Sabtu, 01 Agustus 2015

Waroeng Mee, Semacam Tempat Nongkrong

Dari semboyannya saja, sudah ketahuan bahwa tempat ini untuk nongkrong. Mulai dari sajian, dekorasi, peralatan makan, semuanya khas tempat nongkrong kekinian.

Waroeng Mee
Lokasi: Jalan Blora, dekat Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat
Waktu Buka: (belum tanya, nanti diupdate)
Sajian: Makanan berat dan kudapan Indonesia
Harga: Rp5.000,00 - Rp60.000,00

Waroeng Mee ini lokasinya sangat menguntungkan, dilalui oleh banyak karyawan ketika pergi dan pulang kerja. Dekorasinya dari luar tampak menarik perhatian, sehingga banyak yang mampir untuk menjajal menunya.

Okiniiri Restaurant [SUDAH TUTUP]



Sebagai pecinta kuliner Jepang, saya tertarik untuk mencoba makan di Okiniiri Restaurant saat ada pengumuman bahwa tempat makan tersebut akan buka di lantai basement gedung kantor saya. Dan akhirnya setelah buka, saya kesampaian untuk makan di sana.

Okiniiri Restaurant
Lokasi: The City Tower lantai B1, Jakarta Pusat
Waktu Buka: Senin-Jumat 7.00-19.00, Sabtu 08.00-15.00
Jenis Masakan: Jepang
Harga: Rp12.000,00 - Rp35.000,00

Kamis, 02 Juli 2015

Review Alcatel Onetouch Flash Plus

Sebagai salah satu perangkat yang paling ditunggu dan selalu sold out dalam satu jam pertama penjualannya di Lazada, ponsel yang satu ini layak dibuat ulasannya oleh saya yang belum pernah membuat artikel khusus yang mengulas perangkat seperti ini. Metode penjualannya adalah Flash Sale, sebuah cara penjualan yang pertama kali diterapkan oleh Xiaomi beberapa waktu lalu, di mana sang calon pembeli harus melakukan pendaftaran terlebih dulu di sebuah website tertentu untuk memperoleh pengingat ketika penjualan akan dimulai (dan kemungkinan untuk mendapatkan voucher cashback).

Di Indonesia, basisnya sudah cukup besar, dan service center-nya pun sudah terdapat di beberapa kota besar.

Langsung saja ulasan Alcatel Onetouch Flash Plus (AOFP) saya mulai per kategori:

sumber: Alcatel Onetouch Indonesia
Di dalam kotak: 1x ponsel Alcatel Onetouch Flash Plus, 1x kepala charger, 1x kabel micro-USB, 1x kartu garansi, 1x earphone, 1x pouch Flash Plus (bisa digunakan untuk mengemas charger dan earphone-nya)

Dimensi: 152.3 x 76.4 x 7.95 mm
Berat: 147g
Warna: Gold dan Slate
Harga: Rp1.899.000 (Baru), Rp - (Bekas)

Harga di bawah 2 juta dengan kemampuan gahar? Bagaimana mungkin ponsel ini tidak menjadi primadona di kelasnya. Dengan harga serupa, dari merk-merk terkenal lainnya, spesifikasi yang diperoleh mungkin belum sekuat AOFP. Dengan dua pilihan warna yang elegan yaitu Gold (emas) dan Slate (biru tua), bagian belakang bodi ponsel ini menggunakan bahan plastik. Mungkin terasa licin, tetapi saat ini sudah banyak beredar aksesoris yang membantu memperbaiki pengalaman menggenggam AOFP. Mulai dari jellycase, flipcase, hingga tempered glass untuk AOFP semua sudah tersedia di berbagai toko online.

DESAIN
Layar: 5.5” HD, 1280 x 720 pixels, IPS 16M color display, capacitive 5 points touch with gesture
Proximity Sensor: Yes
Sensor Cahaya: Yes

Ukuran layarnya mungkin sedikit terlalu besar bagi yang menyukai hal ringkas, tapi cukup memuaskan untuk yang kurang suka untuk menyipitkan mata saat melihat apa yang ada di layar. Ponsel ini bisa dikategorikan sebagai phablet karena ukurannya. Kerapatan layar sebesar 267ppi membuat gambar yang ditampilkannya terlihat tajam dan jernih, sangat memanjakan mata ketika menonton film maupun bermain game.

