih menyembunyikan satu komposisi lama John Williams yang dibuat pada tahun 1941, “The March from 1941”. Lagu mars yang sangat menggugah ini menutup perjumpaan perdanaku dengan orkes luar selain Mahawaditra pertama bagiku. Tak henti tepuk tangan terus diberikan sampai akhirnya Richard Kaufman benar-benar tidak keluar lagi (kalau sampai dia keluar untuk yang ketiga kalinya, akan kuberi piring cantik).

Kami keluar dari ruangan dengan.... hati lega sekaligus kecewa. Lega karena akhirnya pengalaman pertama menonton konser bersama di luar negeri telah tercapai. Kecewa karena besok kami sudah harus pulang dan kembali menatap realita Jakarta. Tapi kami berjanji suatu saat akan membawa massa lebih banyak dan akan menonton di tempat yang berbeda!

The Show is On. Take One!

Dengan penuh rasa ingin tahu dan penasaran, kami memasuki concert hall yang menjadi bagian dari PETRONAS Building itu. Yang menyambut kami adalah berbagai macam suara dari tiap alat musik yang ambil bagian dalam konser ini. Semua, ya, semua pemain sudah siap di panggung. Mereka sedang asyik melakukan pemanasan, latihan, memainkan bagian-bagian yang menurut mereka masih sulit. Wow. Wow. Wow. Kalau di Indonesia sih, mana ada yang begini. Biasanya pemain baru masuk setelah MC membuka acara. Tapi bagiku sih, hal ini sudah tidak aneh, karena menurutku model seperti ini juga bagus, jadi tidak menunjukkan kesan terlalu eksklusif, yang terpancar adalah aura bersahabat. Mengijinkan para penonton untuk melihat gambaran bagaimana yang terjadi di balik layar, ketika mereka berlatih, bagaimana mereka berusaha mengatasi ketidakbisaan mereka terhadap suatu part.

Aku lupa bagaimana ceritanya sampai akhirnya semua pemain berhenti memainkan alat musik. Sunyi. Senyap. Hening. Not even a single buzz of the sound system was heard, and we even can hear other’s breathing!!! Buset, ini adalah ruangan dengan akustik paling keren, awesome, sejauh pengalamanku masuk ke dalam ruang pertunjukan!

MC membuka acara dari tempat lain, yang terdengar hanyalah suaranya melalui speaker – yang ternyata berada di depan kami, tepat di depan kami (karena kami duduk di paling depan) berada menempel di panggung. Kemudian sang dirijen masuk. Tepuk tangan riuh menyambut dirinya. Naik ke podium, dan langsung mengangkat baton, mengondak. Tiba-tiba musik yang sangat dikenal terdengar.

Itulah theme song dari film “Superman” yang dibuat pada tahun 1978. Komposisi buatan Williams yang satu ini sangat familiar di telingaku. Ya, dan seketika itu juga aku terkesima. Kau tahu? Suaranya... suaranya, bagaikan sedang mendengar lagu melalui speaker dengan kualitas terbaik! Mereka tidak menggunakan sound system apa pun untuk mendukung volume suara yang mereka hasilkan – semua murni hasil permainan mereka. Sungguh. Not even a small mistake was there.

Kemudian Richard Kaufman – konduktor tersebut – membuka acara dan berkisah sedikit mengenai konser malam ini. Dilanjutkan dengan theme song “Jurassic Park”. Yang satu ini pernah kami bawakan ketika Wind Concert bulan Agustus tahun lalu. Dan... oh, aku ter... terpesona dengan permainan yang mereka bawakan. Ini... ini sempurna! Aku kemudian belajar dan membandingkan antara yang mereka bawakan dengan yang kami bawakan dulu. Yah beda lah ya, dulu kan cuma dimainkan dengan alat musik tiup... ini lengkap.

