Minggu, 12 April 2015

Delapan Hari

menuju tahap kehidupan berikutnya.

Terakhir saya membuat post mengenai April di sini, tiga tahun lalu.

April tahun lalu, saya sudah mulai sibuk dengan aktivitas sebagai karyawan swasta. April dua tahun lalu, saya masih galau semester 7. April tiga tahun lalu, masih senang berorganisasi. Tiga tahun dalam tiga kalimat itu, terasa cepat berlalu. Rasanya baru kemarin saya ikut bermain dalam konser orkestra kampus terakhir saya. Rasanya baru kemarin saya dan teman-teman kuliah saya sibuk menyiapkan rangkaian seminar sebagai tugas semester 7.

Sekarang?

Usia memang tak lagi tergolong sebagai usia 'disuapin', tetapi sudah masuk ke dalam golongan '(seharusnya) (bisa lebih) mandiri'. Sudah tahu penghasilan pribadi, sudah tahu upaya-upaya yang tak mudah untuk memperolehnya, sudah tahu mengaturnya agar tak melulu mengeluhkan mitos 'tanggal tua'.

Delapan hari lagi, terhitung tanggal hari ini. Kalau besok, tujuh hari lagi. Lusa, enam hari lagi. Kenapa juga saya hitung-hitung? Minggu-minggu mendekati harinya, saya selalu merasa ingin menikmati hari-hari terakhir usia saya sebelum berubah. Padahal aktivitas akan selalu berjalan, waktu terus berlalu, tanpa ada makhluk Tuhan yang dapat mengelak dari mereka. Entahlah, mungkin saya hanya sedang menjadi melankolis (arti melankolis yang hakiki saja saya belum tentu paham).

24.

Dua puluh empat tahun sudah saya jalani, dan saya menanti tahun-tahun berikutnya yang akan lebih mewarnai sisa usia saya.


Depok, 12 April 2015.

Minggu, 05 April 2015

Poso yang Indah, jika...

Damai selalu menyertai.


Sebelumnya tak pernah saya pikir akan bisa menjejak berbagai bagian tanah Indonesia ketika mulai bekerja sebagai asisten CSR. Pikir saya, adalah, kegiatan saya akan terfokus di ibukota. Berkomunikasi dengan masyarakat, melayani sesama tidak sampai keluar Pulau Jawa.

Tapi, bahkan pada minggu pertama saya mulai bekerja, saya sudah dibawa ke pedalaman Sumatera Selatan, yaitu Kabupaten Musi Banyuasin selama 9 hari. Sembilan hari, bagi saya yang kala itu masih berstatus fresh-grad, adalah angka yang fantastis untuk perjalanan dinas. Selepas perjalanan dinas perdana itu, tujuan (dalam arti tempat tujuan dan tujuan kegiatan, haha) dinas saya beragam. Pangalengan (Jawa Barat), Anjongan (Kalimantan Barat), Pelalawan & Rokan Hilir (Riau), dan yang terbaru minggu lalu, Poso (Sulawesi Tengah).

Ketika mendengar nama daerah 'Poso', pasti yang langsung terlintas di benak adalah 'waduh, bahaya,' atau, 'astaga, aman nggak, ya?'. Memang, sejak tahun 2011, kondisi di Kabupaten Poso relatif labil. Bisa jadi pecah perang antarsuku, bisa jadi ada perseteruan yang melibatkan nyawa yang tak sedikit. Namun anehnya, masyarakat Poso sendiri seringkali ketinggalan berita kalau ada kerusuhan di daerahnya, malah masyarakat luar yang lebih tahu. Mereka malah tahunya dari teman mereka yang di luar.

Saya harap Poso dapat segera damai kembali dengan bantuan TNI & Polri, bekerja sama dengan masyarakat. Karena Poso indah. Poso cantik. Poso berpotensi tinggi, sebagai penghasil sumber laut maupun tujuan wisata. Karena Poso.... bagian dari Indonesia, yang seharusnya memang tetap bersatu dalam perbedaan yang tak terhingga banyaknya.