KAMERA
Kamera Utama: 13 MP AF, geo-tagging, HDR, panorama, night mode, sport mode, smile detection, burst mode, timer, Video stabilization (EIS), QR code scanner
Autofokus: Ya
Digital Zoom: Ya
Kamera Depan: 8 MP FF
LED Flash: Ya
Pemutar Video: 1080@30fps
Pengambilan Gambar Video: 1080@30fps
Video Codec: H.264, H.263, MPEG-4, XVID, VP8, VC1, MKV
Video Streaming: Ya

Sebagai ponsel yang menggadangkan kemampuan selfie, harus diakui kamera depan dengan kemampuan sebesar 8MP dapat menangkap foto selfie dengan kualitas mulus dengan pencahayaan cukup. Untuk di tempat yang pencahayaannya kurang, kualitas fotonya mungkin tidak beda dengan kamera ponsel lainnya, tapi tanpa cahaya, memang mau jadi apa? AOFP tidak memiliki fitur flashlight di depan, sehingga kita harus pintar-pintar mencari sudut yang tepat agar bisa menangkap cahaya yang cukup ketika selfie.

Fitur self-timer hanya tersedia ketika dalam mode kamera depan, tidak dengan kamera belakang. Pun tidak ada pilihan yang tersedia, karena self-timer tersebut sudah paten di jangka 3 detik. Setelan lainnya ada face beauty yang akan memperhalus wajah yang terdeteksi oleh kamera.

Kamera utama dengan kemampuan sebesar 13MP? Apa lagi yang diragukan? Hasil gambar yang tajam, jika ditambah dengan fitur HDR, memuaskan. Anda juga dapat memotret dengan efek bokeh dengan mengatur fokus objek yang akan difoto. Jarak terdekat yang memungkinkan fokus pada suatu objek dengan latar buram sekitar 7-8 sentimeter. Semisal saya memotret earphone yang diikat dengan cord holder Hello Kitty di bawah ini.

Indoor, di meja kerja saya
Sementara untuk hasil foto outdoor di malam hari, saya mencoba memotret di Stasiun Sudirman.

Stasiun Sudirman, peron 1 sebagai objeknya
Dengan penerangan dari lampu neon stasiun dan lampu jalan berwarna kuning, cahaya yang ditangkap cukup mumpuni untuk menghasilkan foto yang terang. Oh ya, untuk kamera utama ini, Anda juga dapat mengatur fokus dan colour netral picker seperti halnya iPhone untuk mendapatkan penerangan yang sesuai.

Untuk pengambilan gambar outdoor di pagi hari, di bawah ini adalah beberapa hasil di daerah Thamrin-Sudirman.

Pukul 7 pagi. Saya suka dengan warna yang ditangkap oleh AOFP
Stasiun Sudirman, pukul 2 siang
Pengaturan kamera utama lainnya adalah filter dan Fix Me, di mana pada fitur Fix Me ini Anda dapat melakukan pengaturan pada exposure, brightness, contrast, white balance, dan ISO.

Sayangnya, kamera utama AOFP bentuknya menonjol sehingga rentan tergores bila AOFP tidak dilindungi casing.

Tip: dari lockscreen, jika Anda geser layarnya ke kiri atau kanan, Anda akan langsung masuk ke mode kamera.


FITUR
OS: Android 4.4 KitKat
Jaringan: GSM Quadband 900/1800/1900, UMTS 900/2100, FDD-LTE: B1/3 TDD-LTE: B38/39/40/41 (7054T)
CPU: Octa Core 1.5 GHz CPU
4G LTE: 4G LTE category 4, 150Mbps Downlink, 50Mbps Uplink
HSPA: DC HSPA+ 42 Mbps Downlink, 5.76 Mbps Uplink
Wi-Fi: Wi-Fi 802.11 b/g/n, Wi-Fi direct, Wi-Fi- Display, Wi-Fi Hotspot
Bluetooth: 4.0
Micro USB: 2.0
A-GPS: GPS with A-GPS
G-sensor: Ya
Internal Memory: 16 GB ROM
RAM: 2GB RAM
Micro SD Card: hingga 32 GB
Memori Efektif: 12 GB
Lainnya: USB Modem Tethering: Plug & Play, Micro SIM (Hot swap), EAP SIM, One finger zoom, Multi-Tap wake up, Mini Apps, Download Booster