“Sayuri’s Theme” dari “Memoirs of Geisha” membuai para penonton. Apalagi Yogi. Hahaha. Pemain flute yang berdarah Jepang menjadi bintang di komposisi ini. Suara khas seruling dapat dimainkan dengan baik oleh Yukako Yamamoto – flautist tersebut. Suasana Jepang terasa sekali, Jepang kuno, Jepang di masa lalu.

Richard kembali berkisah mengenai komposisi yang akan dibawakan selanjutnya. Theme song dari “Close Encounters of The Third Kind”, jujur aku belum pernah mendengarnya, tahu filmnya saja tidak. Jadi aku menanti dan... Yah, memang cukup kontemporer konsepnya. Sedikit distorsi di awal memberi kesan modern. Namun pada bagian tengah dan akhir bagus.

Selanjutnya adalah salah satu komposisi dalam film “Yes, Giorgio” yang berjudul “If We Were in Love”. Film ini dibintangi oleh almarhum penyanyi tenor ternama di dunia, Luciano Pavarotti. Sungguh, aku belum pernah tahu apa pun tentang ini. Tapi akhirnya aku dan mbak Kris sepakat menobatkan yang satu ini sebagai salah satu komposisi favorit kami! Romantis dan mendayu.

Sesi satu ini diakhiri dengan theme song dari “Star Wars” yang telah akrab di telinga kami. Komposisi tersebut mengalun dengan gagah, mengantarkan para penonton menuju ke gerbang akhir dari sesi pertama.

Minggu, 20 Maret 2011

Intermezzo Sebelum Mengalami Kekaguman Tingkat Lanjut

Sesampainya di stasiun, kami membeli tiket ke arah Bukit Nanas seharga RM1,20. Kami akan switch dari sana menuju ke stasiun LRT Dang Wangi, berjalan kaki ke sana. Lumayan juga, jaraknya mungkin seperti dari halte busway Semanggi ke seberangnya. Hehehe. Dan, wow, ketika sampai di depan stasiun LRT, nampak di kejauhan adalah KL Tower dan Gedung Petronas. Beberapa orang tampak mengabadikan gambar tersebut ketika gedung dan menara sedang dihujani lampu. Kemudian kami membeli tiket ke arah KLCC seharga RM1,30.

Platform LRT ini terletak di bawah tanah. Mungkin bisa dibilang subway. Suasananya nyaman sekali. Tidak terlalu ramai. Dan kamu tahu kesanku ketika memasuki LRT? Kayak kereta ekonomi AC. Cuma lebih unggul di space aja. Lebih lebar.

Sampai di stasiun KLCC, kami berjalan dengan agak terburu-buru. Mana pakai insiden tiket Yogi hilang, lagi. Jadi memperlambat laju kami menuju ke atas. Padahal waktu sudah mepet. Setelah urusan itu selesai, kami naik eskalator ke atas. Dipikir-pikir… wow, stasiun berada di bawah pertokoan! Dan baru menyadari, bahwa ini adalah bagian dari Petronas Building juga. Jadi semua ini sebenarnya sudah di dalam Petronas. Aaa… Jadi, beberapa memutuskan untuk membeli roti atau minum dulu karena takut lapar di dalam concert hall.

Kami naik lagi untuk mencapai lokasi. Hmm… Kami disambut oleh pajangan mobil balap Formula 1 yang dipajang di tengah-tengah. Hall-nya sendiri berada di atas lagi, naik tangga gitu. Terlihat papan-papan yang memajang poster besar tentang konser tersebut. Kami bagi-bagi tiket dulu di bawah… kemudian naik ke atas, ke depan concert hall.

Di depan concert hall, ada dua konter yang menjual program book seharga RM7. Kupikir, ah, kapan lagi bisa punya program book orkestra luar kan, lagian bisa juga dijadikan referensi buat bikin buku acara konser Mahawaditra berikutnya. Antrian cukup panjang terbentuk di depan konter tersebut. Ya, hampir semua ingin memiliki buku tersebut, walau tipis hanya sekitar 8 halaman. Namun isinya padat dan sarat informasi mengenai repertoire-repertoire yang akan ditampilkan pada konser malam ini.

