Senin, 11 April 2016

Kekosongan yang Memenuhi Benak

Apakah hal ini berlebihan atau tidak, saya tidak tahu pasti, tapi saya masih merasa sedih atas kepergian Pakde saya, kakak lelaki Papa yang ketiga. Empat puluh tiga hari sejak tanggal kabisat itu, ketika saya mendengar sebuah kabar yang membuat tangis saya pecah di ruangan atasan saya saat meminta izin pulang cepat.

Empat puluh tiga hari, tidak selalu saya lalui dengan mengenang Pakde. Tetapi ada kalanya saat saya melihat status media sosial sepupu saya yang merupakan anak dari Pakde, atau saat saya tidak sengaja menemukan foto Pakde ketika sedang membuka-buka folder foto di penyimpanan luar, selalu ada rasa seperti ditekan di bagian nasofaring. Dan sembunyi-sembunyi saya membiarkan tekanan itu melesak hingga pipi saya basah dibuatnya dan beberapa helai tisu menjadi peredamnya.

Siapa kah Pakde bagi saya? Saya sendiri merasa bahwa saya tidak dekat-dekat amat dengan beliau. Tapi mungkin kalian akan berkata, 'Masa, sih?' atau, 'Bohong,' saat melihat saya menangis ketika membicarakan hal mengenai Pakde.

Ketika mendengar kabar duka untuk pertama kali di pagi hari itu, saya menangis. Ketika menyaksikan prosesi pemakaman mulai dari tibanya jasad almarhum Pakde hingga tanah kubur rapi menutup dan ditabur kelopak bunga serta diguyur air mawar, saya tegar, meski ketika tali kafan dibuka saya sudah merasa sesak luar biasa. Ketika pengajian 7 hari Pakde, saya tegar. Ketika pengajian 40 hari Pakde, saya gagal untuk tetap tegar. Saya menangis di kursi di teras, di depan saya ada sebaris bangku yang diduduki oleh keluarga, termasuk Papa di sana. Saya tak peduli, saya rindu Pakde.

Rindu apanya?

Rindu keberadaannya, mungkin. Rindu komentarnya, mungkin. Rindu tawanya, mungkin.

Kemungkinan-kemungkinan itu karena saya tidak tahu pasti. Kenapa rasanya tidak terlalu dekat, tetapi ketika berpisah merasa sakit?

Mungkin waktu akan mengurangi frekuensi kesedihan ini, mungkin juga tidak. Bisa jadi ketika menemukan foto lama yang ada Pakde di dalamnya, paru-paru ini mendadak seperti disumbat.

Ini kali pertama, sepanjang ingatan saya, saya merasakan kesedihan yang mendalam karena kehilangan sanak. Itulah yang membuat saya bertanya-tanya, sedekat apa saya dengan Pakde hingga saya merasa sampai segininya sentimen.

Ini tentang Pakde. Saya belum mau membayangkan jika saya berada di posisi sepupu saya, menulis status media sosial mengenai hari-hari tanpa orangtuanya, mengenai mimpi yang ada orangtuanya, mengenai peninggalan orangtuanya, mengenai nasihat orangtuanya. Saya belum mau. Manusiawi, kan?

Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Meski begitu, saya ingin agar bisa menyempurnakan keluarga saya dengan cara saya. Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan dan ampunan Allah, aamiin.


PS: Saya tidak mau pasang foto, nanti baper. Sudah cukup bapernya ketika menulis ini saja.

Tidak ada komentar:

Club Cooee