Android Kitkat bukan masalah besar bagi saya. Namun semoga Alcatel mendapat upgrade ke Lollipop dalam waktu dekat untuk mengefisiensikan penggunaan daya. Dengan kemampuan terkoneksi ke jaringan 4G, berselancar di dunia maya bukan lagi masalah. Namun perlu diketahui, jaringan 4G yang didukung oleh AOFP adalah yang berada di band 1800, yaitu misalnya provider XL yang memang menjadi bundling dari pembelian ponsel ini. Untuk Telkomsel, 4G berada di band 900 sehingga tidak bisa digunakan di AOFP, sayangnya.

RAM 2 Gb memberi ruang yang leluasa untuk multitasking. Sedang bermain game, lalu ingin buka Facebook, atau ingin update Instagram, atau buka email? Tidak masalah, dengan lancar AOFP akan menemani Anda untuk melakukan semuanya. Memori internal sebesar 16Gb rasanya sudah cukup untuk menampung data, tetapi ketika Anda memerlukan yang lebih, microSD hingga ukuran 32Gb dapat dipasang untuk menunjang kebutuhan penyimpanan data. Prosesor Octacore membuat aplikasi dengan grafis berat dapat berjalan mulus. Terutama jika bermain game yang mengutamakan sinkronisasi suara dan gerakan, tidak ada lag ketika sedang bermain.

GPS yang disematkan di perangkat ini akurat sekali. Sangat membantu ketika kesasar dan butuh petunjuk jalan, AOFP dapat mendeteksi lokasi kita dan memberikan jalan terbaik. Tentunya dengan koneksi internet yang cukup, ya.

Fitur lain yang saya suka adalah Multi-Tap Wake Up, di mana ketika kondisi layar mati kita dapat 'membangunkan' AOFP dengan cara tap sebanyak 2 kali di layarnya. Cara ini saya sukai karena mengurangi intensitas power button ditekan berkali-kali.

KUALITAS SUARA
Pemutar Musik: MP3, MIDI, FLAC, Vorbis, AAC, AAC+, AMR, PCM, M4A, OGG, OGG+, Apple lossless
FM Radio RDS: Ya
HAC: M3
OMA: DRM 1.0
Handsfree: Ya
Flight Mode: Ya
Mode Getar: Ya
Flip to Mute: Ya

Tidak banyak komentar saya dari segi suara, karena kualitas suara yang dihasilkan AOFP cukup bagus untuk ponsel di kelasnya. Rekaman suara dalam mode High sangat jernih. Fitur FM Radio pun bisa menghibur di kala ingin mendengar siaran radio, sebuah fitur yang jarang ada di ponsel-ponsel high-end.

BATERAI
Baterai: Lithium 3500mAh (tidak dapat dilepas)
Waktu Bicara: hingga 12 jam
Waktu Siaga: hingga 650 jam
Waktu Charging: hingga 4 jam
Sebagai Pemutar Musik: hingga 75 jam (headset) / 60 jam (loudspeaker)

Inilah salah satu bagian yang menjadi pertimbangan saya: kapasitas baterai. Daya sebesar 3500mAh sangat menunjang kebutuhan bagi para pengguna ponsel yang intens. Meski begitu, perlu diingat baik-baik bahwa daya tahan baterai bergantung pada banyak faktor. Misalnya, sinyal jaringan. Jika kita browsing di tempat yang sinyalnya kurang bagus, itu akan mempengaruhi konsumsi baterai ponsel karena ponsel akan bekerja keras untuk mencari jaringan yang cukup. Pun ketika banyak aplikasi yang berjalan di background, hal ini juga mempengaruhi daya tahan baterai. Lebih baik matikan aplikasi yang jarang atau tidak digunakan sama sekali, mungkin uninstall saja sekalian.


Nah, sekian dulu review dari saya, jika ada tambahan akan saya update nanti. Jika ada yang ingin kalian tahu tapi belum tercantum di sini, silakan tinggalkan komentar, akan saya tambahkan bahasannya.