Buat yang pakai kemeja, rupanya nggak boleh kalau nggak pakai jas. Alasannya karena takut di dalam kedinginan, kata panitia. Jadi di bawah ada penyewaan jas gitu. Yang pinjam jas ada tiga, Yogi, Yoga, dan Kak Bram. Karena postur mereka kecil, jadi jasnya terlihat sangat kegedean. Hahaha. Oke deh, saatnya masuk ke dalam, dan bersiap rasakan sensasinya!

Halo, Malaysia!

Kesan pertama yang timbul ketika menginjakkan kaki di tanah Malaysia: gerah! Rupanya udara di sini sedang tak jauh beda dengan di Indonesia, panas. Sinar matahari bersinar dengan cukup kuat.


Kami berjalan menuju ke dalam airport. Rintangan pertama yang kami lewati adalah, tentu saja, konter imigrasi. Pengecekan paspor dan kartu kedatangan dilakukan. Kemudian kami keluar. Melihat bagian luar bandara ini, aku berpikir, wah, ini sih kayaknya, kayaknya, masih mending bandara Soekarno-Hatta deh. Ya iyalah ya, mungkin karena ini bandara yang diperuntukkan untuk penerbangan murah, jadi kondisinya seperti ini.

Kemudian kami mencari halte Skybus yang akan membawa kami menuju KL Central. Beberapa orang sudah merasa lapar, jadi berpikir sekalian saja makannya nanti di KL Central. Akhirnya Skybus berangkat.

di dalam Skybus
Sepanjang perjalanan menuju KL Central dari bandara, satu yang kupikirkan: jauh juga ya, jalan antara bandara dan kotanya. Gersang, lagi. Terlihat sepertinya kawasan bandara tersebut sedang dalam pembangunan. Di luar udara terlihat panas sekali.

Singkat cerita (disingkat aja deh, saking lamanya perjalanan ke KL Central), kami sampai di KL Central. Dengan agak cengo, terlintaslah di benak: wew, ini sih berasa di terminal Kampung Rambutan! *lebay*
Kami naik ke atas, ke area gedung. Akhirnya memutuskan untuk makan dulu. Salah satu dari kami mengabari grup lainnya yang sudah tiba lebih dulu bahwa kami akan makan dulu di lantai 3. Kemudian ia juga menghubungi seorang alumni yang telah berbaik hati membantu mengurus keperluan kami di sini mulai dari pembelian tiket konser sampai menjadi tourguide dadakan.

Food Court di KL Central itu sama kok seperti food court yang ada di Indonesia. Kamu bebas memilih untuk makan apa pun. Konter minuman tersedia terpisah. Harga minuman untuk jus sama, yaitu RM 2,6. Aku memilih untuk makan Tou Fu, yaitu makanan mirip shabu-shabu (rebusan) karena sepertinya sudah familiar saja, daripada makan yang semacam nasi rames atau yang lainnya.

inilah amplop tiket nyaaaa
Kemudian yang nampak pertama adalah Mas Verdo. Yak, ialah sang alumni itu. Ia menetap di Malaysia. Mas Verdo menyerahkan sebuah amplop berisi 15 tiket konser pada kami. Langsung deh, foto-foto sama tiketnya…

Setelah itu datanglah rombongan yang terlebih dulu datang ke sini, dengan penerbangan pukul 6.25 pagi menggunakan maskapai yang sama dengan kami. Kak Bram, Kak Ariana, dan Kak Kirana. Mereka kemudian akhirnya ikut memesan minum.

Kami mengobrol dulu di sana, sekedar awal dari perkenalan dengan Mas Verdo yang sampai saat sebelum sampai di KL Central ini hanya dikenal lewat akun Facebook saja.