Oke, setelah pembukaan yang superpanjang (hehe), saya mau cerita sedikit mengenai pengalaman saya dinas ke Poso pada tanggal 29 Maret - 1 April 2015.

Kostrad sedang memiliki 'hajatan' di Poso. Salah satu kegiatan bakti sosial yang mereka adakan adalah berupa operasi katarak gratis bagi masyarakat Poso dan sekitarnya. Operator katarak yang ditunjuk (tentu saja, karena ini kegiatan yang diadakan oleh bagian dari TNI AD) adalah tim dari RSPAD Gatot Soebroto. Sebagai donatur, perusahaan saya tentunya mengirimkan perwakilan, yaitu saya dan salah satu rekan saya (kebetulan kami pun sudah cukup akrab dengan tim RSPAD yang ditunjuk tersebut). Lucunya, pada dinas kali ini, hanya saya dan rekan saya yang perempuan. Tim RSPAD justru menunjuk tenaga laki-laki untuk pergi.

Perjalanan dari Kota Palu ke Kabupaten Poso kami tempuh menggunakan mobil sewaan. Karena kami tiba pada sore hari, jadinya perjalanan itu berlanjut hingga tengah malam. Sempat salah satu supir mengantuk, sehingga perjalanan kami harus berhenti beberapa kali untuk beristirahat. Kami tiba di penginapan tepat pukul 12 malam waktu setempat.

Esoknya, kami menuju ke RSUD Poso untuk berkenalan dengan pihak RS. Kami menggunakan fasilitas RS untuk kegiatan operasi katarak. Saya pikir operasi akan dilakukan besok karena hari ini hanya akan set-up dan screening saja, tak tahunya... Para dokter langsung 'tancap gas'. Luar biasa. Memang kami telah berdiskusi akan berapa lama berada di sini dan kapan pulang ke Jakarta. Tapi baru sampai langsung 'lanjutgan' itu... sesuatu. (brb ketawa mengingatnya)

Sampai kami pulang pada hari Rabu, saya tak henti-hentinya berucap 'wow' tiap kali melihat pemandangan yang luar biasa indah. Kecantikan alam yang tak tersentuh teknologi, sangat asli dan apa adanya. Terutama lautnya, karena kota ini terletak di tepi pulau Sulawesi. Saya merasa kecil melihat luasnya laut milik Allah. Sempat membayangkan andai saya seorang korban pesawat jatuh di lautan, pasti akan mustahil untuk menyelamatkan diri jika tak ada bantuan dari udara atau kapal besar yang melintas.

Bandar Udara Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Sulawesi Tengah

Kak Reni, dengan latar spanduk ulang tahun RSUD Poso yang ke-87

Salah satu tahapan untuk dapat dioperasi, pasien diperiksa kadar gula darahnya

Kelihatan? Itu kumpulan ikan kecil!

Melihat bakau sedekat ini, hal yang baru bagi saya :)

Bagaimana saya tidak tergila-gila dengan alam Poso?

Menyempatkan diri untuk berfoto bersama laut Poso

Sempat merasakan air laut poso, sebenarnya saya juga ingin, tapi pakai sepatu...

Laut Poso dari jendela pesawat

Suasana area pengambilan bagasi di Bandara Mutiara

Bahkan di depan Bandara, pemandangannya cantik!

Otak-otak ikan Tengiri yang sangat lembut dan enak :9

Dalam perjalanan menuju Poso--laut, laut!

Ikan dimasak Woku (dalam mangkuk dan berkuah). Asam-gurih, nikmat...

Pemandangan dari lantai dua penginapan kami di Poso. Laut lagi <3 td="">

Berbarengan dengan giat latihan gabungan TNI, makanya ramai

Dalam perjalanan kembali ke Palu

Laut, laut, laut :)

Makan siang terakhir di Palu

Kue Tetu, kue tradisional dari tepung beras yang lembut dan manis
karena gula merah cair di dasarnya


Baiklah, karena sudah banyak foto-fotonya lagi, saya mau pamit :P Terima kasih Poso.


Depok, 5 April 2014

Laut lagi, tapi kali ini lautan awan di waktu sore ketika melintasi langit Sulawesi :)