Overall, Alcatel Onetouch Flash Plus adalah ponsel yang bisa menjawab semua kebutuhan masyarakat kekinian ;)


Salam,
Anda

Selasa, 23 Juni 2015

Nyaris Seperempat Abad

Zaman sudah modern, semakin maju teknologi, semakin berkembang pula pikiran manusianya. Terutama pada golongan usia produktif pertama, yang saya golongkan dengan seenaknya pada usia 18-30 tahun. Penggolongan ini bukan berdasarkan teori, tapi pengamatan dan pendapat saya terhadap interpretasi dari 'sukses di usia muda'.

Minggu, 12 April 2015

Delapan Hari

menuju tahap kehidupan berikutnya.

Terakhir saya membuat post mengenai April di sini, tiga tahun lalu.

April tahun lalu, saya sudah mulai sibuk dengan aktivitas sebagai karyawan swasta. April dua tahun lalu, saya masih galau semester 7. April tiga tahun lalu, masih senang berorganisasi. Tiga tahun dalam tiga kalimat itu, terasa cepat berlalu. Rasanya baru kemarin saya ikut bermain dalam konser orkestra kampus terakhir saya. Rasanya baru kemarin saya dan teman-teman kuliah saya sibuk menyiapkan rangkaian seminar sebagai tugas semester 7.

Sekarang?

Usia memang tak lagi tergolong sebagai usia 'disuapin', tetapi sudah masuk ke dalam golongan '(seharusnya) (bisa lebih) mandiri'. Sudah tahu penghasilan pribadi, sudah tahu upaya-upaya yang tak mudah untuk memperolehnya, sudah tahu mengaturnya agar tak melulu mengeluhkan mitos 'tanggal tua'.

Delapan hari lagi, terhitung tanggal hari ini. Kalau besok, tujuh hari lagi. Lusa, enam hari lagi. Kenapa juga saya hitung-hitung? Minggu-minggu mendekati harinya, saya selalu merasa ingin menikmati hari-hari terakhir usia saya sebelum berubah. Padahal aktivitas akan selalu berjalan, waktu terus berlalu, tanpa ada makhluk Tuhan yang dapat mengelak dari mereka. Entahlah, mungkin saya hanya sedang menjadi melankolis (arti melankolis yang hakiki saja saya belum tentu paham).

24.

Dua puluh empat tahun sudah saya jalani, dan saya menanti tahun-tahun berikutnya yang akan lebih mewarnai sisa usia saya.


Depok, 12 April 2015.

Minggu, 05 April 2015

Poso yang Indah, jika...

Damai selalu menyertai.


Sebelumnya tak pernah saya pikir akan bisa menjejak berbagai bagian tanah Indonesia ketika mulai bekerja sebagai asisten CSR. Pikir saya, adalah, kegiatan saya akan terfokus di ibukota. Berkomunikasi dengan masyarakat, melayani sesama tidak sampai keluar Pulau Jawa.

Tapi, bahkan pada minggu pertama saya mulai bekerja, saya sudah dibawa ke pedalaman Sumatera Selatan, yaitu Kabupaten Musi Banyuasin selama 9 hari. Sembilan hari, bagi saya yang kala itu masih berstatus fresh-grad, adalah angka yang fantastis untuk perjalanan dinas. Selepas perjalanan dinas perdana itu, tujuan (dalam arti tempat tujuan dan tujuan kegiatan, haha) dinas saya beragam. Pangalengan (Jawa Barat), Anjongan (Kalimantan Barat), Pelalawan & Rokan Hilir (Riau), dan yang terbaru minggu lalu, Poso (Sulawesi Tengah).

Ketika mendengar nama daerah 'Poso', pasti yang langsung terlintas di benak adalah 'waduh, bahaya,' atau, 'astaga, aman nggak, ya?'. Memang, sejak tahun 2011, kondisi di Kabupaten Poso relatif labil. Bisa jadi pecah perang antarsuku, bisa jadi ada perseteruan yang melibatkan nyawa yang tak sedikit. Namun anehnya, masyarakat Poso sendiri seringkali ketinggalan berita kalau ada kerusuhan di daerahnya, malah masyarakat luar yang lebih tahu. Mereka malah tahunya dari teman mereka yang di luar.

Saya harap Poso dapat segera damai kembali dengan bantuan TNI & Polri, bekerja sama dengan masyarakat. Karena Poso indah. Poso cantik. Poso berpotensi tinggi, sebagai penghasil sumber laut maupun tujuan wisata. Karena Poso.... bagian dari Indonesia, yang seharusnya memang tetap bersatu dalam perbedaan yang tak terhingga banyaknya.