Setelah ini, kami berjalan keluar. Turun ke tempat kami tadi pertama sampai dengan Skybus, lalu terus ke arah luar, ke arah jalanan. Katanya mau naik monorail. Ketika hampir mencapai jalanan, tiba-tiba Kak Ariana nyeletuk, “Cie Anda, akhirnya first time abroad yaaa…” Lalu Kak Bram juga menimpali. Hehehe, makasih yaaa… Tak apalah first time nya ke Malaysia, tetap abroad juga kan namanya :D

di platform salah satu stesen monorail
Kami menyeberang, lalu terus jalan lagi sekitar… 200 meter sampai ke stasiun monorail. Suasananya seperti di stasiun kereta. Tapi karena monorail, jadi relnya di atas, maka setelah kami membeli tiket seharga RM2,10 menuju Bukit Bintang, kami melewati pintu tiket dan naik ke platform untuk menunggu kedatangan monorail, sarana transportasi yang hampir terwujud di Indonesia.

Ketika pertama kali masuk ke dalam monorail, ada perasaan kagum padaku. Wah, ternyata space-nya cukup luas dan cukup tinggi! Nyaman sekali, di dalamnya. Pengaturan tempat duduk pun bagus jadi cukup efisien untuk mengangkut orang dengan jumlah cukup banyak. Relnya sendiri diberi tembok tepian, jadi cukup memberikan rasa aman ketika kau melihat relnya. Tapi ada sedikit pikiranku yang bilang, “Kayak naik monorail di TMII.” Hahaha, jauuuuh! Dan tentu saja, hal yang wajib dilakukan ketika pertama kali berkenalan dengan sesuatu: foto!

Sesampainya di Bukit Bintang, kami langsung berjalan keluar stasiun. Dan… wah, sesuai dengan bayanganku selama ini, kalau di luar negeri, pasti ada satu area yang macam ini: street corner yang luas dan banyak bangunan tinggi dengan sebuah layar yang menempel di sebuah gedung yang menampilkan iklan-iklan, dan papan-papan reklame di mana-mana. Bangunan pertama yang terlihat ketika keluar dari stasiun adalah McDonald dan A&W. Sebelah-sebelahan itu. Ckckck.

Kami menyusuri plaza menuju tempat menginap. Kemudian mendapati bahwa ada 7/11 di dekat hotel, jadi kalau ada apa-apa gampang nyarinya… (Kenapa juga reference-nya harus 7/11?) Sampai di hotel kami, Malaysia Hotel. Sementara menunggu check-in, beberapa yang menunggu memutuskan untuk berfoto ria di lobi. Yah… begitulah. Sampai akhirnya menggunakan self-timer agar semua bisa ikut terfoto.

Kami membagi kamar. Kamar 533, diisi oleh cowok-cowok: Yogi, Yoga, Kak Bram, dan Mas Bowo. Kamar 534, diisi oleh cewek-cewek: Tamy, Andi, Innes, dan Mbak Kris. Lalu yang terasing… hiks, aku nggak ngerti kenapa bisa dapet yang beda sendiri, kamar 540 diisi cewek-cewek juga: aku, Kak Ariana, dan Kak Kirana. Tadinya kan rencananya berempat sekamar, dan sudah direncanakan nanti Tami Justisia bakalan ngikut ke kamar 540. Tapi ternyata Tami tidak ikut nginap di sini, karena ia di rumah saudaranya, jadi 540 hanya dihuni oleh 3 orang saja! Pas! Merdeka! Hahaha. Tapi tetap saja aku tidur di bawah menggunakan extra bed (extra bed? Bagiku lebih terlihat seperti kasur Lampung) karena… aku kurang pe-we aja kalau tidur berdua di atas double bed, takut nanti kalau tidur nendang-nendang orang. Hihihi.
ini kamar 540

Setelah menaruh barang bawaan, kami berkumpul di kamar 534 untuk mengundi tiket konser. Karena nomernya berjauhan dan super ngacak, jadi diputuskan dengan ‘Lucky Draw’. Hahaha. Walaupun pada prakteknya akhirnya semua memilih dengan sesuka hati, sesuai dengan posisi instrumen masing-masing. Suasana kamar itu riuh, beberapa ada yang berdiri, duduk, atau tiduran di kasur. Udah kayak saudara sepupuan aja tuh semua, udah nggak ada malunya. Tapi kan ketika kamu menjadi seorang Mahawaditran (red: anggota Mahawaditra), kamu akan tergabung dalam satu keluarga besar Mahawaditra. Ke-lu-ar-ga. Betul?