Oke, setelah pembukaan yang superpanjang (hehe), saya mau cerita sedikit mengenai pengalaman saya dinas ke Poso pada tanggal 29 Maret - 1 April 2015.

Kostrad sedang memiliki 'hajatan' di Poso. Salah satu kegiatan bakti sosial yang mereka adakan adalah berupa operasi katarak gratis bagi masyarakat Poso dan sekitarnya. Operator katarak yang ditunjuk (tentu saja, karena ini kegiatan yang diadakan oleh bagian dari TNI AD) adalah tim dari RSPAD Gatot Soebroto. Sebagai donatur, perusahaan saya tentunya mengirimkan perwakilan, yaitu saya dan salah satu rekan saya (kebetulan kami pun sudah cukup akrab dengan tim RSPAD yang ditunjuk tersebut). Lucunya, pada dinas kali ini, hanya saya dan rekan saya yang perempuan. Tim RSPAD justru menunjuk tenaga laki-laki untuk pergi.

Perjalanan dari Kota Palu ke Kabupaten Poso kami tempuh menggunakan mobil sewaan. Karena kami tiba pada sore hari, jadinya perjalanan itu berlanjut hingga tengah malam. Sempat salah satu supir mengantuk, sehingga perjalanan kami harus berhenti beberapa kali untuk beristirahat. Kami tiba di penginapan tepat pukul 12 malam waktu setempat.

Esoknya, kami menuju ke RSUD Poso untuk berkenalan dengan pihak RS. Kami menggunakan fasilitas RS untuk kegiatan operasi katarak. Saya pikir operasi akan dilakukan besok karena hari ini hanya akan set-up dan screening saja, tak tahunya... Para dokter langsung 'tancap gas'. Luar biasa. Memang kami telah berdiskusi akan berapa lama berada di sini dan kapan pulang ke Jakarta. Tapi baru sampai langsung 'lanjutgan' itu... sesuatu. (brb ketawa mengingatnya)

Sampai kami pulang pada hari Rabu, saya tak henti-hentinya berucap 'wow' tiap kali melihat pemandangan yang luar biasa indah. Kecantikan alam yang tak tersentuh teknologi, sangat asli dan apa adanya. Terutama lautnya, karena kota ini terletak di tepi pulau Sulawesi. Saya merasa kecil melihat luasnya laut milik Allah. Sempat membayangkan andai saya seorang korban pesawat jatuh di lautan, pasti akan mustahil untuk menyelamatkan diri jika tak ada bantuan dari udara atau kapal besar yang melintas.

Bandar Udara Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Sulawesi Tengah

Kak Reni, dengan latar spanduk ulang tahun RSUD Poso yang ke-87

Salah satu tahapan untuk dapat dioperasi, pasien diperiksa kadar gula darahnya

Kelihatan? Itu kumpulan ikan kecil!

Melihat bakau sedekat ini, hal yang baru bagi saya :)

Bagaimana saya tidak tergila-gila dengan alam Poso?

Menyempatkan diri untuk berfoto bersama laut Poso

Sempat merasakan air laut poso, sebenarnya saya juga ingin, tapi pakai sepatu...

Laut Poso dari jendela pesawat

Suasana area pengambilan bagasi di Bandara Mutiara

Bahkan di depan Bandara, pemandangannya cantik!

Otak-otak ikan Tengiri yang sangat lembut dan enak :9

Dalam perjalanan menuju Poso--laut, laut!

Ikan dimasak Woku (dalam mangkuk dan berkuah). Asam-gurih, nikmat...

Pemandangan dari lantai dua penginapan kami di Poso. Laut lagi <3 td="">

Berbarengan dengan giat latihan gabungan TNI, makanya ramai

Dalam perjalanan kembali ke Palu

Laut, laut, laut :)

Makan siang terakhir di Palu

Kue Tetu, kue tradisional dari tepung beras yang lembut dan manis
karena gula merah cair di dasarnya


Baiklah, karena sudah banyak foto-fotonya lagi, saya mau pamit :P Terima kasih Poso.


Depok, 5 April 2014

Laut lagi, tapi kali ini lautan awan di waktu sore ketika melintasi langit Sulawesi :)