Dan selanjutnya yang kami semua lakukan di kamar 534 itu adalah: menggosip! Kerjaan wajib Mahawaditrans. Hahaha. Banyak sekali yang kami gosipkan (yaaa nggak pake ‘sekali’ juga bisa sih, lebay aja ini nulisnya), dan akhirnya terfokus pada satu topik. Hiehiehiehie *ketawa aneh*!

Setelah kehabisan bahan gosip, pada memutuskan untuk berbelanja camilan ke 7/11. Maunya sih… tapi ternyata di sebelahnya, tepat di sebelah 7/11 ada sebuah minimart juga bernama KK. Akhirnya kami belok ke situ karena letaknya duluan. Hahaha. Yang bikin aku kaget adalah penemuan es krim dari produsen yang selama ini aku cuma tahu produk coklatnya: MARS dan SNICKERS!!! Waaa.

Akhirnya setelah membeli jajanan masing-masing, kami kembali ke kamar untuk makan itu jajanan. Aku membeli sebotol air mineral berisi 1,5L karena khawatir kekurangan minum di kamar. Yaa di kamar ada sih air minum di teko, tapi kan nggak tahu itu bikinnya dari air apa. Aku ngikut dulu ke kamar 534. Di dalam, aku ikut menonton TV. Yang tertangkap hanya 2-3 channel TV, dan yang bagus gambarnya cuma 1 channel: TV1 (baca: TV satu, bukan TV O*e). Dan, aku lupa di channel apa, tiba-tiba nemu channel yang menayangkan kartun, dan itu Shinchan. Alamak, ampun deh ampun dengernya… Suara Shinchannya lebih dewasa dari yang didub sama Ony Syahrial!!! Gak deh gak deh gak deh…

Ketika itu hujan turun. Jadi kami nggak bisa jalan-jalan ke luar. Siapa juga yang mau jalan-jalan, pada tiduran dulu lah di kamar. Sudah khawatir aja kalau hujannya terus sampai malam nanti. Tapi ternyata untungnya tidak, ketika kami mau berangkat hujan sudah berhenti.

Para penghuni kamar 540 bergantian mandi dan siap-siap. Pertama Kak Kirana, lalu Kak Ariana. Aku terakhir. Bhaaahhh dingin sekali, untung ada water heater-nya. Jadi bisa mandi air hangat. Oh ya, ngomong-ngomong soal kamar, pertamanya kami, 540, mengeluh karena diantara 3 kamar yang didapat itu hanya 540 yang kondisinya nggak sebagus dua kamar lainnya. Tapi akhirnya kami menyadari bahwa kami beruntung mendapat kamar itu. Paling luas, nggak ada bath tub yang nyempit-nyempitin kamar mandi, dan yang terpenting: kami dapat sinyal wi-fi di kamar itu, sedangkan di dua kamar lainnya nggak. How internet connection can affect your life. Aku dan Kak Ariana langsung gembira dan langsung online pakai wi-fi tersebut.

kurang kak Ariana, Tamjus, dan sepupunya Tamjus
Kami berganti pakaian menjadi dresscode penonton konser. Batik atau formal suit. Semuanya jadi cantik dan cakep. Jarang-jarang kan ngeliat para pemain Mahawaditra tampil rapi gini kalau nggak konser. Hihihi. Kami berangkat, menuju stasiun monorail!